JPO Tendean Roboh Akibat Truk Crane, Kerugian Miliaran Rupiah! DKI Cari Jawaban dari Pemilik Truk

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

JPO Tendean Roboh Akibat Truk Crane, Kerugian Miliaran Rupiah! DKI Cari Jawaban dari Pemilik Truk
BAGIKAN:

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan, hancur akibat tertabrak truk bermuatan crane pada dini hari Selasa (14/7). Peristiwa mengerikan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kewaspadaan infrastruktur publik dan tanggung jawab pengguna jalan. Kerugian akibat kerusakan JPO diperkirakan mencapai miliaran rupiah, sementara proses pemulihan justru membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak sedikit.

Menanggapi kejadian, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, mengungkapkan bahwa Pemprov akan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk merehabilitasi JPO. Namun, ia juga menyebutkan akan mengusulkan mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR) jika perusahaan pemilik truk bersedia berpartisipasi. "Prioritas tetap APBD dan pemulihan aset negara," tegasnya.

Dari pemeriksaan awal, diduga sopir truk tersebut sedang menggunakan ponsel saat melintas. Andre (28), sopir yang mengaku baru melewati Jalan Tendean, mengakui dirinya fokus melihat aplikasi peta digital (Maps) sebelum terjadi kecelakaan. Ia mengaku tidak mengetahui kondisi jalan di sekitar lokasi. "Kita ini, kita 2 kilo (meter) lagi nyampe ini. Kita fokus lihat Maps," katanya saat ditemui di lokasi.

Truk yang berasal dari Summarecon Bogor ditujukan untuk mengantar alat berat ke Kejaksaan Agung di Kebayoran Baru. Akibat tabrakan, JPO miring hampir roboh, sementara truk beserta crane terjebak di bawahnya. Kecelakaan ini sempat memperparah kemacetan di wilayah tersebut hingga larut malam.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta kini menyusun perencanaan teknis kajian untuk merancang JPO baru yang lebih aman, termasuk penambahan pengamanan tinggi muatan. Namun, proses ini memerlukan waktu untuk memastikan struktur yang kokoh serta ramah pejalan kaki.

Analisis Mendalam: Infrastruktur yang Rapuh dan Tanggung Jawab yang Tidak Jelas

Kejadian JPO Tendean bukan sekadar kecelakaan semata, melainkan cerminan sistem infrastruktur yang terlantar dan regulasi yang kurang ketat. Fakta sopir menggunakan ponsel saat mengemudi menunjukkan minimnya pengawasan terhadap pengguna jalan berat. Di Indonesia, larangan penggunaan ponsel saat mengemudi sudah ada, tetapi penegakan hukumnya seringkali lemah. Apakah ini akan menjadi momentum bagi Pemprov untuk memperketat sanksi terhadap pelanggaran kewaspadaan diri?

Lebih mengkhawatirkan, kerugian miliaran rupiah justru dialihkan ke APBD publik. Ini adalah bukti nyata bahwa CSR belum menjadi solusi utama dalam mengatasi kerusakan akibat kelalaian perusahaan. Jika perusahaan logistik atau transportasi tidak transparan dalam menanggung biaya, siapa yang akan memikul beban biaya tersebut? Rakyat Jakarta tentunya tidak ingin kembali ke situasi di mana "pemulihan aset negara" justru menjadi beban fiskal yang tidak perlu.

Secara teknis, penambahan pengamanan tinggi muatan di JPO baru adalah langkah tepat. Namun, pertanyaannya: mengapa hal ini baru dikonsiderasikan setelah terjadi bencana? Di kota-kota lain seperti Surabaya atau Bandung, pengamanan semacam ini sudah menjadi standar. Jakarta, sebagai ibu kota, seharusnya lebih proaktif dalam mencegah risiko, bukan hanya responsif setelah terjadi kerusakan.

Tidak lama lagi, Jakarta akan menjadi sorotan dunia dengan event-event besar seperti Piala Dunia U-20 2025. Jika infrastruktur dasar seperti JPO masih rentan hancur, bagaimana citra kota yang ingin ditonjolkan sebagai kota modern dan aman? Pemprov harus memastikan bahwa setiap rupiah di APBD digunakan secara optimal, bukan hanya untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.