Polda Sulsel Ungkap Identitas Dua Korban KM Nurul Salsa: Sidik Jari Cepat, DNA Jadi Pilihan Terakhir

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Polda Sulsel Ungkap Identitas Dua Korban KM Nurul Salsa: Sidik Jari Cepat, DNA Jadi Pilihan Terakhir
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim SARgabungan menemukan dua jasad yang diduga korban kapal KM Nurul Salsa setelah delapan hari pencarian.
  • Identifikasi dilakukan di RS Bhayangkara Makassar menggunakan sidik jari, dengan DNA sebagai cadangan bila jenazah tak utuh.
  • Polda Sulsel masih mengumpulkan data ante mortem untuk 16 korban yang belum ditemukan.

Makassar, 22 Juli 2026 – Tim SARgabungan yang memimpin pencarian selama delapan hari akhirnya menemukan dua jasad yang diyakini sebagai korban tenggelamnya KM Nurul Salsa. Kedua jenazah kini berada di RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi.

Kombes Pol M Haris, Kabid Dokkes Polda Sulsel, menjelaskan bahwa tim forensik akan memulai identifikasi dengan memeriksa sidik jari bila kondisi jasad memungkinkan. "Jika sidik jari masih dapat diambil, prosesnya akan jauh lebih cepat dan hasilnya dapat langsung diserahkan kepada keluarga," ujar Haris kepada wartawan.

Namun, Haris menambahkan, bila jenazah dalam kondisi terfragmentasi, tim akan beralih ke teknik DNA. "Kami akan mengandalkan sampel gigi atau jaringan lunak, lalu mencocokkannya dengan DNA keluarga terdekat," jelasnya.

Selain dua jasad yang sudah ditemukan, tim masih mengumpulkan data ante mortem untuk 16 korban yang belum teridentifikasi. "Kegiatan pengumpulan data di Selayar masih berlangsung intensif," kata Haris, menegaskan komitmen polisi untuk mengungkap seluruh nasib korban.

Analisis Pakar

Kasus KM Nurul Salsa menyoroti kegagalan koordinasi antara otoritas maritim, operator kapal, dan lembaga penyelamatan. Delapan hari pencarian yang memakan biaya dan tenaga belum menghasilkan identifikasi lengkap, menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan Polda Sulsel dalam menangani bencana laut berskala besar.

Penggunaan sidik jari sebagai metode utama memang efisien, namun mengandalkannya tanpa backup yang memadai dapat memperlambat proses bila jenazah rusak parah. Praktik standar internasional menekankan DNA sebagai prosedur utama sejak awal, mengingat kondisi laut yang keras dapat merusak jaringan kulit dan sidik jari secara signifikan.

Lebih jauh, kurangnya data ante mortem yang terpusat menghambat identifikasi. Pemerintah daerah dan lembaga terkait harus membangun basis data biometrik yang terintegrasi, sehingga ketika tragedi terjadi, proses verifikasi dapat dipercepat. Tanpa itu, keluarga korban akan terus menunggu kepastian yang seharusnya dapat diberikan dalam hitungan hari, bukan minggu.

Terakhir, transparansi informasi kepada publik masih minim. Media lokal melaporkan temuan secara sporadis, sementara keluarga korban mengeluhkan kurangnya komunikasi resmi. Polda Sulsel perlu mengadopsi kebijakan komunikasi krisis yang proaktif, menyediakan pembaruan rutin, dan melibatkan lembaga independen untuk mengaudit proses identifikasi demi menjaga kepercayaan publik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama proses identifikasi menggunakan sidik jari?
  • A: Jika sidik jari masih dapat diambil, proses dapat selesai dalam 24‑48 jam setelah sampel diperoleh.
  • Q: Mengapa DNA menjadi pilihan cadangan?
  • A: DNA dapat diambil dari jaringan yang terdegradasi, seperti gigi atau tulang, sehingga tetap memungkinkan identifikasi meski jenazah tidak utuh.
  • Q: Berapa jumlah korban KM Nurul Salsa yang masih belum ditemukan?
  • A: Hingga kini, 16 orang masih belum teridentifikasi dan masih dalam proses pencarian data ante mortem.