GIIAS 2026 Menggebrak: 10 Merek Baru, 65 Brand, Teknologi Futuristik Siap Mengguncang Indonesia!
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 kembali digelar dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 65 merek akan menurunkan tirai di ICE BSD mulai 30 Juli hingga 9 Agustus, termasuk sepuluh brand yang baru pertama kali melangkah ke panggung ini. Ini bukan sekadar pameran, melainkan arena pertempuran teknologi otomotif, di mana EV, hybrid, dan platform modular bersaing untuk merebut hati konsumen Indonesia.
Anton Kumonty, Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara GIIAS, menegaskan bahwa kehadiran 10 merek baru menandai era baru bagi industri otomotif nasional. "Tahun ini akan menjadi penyelenggaraan GIIAS dengan merek yang tidak hanya terbanyak namun juga terlengkap," ujarnya di Jakarta, Senin (13/7). Sementara Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyoroti antusiasme luar biasa dari para peserta, yang mencerminkan daya tarik kuat pasar otomotif Indonesia.
Mobil Penumpang – 43 Merek, 100+ Model
- Aletra, Audi, BAIC, BMW, BYD – menampilkan varian listrik dan plug‑in hybrid dengan sistem baterai berkapasitas 70‑100 kWh.
- Changan, Chery, Citroen, Daihatsu, DFSK – fokus pada platform modular yang memudahkan adaptasi ke pasar ASEAN.
- Ford, GAC Indonesia, Geely, GWM, Honda – meluncurkan generasi terbaru mesin turbocharged 1.5‑2.0 L serta sistem infotainment berbasis Android Automotive OS.
- Hyundai, Jaecoo, Jeep, Jetour, KIA – menonjolkan teknologi konektivitas 5G, serta paket bantuan pengemudi tingkat 3 (ADAS Level 3).
- Leapmotor, Lepas, Lexus, Maxus, Mazda – memperkenalkan konsep mobil listrik dengan arsitektur skateboard chassis.
- Mercedes‑Benz, MG, MINI, Mitsubishi Motors, Nissan – menampilkan varian hybrid plug‑in dengan output total hingga 300 hp.
- Polytron, Subaru, Suzuki, Solarky, Toyota – mengusung powertrain mild‑hybrid 48 V untuk efisiensi bahan bakar.
- VinFast, Volkswagen, Volvo, Wuling, Xpeng, Zeekr, BAW, iCar – menampilkan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi, termasuk layanan charging jaringan cepat (350 kW).
Kendaraan Komersial – 7 Merek
- DFSK, Farizon, Hino, Isuzu, Mitsubishi Fuso, SAG, UD Trucks – menampilkan truk ringan dengan sistem telematika IoT, serta opsi powertrain diesel‑to‑electric conversion.
Sepeda Motor – 13 Merek
- Alva, Astra Honda Motor, BMW Motorrad, Can‑am, Exotic, Harley‑Davidson, Kupprum, NUV, Pacific e‑bike, Polytron, Royal Enfield, Scomadi, Triumph – menampilkan motor sport, cruiser, serta skuter listrik dengan motor hub‑less dan baterai solid‑state.
Karoseri – 5 Perusahaan
- Adiputro, Laksana, New Armada, Piala Mas, Tentrem – menampilkan bodi bus kota berlapis aluminium, serta konsep kendaraan khusus (special purpose vehicle) berbasis EV.
Analisis Pakar
Sebagai reviewer otomotif yang telah menelusuri setiap sudut pasar Indonesia selama lebih dari satu dekade, saya melihat GIIAS 2026 bukan sekadar ajang pamer, melainkan titik balik strategis bagi ekosistem mobilitas nasional. Kehadiran sepuluh merek baru, terutama dari China dan Vietnam, menandakan pergeseran geopolitik dalam rantai pasokan otomotif. Brand seperti BYD, Xpeng, dan Zeekr tidak hanya membawa EV berkapasitas tinggi, tetapi juga menguji infrastruktur pengisian cepat yang selama ini menjadi bottleneck di Indonesia.
Teknologi ADAS Level 3 yang akan dipamerkan oleh KIA, Hyundai, dan Mercedes‑Benz menandakan bahwa regulasi lalu lintas Indonesia harus segera menyesuaikan diri. Tanpa kerangka hukum yang mendukung, fitur-fitur canggih ini akan terkurung pada mode demo di showroom. Saya berharap otoritas terkait, termasuk Kementerian Perhubungan, dapat mempercepat uji coba lapangan dan sertifikasi kendaraan otonom.
Di sisi komersial, transisi truk diesel ke platform hybrid‑electric yang diusung oleh Isuzu dan Hino menjadi sinyal kuat bahwa logistik kota akan mengalami revolusi energi dalam lima tahun ke depan. Namun, tantangan terbesar tetap pada jaringan pengisian daya yang masih terfragmentasi. Investor harus melihat peluang ini sebagai greenfield project untuk membangun stasiun pengisian cepat di jalur‑jalur utama, khususnya di Pulau Jawa.
Terakhir, segmen sepeda motor listrik yang dipenuhi oleh brand seperti Pacific e‑bike dan NUV menunjukkan bahwa konsumen muda Indonesia sudah siap beralih ke mobilitas ramah lingkungan. Namun, daya tahan baterai, jaringan layanan purna jual, dan harga masih menjadi faktor penentu adopsi massal. Saya menilai bahwa dalam tiga tahun ke depan, motor listrik akan menguasai 15‑20% pasar roda dua jika produsen dapat menurunkan harga di bawah Rp30 juta per unit.
Kesimpulannya, GIIAS 2026 bukan sekadar pameran, melainkan laboratorium inovasi yang akan menentukan arah industri otomotif Indonesia selama dekade berikutnya. Bagi para penggemar, ini adalah kesempatan langka untuk menyentuh, menguji, dan menilai teknologi yang akan menjadi standar baru di jalan‑jalan kita.
BERITA TERKAIT

Pertamina Gandakan Kapasitas Gardu Libo: Apa Dampaknya bagi Produksi Rokan dan Keamanan Energi Nasional?

Trump Kembali Aktifkan Blokade Iran, Tuntut 20% Tarif Keamanan di Selat Hormuz
