Basarnas Perluas Pencarian KM Nurul Salsa ke Sabalana dan Laut NTB: 16 Korban Masih Hilang

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Basarnas Perluas Pencarian KM Nurul Salsa ke Sabalana dan Laut NTB: 16 Korban Masih Hilang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim SAR gabungan memusatkan operasi pencarian korban KM Nurul Salsa ke wilayah Kepulauan Sabalana dan perairan Nusa Tenggara Barat.
  • Hingga hari kedelapan, 59 penumpang selamat, 3 jenazah ditemukan, dan 16 orang masih belum ditemukan.
  • Cuaca buruk dan gelombang tinggi menjadi kendala utama, namun Basarnas tetap menyesuaikan taktik demi keselamatan personel.

Makassar, 22 Juli 2026 – Operasi pencarian korban kapal penumpang KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kini meluas ke Kepulauan Sabalana dan zona laut Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa analisis data arus laut menunjukkan potensi objek hanyut bergerak ke arah barat, memaksa tim SAR menyesuaikan zona pencarian.

“Berdasarkan model hidrodinamika, kami memperkirakan sisa bangkai kapal dan barang-barang terapung dapat terbawa arus ke perairan NTB,” ujar Andi dalam konferensi pers Rabu (22/7). “Oleh karena itu, kami membagi area operasi menjadi dua sektor utama.”

Tim KN SAR Pacitan bersama Rigid Inflatable Boat (RIB) menelusuri bagian timur Kepulauan Sabalana, fokus pada pulau-pulau tak berpenghuni yang berpotensi menjadi tempat terdamparnya korban. Sementara itu, KLM Mattoangin mengawasi sektor barat, memastikan tidak ada titik buta di laut lepas.

Cuaca menjadi faktor penghambat. Gelombang tinggi dan angin kencang memaksa personel menurunkan kecepatan pencarian, namun tidak mengurangi intensitas operasi. “Keselamatan tim adalah prioritas utama. Kami menyesuaikan pola patroli agar tetap efektif tanpa menempatkan personel pada risiko yang tidak perlu,” tegas Andi.

Hingga kini, dari 78 orang yang berada di atas kapal, 59 telah selamat, tiga jenazah telah diidentifikasi, dan satu jenazah masih menunggu konfirmasi identitas dari tim DVI. Sisa 16 orang masih menjadi misteri, menunggu hasil pencarian lanjutan yang diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa respons Basarnas menunjukkan peningkatan koordinasi lintas wilayah yang jarang terlihat dalam bencana maritim di Indonesia. Namun, ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab: mengapa kapal berukuran menengah seperti KM Nurul Salsa masih dapat menembus zona rawan tanpa pengawasan ketat? Regulasi keselamatan laut tampaknya masih lemah, terutama dalam hal inspeksi teknis dan pelatihan awak kapal.

Selanjutnya, penggunaan data arus laut sebagai dasar penentuan zona pencarian merupakan langkah ilmiah yang patut diapresiasi. Namun, transparansi data tersebut masih minim. Publik berhak mengetahui metodologi yang dipakai, sehingga akuntabilitas dapat terjaga. Tanpa akses ke data tersebut, masyarakat hanya dapat menebak‑tebak apakah pencarian sudah optimal atau sekadar menunggu hasil yang menguntungkan pihak tertentu.

Kondisi cuaca yang ekstrem menyoroti perlunya investasi lebih besar pada peralatan SAR modern, seperti drone maritim dan kapal berkecepatan tinggi. Investasi dalam teknologi maritim dapat memperkuat kemampuan SAR.

Akhirnya, tragedi ini menegaskan kembali pentingnya edukasi keselamatan bagi penumpang. Banyak korban adalah warga lokal yang tidak menyadari risiko berlayar di perairan berarus kuat. Pemerintah daerah bersama lembaga swadaya masyarakat harus meluncurkan kampanye edukatif yang menyentuh, bukan sekadar poster informatif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban yang masih belum ditemukan?
    A: Saat ini 16 orang masih dalam status hilang dan pencarian terus berlanjut.
  • Q: Mengapa pencarian diperluas ke Nusa Tenggara Barat?
    A: Analisis arus laut menunjukkan sisa bangkai dan barang terapung dapat terbawa ke perairan NTB.
  • Q: Apa tantangan utama yang dihadapi tim SAR?
    A: Cuaca buruk, gelombang tinggi, dan keterbatasan peralatan SAR menjadi kendala utama.