Pemerintah Siapkan GBK Senayan Jadi 'Ikon Baru Jakarta', Ini Rencana Besar Masesneg!
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo mengungkap rencana pemerintah untuk merombak Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan agar menjadi pusat olahraga dan komersial internasional.
- Proyek ini bertujuan menggabungkan GBK dengan Jakarta Convention Center (JCC) serta menarik investor seperti Danantara dan InJourney.
- Pemerintah juga mencabut kontrak yang belum terealisasi dan mengambil alih pengelolaan Hotel Sultan setelah 50 tahun dikelola swasta.
Jakarta, 20 Juli 2023 – Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, kembali menjadi sorotan pemerintah setelah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo mengungkap rencana besar untuk mendesain ulang kawasan tersebut. Menurutnya, pemerintah ingin mengubah GBK menjadi destinasi olahraga dan komersial yang modern, tidak hanya untuk sepakbola tetapi juga cabang olahraga lain seperti akuatik dan tenis.
"Kita ingin GBK menjadi The New Icon of Jakarta yang mampu menyelenggarakan event internasional," ujar Pras di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7). Ia menjelaskan bahwa integrasi dengan Jakarta Convention Center menjadi prioritas, sekaligus menyebutkan bahwa pemerintah sedang menyempurnakan desain baru dan mencari investor strategis, termasuk dari sektor BUMN seperti Danantara dan InJourney.
Sejarah GBK sendiri dimulai dari pembangunan pada era Presiden pertama Sukarno sebagai fasilitas utama Asian Games 1962. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi simbol kemegahan bangsa, dengan renovasi terbaru pada Asian Games 2018. Terkini, pemerintah mengambil alih pengelolaan Hotel Sultan setelah 50 tahun dikuasai swasta melalui skema Hak Guna Bangunan (HGB).
Analisis Pakar
Rencana pemerintah untuk mendesain ulang GBK Senayan tampak ambisius, tetapi juga menimbulkan pertanyaan kritis. Pertama, apakah proyek ini benar-benar berpihak pada kepentingan publik atau hanya menjadi andalan politik? Kompleks GBK, yang dulunya menjadi simbol kemerdekaan dan kemegahan bangsa, kini berada di jalur pemindaian karena rencana integrasi dengan JCC. Jika tidak diatur dengan transparan, risiko konflik kepentingan antara pemerintah, investor swasta, dan kepentingan rakyat akan semakin besar.
Kedua, penggunaan istilah "Ikon Baru Jakarta" terdengar seperti retorika kosong tanpa konkretitas. Proyek infrastruktur besar seperti ini memerlukan investasi apik, namun jika hanya mengandalkan skema PPP (Public-Private Partnership) tanpa regulasi ketat, bisa jadi menjadi beban utang bagi negara. Selain itu, pencabutan kontrak yang belum dikerjakan juga perlu dipertanyakan: apakah ini karena kinerja vendor yang buruk, atau ada intervensi politik di baliknya? Hal ini juga menjadi perhatian dalam RUU Perampasan Aset yang menjadi polemik terkini.
Terakhir, pengambilan alih Hotel Sultan oleh negara setelah 50 tahun dikelola swasta menjadi bukti nyata ketidakberesan kebijakan Hak Guna Bangunan (HGB). Ini adalah momentum bagi pemerintah untuk mereformasi kebijakan agar tidak terjadi lagi penyerapan aset strategis oleh pihak tertentu. Namun, jika prosesnya tidak transparan, bisa jadi menjadi tameng untuk mengkonsolidasi kekuasaan di kawasan politik sentral Jakarta. Seperti yang ditekankan dalam pernyataan pemerintahan tentang korupsi, transparansi dalam pengelolaan aset publik menjadi krusial.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa tujuan utama pemerintah mendesain ulang GBK Senayan?
A: Untuk menjadikannya pusat olahraga dan komersial internasional yang modern, serta menggabungkan dengan Jakarta Convention Center. - Q: Siapa saja investor yang akan terlibat dalam proyek GBK?
A: Pemerintah menyebut investor dari dalam dan luar negeri, termasuk BUMN seperti Danantara dan InJourney. - Q: Mengapa pemerintah mengambil alih Hotel Sultan?
A: Hotel Sultan dikuasai swasta selama 50 tahun melalui HGB, dan pemerintah ingin mengembalikan kawasan GBK sebagai aset publik.
BERITA TERKAIT

Spanyol Gunting Jaring Gawang Usai Juara Dunia 2026: Tradisi yang Menggugah Semangat!

Rp100 Triliun Dana SAL Dialihkan ke Himbara: Ini Alasan Pemerintah dan Reaksi DPR
