AS Siap Invasi Pulau Iran? Trump Buka Ruang untuk Operasi Amfibi Besar-besaran!

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

AS Siap Invasi Pulau Iran? Trump Buka Ruang untuk Operasi Amfibi Besar-besaran!
BAGIKAN:

Jakarta, CNBC Indonesia – Spekulasi tentang operasi invasi Amerika Serikat (AS) ke pulau-pulau strategis Iran kembali merebak setelah serangan terhadap Pulau Qeshm, Kish, Abu Musa, dan kota pelabuhan Bandar Abbas. Meski AS memiliki kemampuan militer untuk melakukan hal ini, analis memperingatkan risiko perang darat yang jauh lebih besar dan mahal.

Pada Maret lalu, dua pejabat AS mengungkapkan rencana operasi terhadap Pulau Kharg, jalur ekspor 90% minyak mentah Iran. Isu ini kembali naik setelah Presiden AS Donald Trump menolak menutup kemungkinan operasi tersebut dalam wawancara dengan Fox News. Trump menyatakan, “Saya tidak bisa mengatakan itu kepada Anda karena jika saya melakukannya, itu akan menjadi tindakan yang bodoh.” Ungkapan ini memicu pertanyaan: apakah ancaman ini retorika politik atau strategi nyata?

Andreas Krieg, profesor keamanan di King’s College London, menyatakan AS secara taktis mampu merebut pulau kecil Iran dengan dukungan kekuatan udara, laut, dan pasukan amfibi. Namun, ia memperingatkan bahwa merebut pulau jauh lebih rumit daripada mempertahankannya. Pulau Qeshm, yang menempel langsung di daratan Iran, menjadi sasaran paling sulit karena ukurannya besar dan rentan serangan artileri, drone, serta rudal Iran.

Menurut Nader Hashemi, profesor politik Timur Tengah di Universitas Georgetown, AS mampu secara logistik menduduki pulau-pulau tersebut. Namun, biaya operasi justru menjadi kendala utama. Krieg memperkirakan operasi terbatas membutuhkan 5.000–10.000 personel, termasuk pasukan tempur, pertahanan udara, insinyur, logistik, dan medis. Jumlah ini bisa meningkat drastis jika beberapa pulau menjadi target atau operasi melampaui fase awal.

Jika AS benar-benar merebut pulau-pulau Iran, Iran kemungkinan akan meningkatkan penanaman ranjau di Selat Hormuz dan menyerang kapal dagang serta pangkalan militer AS. Hashemi menilai skenario ini sangat kecil kemungkinannya, karena membutuhkan pengeboman intensif yang belum terlihat. Namun, jika terjadi, konflik akan berubah dari isu kebebasan pelayaran menjadi perang perebutan wilayah.

Analisis Pakar: Risiko Strategis dan Dampak Ekonomi Global

Dari perspektif ekonomi makro, operasi invasi AS ke pulau-pulau Iran bukan hanya tantangan militer, tetapi juga ledakan biaya yang dapat merebak ke seluruh rantai pasok global. Pulau Kharg, yang menjadi jalur kritis 90% ekspor minyak Iran, jika jatuh ke tangan AS, akan menjadi simbol kemenangan simbolis. Namun, menjaga wilayah tersebut membutuhkan komitmen jangka panjang yang mahal. AS harus menyiapkan anggaran untuk menyediakan logistik, pertahanan udara, dan pasukan amfibi yang terus-menerus menghadapi ancaman serangan. Biaya ini tidak hanya akan membebani APBN AS, tetapi juga menciptakan tekanan inflasi global akibat gangguan pasok energi.

Dari sudut pandang bisnis, risiko utama adalah ketidakpastian pasar energi. Iran telah menjadi salah satu produsen minyak dunia, dan gangguan ekspor melalui Selat Hormuz akan langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Pasar keuangan global akan reaksi cepat: indeks saham di Asia dan Eropa bisa turun, sementara investor akan beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi. Perusahaan pelayaran internasional juga akan menghindari Selat Hormuz, memaksa rute alternatif yang jauh lebih mahal dan memakan waktu. Premi asuransi kapal bisa melonjak 200–300%, menambah beban biaya bagi negara-negara yang bergantung pada lalu lintas kelautan.

Geopolitik juga menjadi faktor krusial. Jika AS menduduki pulau-pulau Iran, hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UAE, dan Kuwait akan terancam. Mereka yang sebelumnya mendukung AS dalam upaya membuka Selat Hormuz mungkin akan enggan menjadi basis operasi militer. Iran, sebagai negara dengan tradisi militer yang kuat, bisa memanfaatkan strategi asimetri seperti serangan rudal hipersonik, drone, dan penanaman ranjau untuk membuat Selat Hormuz tidak kondusif. Ini akan memperparah ketegangan, bahkan mungkin memicu konflik yang melibatkan pasukan militer AS di daratan Iran.

Dari perspektif sejarah, operasi semacam ini mengingatkan pada invasi Kuwait pada 1991. Meski AS berhasil merebut Kuwait dari Iraq, biaya politik dan militer sangat tinggi. Di Iran, geografi yang lebih kompleks dan keberanian militer yang lebih besar membuat risiko lebih mengkhawatirkan. Jika AS terperangkap dalam operasi darat, investasi militer AS di kawasan yang sudah tinggi akan tertekan, sementara China dan Rusia bisa memanfaatkan situasi untuk memperkuat posisi mereka di Timur Tengah. Akibatnya, stabilitas global bisa terhakis, terutama di wilayah yang menjadi jantung geopolitik dunia.