Indonesia Targetkan Swasembada Susu: 20 Peternakan Modern Jadi Kunci Pengurangan Impor
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Minister Amran Sulaiman mengundang investor untuk mendirikan 20 peternakan sapi perah modern.
- Proyek PT Global Dairi Bersama di Brebes diproyeksikan menghasilkan 180 ribu ton susu segar per tahun.
- Indonesia masih mengimpor 80% kebutuhan susu (susu impor), membuka peluang investasi raksasa.
Setelah menandatangani peletakan batu pertama peternakan terpadu di Brebes, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa hanya dengan dua puluh fasilitas berskala besar, Indonesia dapat menurunkan ketergantungan pada susu impor dan bergerak menuju swasembada. Proyek PT Global Dairi Bersama direncanakan memproduksi 180.000 ton susu segar tiap tahun—sekitar 20 % dari total konsumsi nasional saat ini.
Angka impor susu yang masih berada di kisaran 3,6‑3,8 juta ton per tahun menjadi sinyal pasar yang jelas: ada ruang luas bagi investor, baik domestik maupun asing, untuk menancapkan modal di rantai nilai persusuan. Menteri menambahkan, proses perizinan akan dipercepat; "cukup kirim permohonan lewat WhatsApp, kami akan percepat," ujar Amran, menyingkirkan hambatan birokrasi yang biasanya menjadi penghalang.
Tak hanya fokus pada peternakan skala besar, pemerintah juga mengakui pentingnya memperkuat basis peternak rakyat. Dari sekitar 50 ribuan peternak sapi perah saat ini, target jangka panjang menuntut setidaknya 100 ribuan peternak produktif. Kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, BUMN, dan pemain swasta—dianggap kunci untuk menutup kesenjangan produksi.
CEO Savoria Group, Ihsan Mulia Putri, menegaskan komitmen perusahaan dengan melibatkan 5.000 petani hijauan, 7.000 ekor sapi jantan, serta 1.000‑2.000 peternak sapi perah dalam ekosistem terintegrasi. Langkah ini tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi petani lokal.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam inisiatif ini: pertama, dampak struktural pada neraca perdagangan. Mengurangi impor susu sebesar 80 % dapat menyumbang hingga US$ 1,5‑1,8 miliar per tahun ke surplus perdagangan, mengingat harga rata‑rata susu impor berada di kisaran US$ 600‑700 per ton. Kedua, efek multiplier pada sektor agribisnis domestik. Setiap ton susu yang diproduksi secara lokal menstimulasi rantai pasokan—pakan ternak, transportasi, pengolahan, dan distribusi—yang dapat menambah nilai tambah sebesar 30‑40 % dibandingkan dengan impor.
Namun, tantangan tidak hanya pada penyediaan modal. Ketersediaan lahan yang layak, akses air bersih, dan tenaga kerja terampil menjadi prasyarat mutlak. Pemerintah harus memastikan regulasi lahan tidak menimbulkan konflik agraria, serta menyediakan program pelatihan bagi peternak agar standar produktivitas modern dapat tercapai. Tanpa dukungan ini, investasi besar dapat berakhir pada "ghost farms" yang tidak beroperasi secara optimal.Selanjutnya, risiko harga susu global yang fluktuatif harus diantisipasi. Jika harga dunia turun drastis, peternakan modern dengan biaya produksi tinggi dapat kehilangan daya saing. Oleh karena itu, kebijakan subsidi pakan atau insentif pajak jangka panjang menjadi penting untuk menjaga margin keuntungan domestik.
Terakhir, sinergi antara peternakan skala besar dan peternak kecil harus dikelola secara terstruktur. Model kontrak kemitraan yang adil—misalnya bagi hasil 30 % untuk peternak kecil—akan memperkuat ekosistem dan mengurangi potensi monopoli. Jika semua elemen ini terkoordinasi, Indonesia tidak hanya akan mencapai swasembada susu, tetapi juga menciptakan ekosistem agribisnis yang resilient dan berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak peternakan modern yang dibutuhkan untuk mengurangi impor susu?
- A: Menteri Pertanian menyebutkan sekitar 20 peternakan berskala besar, masing‑masing mampu memproduksi 180.000 ton susu per tahun.
- Q: Apa saja insentif yang ditawarkan pemerintah untuk investor?
- A: Pemerintah menjanjikan percepatan perizinan, layanan legalitas via WhatsApp, serta potensi subsidi pakan dan insentif pajak bagi proyek yang memenuhi standar produksi.
- Q: Bagaimana proyek PT Global Dairi Bersama berkontribusi pada peternak lokal?
- A: Proyek tersebut akan melibatkan sekitar 5.000 petani hijauan, 7.000 ekor sapi jantan, dan 1.000‑2.000 peternak sapi perah, menciptakan rantai nilai yang inklusif.
BERITA TERKAIT

Spanyol Gunting Jaring Gawang Usai Juara Dunia 2026: Tradisi yang Menggugah Semangat!

Rp100 Triliun Dana SAL Dialihkan ke Himbara: Ini Alasan Pemerintah dan Reaksi DPR
