Trump's Threat to Strike Iran's Hidden Nuclear Fortress: What's at Stake?

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Trump's Threat to Strike Iran's Hidden Nuclear Fortress: What's at Stake?
BAGIKAN:

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperlihatkan sikap agresif terhadap Iran dengan mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain, sebuah fasilitas nuklir bawah tanah yang diyakini menjadi inti dari program senjata nuklir Iran. Pernyataan ini diucapkan dalam wawancara pada 13 Juli di acara Hugh Hewitt Show, menambah dinamika ketegangan yang sudah membara antara keduanya sejak awal Juli 2024.

Pickaxe Mountain terletak di 220 kilometer sebelah selatan Teheran, hanya 2 kilometer dari kompleks nuklir Natanz, salah satu situs paling sensitif Iran. Fasilitas ini dibangun setelah serangan sabotase pada Februari 2020 yang menghancurkan pabrik pengayaan uranium di Natanz. Menurut Ali Akbar Salehi, mantan kepala program nuklir Iran, pembangunan gedung tinggi teknologi di dalam gunung ini dimaksudkan untuk memproduksi sentrifugal canggih yang diperlukan untuk program nuklir.

Menurut Institute for Science and International Security (ISIS), Pickaxe Mountain memiliki dua terowongan masuk yang diasumsikan mengarah ke fasilitas yang berada 100 meter di bawah permukaan. ISIS juga melaporkan bahwa pintu masuk di sebelah timur sudah diurug sejak perang AS-Iran pecah, sebagai upaya Iran memperkuat pertahanan. Namun, ahli memperkirakan situs ini masih beroperasi di bawah pengawasan ketat, dengan aktivitas yang diabaikan oleh pengamat karena ketidakpastian strategis.

Rafael Grossi, kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah mengumumkan niatnya untuk melakukan aktivitas nuklir di lokasi ini. "Ini adalah bagian dari niat sistematis Iran untuk menyembunyikan fasilitas paling sensitif mereka di bawah tanah," ujarnya. Sementara itu, peneliti Sam Lair dari Foreign Policy Research Institute menilai bahwa Iran tetap berupaya melanjutkan pembangunan, meski khawatir akan ancaman serangan AS-Israel.

Pickaxe Mountain diperkirakan berada di luar jangkauan bom bunker paling canggih AS, seperti B61-12 atau senjata penetrasi seperti GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator. ISIS menilai situs ini lebih rentan terhadap serangan pasukan khusus atau sabotase, tetapi juga mungkin bisa dihancurkan dengan senjata penembus kedalaman tinggi. Trump mengklaim bahwa ia tidak melihat aktivitas di situs ini, tetapi menambahkan bahwa "setiap kali kami mendengar tentang itu, kami meledakkannya".

Analisis Mendalam: Strategi Iran di Balik Penembusan Bawah Tanah

Pickaxe Mountain bukan sekadar target geografis, tetapi simbol dari pergeseran strategi Iran dalam menghadapi tekanan internasional. Dengan menggali kedalaman 100 meter, Iran mengikuti jejak negara-negara seperti Korea Utara dan Pakistan yang membangun fasilitas bawah tanah untuk menghindari deteksi dan serangan udara. Keputusan ini mencerminkan kekhawatiran Iran akan serangan sabotase berulang, seperti yang terjadi di Natanz pada 2020, di mana ledakan menghentikan produksi sentrifugal selama beberapa bulan. Strategi ini juga menunjukkan bahwa Iran kini lebih fokus pada pengembangan teknologi nuklir yang terdesentralisasi dan tersembunyi, bukan hanya pada skala produksi besar.

Namun, ancaman Trump tidak bisa diabaikan. Jika AS benar-benar melancarkan serangan, ini akan menjadi ujian terberat bagi kemampuan militernya dalam menghancurkan target bawah tanah. Selain itu, serangan semacam ini bisa memperparah ketegangan di Timur Tengah, memicu respons militer Iran yang mencakup serangan terhadap pusat-pusat AS di wilayah tersebut. Yang lebih penting, tindakan ini bisa menggoyahkan upaya diplomasi kembali ke meja negosiasi, terutama mengingat Iran kini sedang dalam proses pemulihan program nuklirnya setelah keluar dari Perjanjian Pembatasan Kemajuan Nuklir (JCPOA).

Dari perspektif teknis, Pickaxe Mountain mungkin belum beroperasi penuh. ISIS menyebutkan bahwa program sentrifugal Iran masih terhambat akibat hancurnya fasilitas manufaktur komponen. Namun, jika Iran berhasil merekonstruksi kemampuan tersebut, fasilitas kecil di Pickaxe Mountain bisa menjadi langkah awal menuju program senjata nuklir. Ini membuat situs ini menjadi target prioritas bagi AS, yang tak ingin Iran mendekati titik "breakout"—kemampuan untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir dalam waktu singkat.

Dari sudut pandang geopolitik, ancaman Trump juga mencerminkan dinamika internalnya. Dengan pemilihan presiden AS 2024 yang semakin ketat, Trump mungkin ingin memperlihatkan sikap tegas terhadap Iran untuk memperkuat basis pemilihnya. Namun, langkah ini berisiko besar. Jika serangan gagal atau menimbulkan korban sipil, ini bisa memperkuat narasi Iran bahwa AS adalah ancaman utama, sekaligus memicu dukungan publik global untuk sisi Iran. Di sisi lain, keberhasilan serangan bisa mempercepat perundingan, tetapi juga memperlihatkan bahwa AS kini lebih mengandalkan kekuatan daripada diplomasi.