Müller Bonggakar: England Takut Menyerang Setelah Unggul, Argentina Manfaatkan Kesalahan Fatal Ini!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Atlanta, Amerika Serikat – Dalam sebuah aksi yang mempertontonkan ironi taktik sepak bola, Inggris justru kehilangan kendali atas pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina setelah berhasil unggul dulu. Mantan pengganda timnas Jerman, Thomas Müller, tidak bisa menahan rasa keterkejutan saat menyaksikan permainan The Three Lions yang perlahan menjadi terlalu defensif setelah gol Anthony Gordon pada menit ke-55.
"Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti bagaimana Inggris menyikapi pertandingan ini, terutama setelah mereka sempat unggul," ujar Müller dalam video yang diunggah di Instagram-nya. Ia menambahkan, "Saya tidak paham mengapa mereka membiarkan Argentina terus-menerus melepaskan umpan silang dari posisi yang sangat ideal. Sulit untuk memahaminya." Komentar itu seolah menggugat filosofi taktikal Thomas Tuchel yang terkesan kontraproduktif di babak kedua.
Setelah Gordon memberikan keunggulan, Tuchel mulai mengganti strategi dengan memasukkan Ezri Konsa, Reece James, dan Dan Burn untuk memperkuat lini belakang. Namun, justru keputusan itu malah memperlebar celah bagi Argentina. La Albiceleste pun akhirnya berhasil membalikkan keadaan menjadi 2-1 berkat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez, mengirim Inggris pulang lebih awal dari yang diharapkan.
Data dari Fotmob semakin menguatkan klaim Müller. Pada babak kedua, penguasaan bola Inggris anjlok drastis hanya menjadi 28% berbanding 72% milik Argentina. Bahkan di babak pertama, meski skor masih 0-0, Inggris hanya unggul tipis dengan 45% kendali. Tapi setelah unggul, Tuchel justru memilih untuk 'mengunci' permainan, seolah takut mengambil risiko. Padahal, Argentina yang terkenal dengan kemampuan menyerang cepat justru lapar akan ruang di area mereka.
Analisis Pakar: Taktik Tuchel vs. Mentalitas Menang
Tidak bisa dipungkiri, keputusan Tuchel untuk beralih ke taktik bertahan setelah unggul adalah salah satu faktor utama kegagalan Inggris. Di dunia sepak bola modern, khususnya di level Piala Dunia, menyerang bukan hanya tentang mencetak gol—ia juga tentang mengontrol psikologi lawan. Ketika Inggris memilih untuk 'bertahan', ia seolah memberikan sinyal lemah yang ditangkap oleh Argentina. Lionel Scaloni justru memanfaatkan celah itu dengan mengganti formation menjadi lebih agresif, memaksa Inggris untuk terus mundur.
Sejauh ini, Tuchel terlihat terlalu berfokus pada 'menghindari kegagalan' alih-alih 'mencapai kemenangan'. Ini adalah pola yang sering kali dianggap sebagai 'syndrome taktik defensif' yang membuat tim kehilangan identitas. Inggris punya potensi besar dengan pemain seperti Phil Foden, Bukayo Saka, dan Gordon, tetapi Tuchel justru memperlakukan mereka seperti 'pistol yang tidak pernah ditembak'. Di babak pertama, Gordon sudah menunjukkan bahwa ia bisa menjadi ancaman di sisi kanan, tetapi setelah gol, ia malah diarahkan untuk mundur, seolah menyerang adalah 'bahaya' yang harus dihindari.
Argentina sendiri patut diacungi jempol. Meski awalnya terlihat 'tidak utuh', Scaloni berhasil menemukan solusi di babak kedua. Dengan memindahkan Enzo Fernandez ke posisi yang lebih maju dan memaksa Argentina untuk menyerang melalui sayap, ia berhasil menciptakan dominasi yang tak terbendung. Gol-gol keduanya adalah hasil dari ketekunan fisik dan mental yang luar biasa, serta kemampuan membaca ruang yang sangat baik. Ini adalah contoh bagaimana tim yang 'dianggap ketinggalan zaman' justru bisa mengalahkan tim yang mengklaim sebagai 'juara masa depan'.
Bagi Inggris, ini adalah pelajaran berharga. Jika Tuchel ingin membawa tim ini ke panggung yang lebih tinggi, ia harus belajar menggabungkan kestabilan taktik dengan keberanian untuk menyerang. Di Piala Dunia, tidak ada tempat untuk 'main aman'. Argentina telah membuktikan bahwa keberanian dan adaptasi adalah kunci. Pertanyaan selanjutnya: apakah Tuchel siap mengubah pola pikirnya, atau akan terus-terusan menjadi 'pelopor kegagalan' di level tertinggi?
BERITA TERKAIT

Maju Pesat! 4 Wakil Indonesia Gemparkan Japan Open 2026, Ini Detailnya!

Neraka di Rumah Sendiri: 9 Tahun IA (22) 'Dijadikan Budak Nafsu' Ayah dan Paman di Bekasi, Pelaku Masih Berkeliaran
