Gagal Total di Era Lalu, Pramono Anung Kembali Siapkan 'Rumah Kedua' bagi Lansia Jakarta: Sekadar Wacana atau Komitmen Nyata?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gagal Total di Era Lalu, Pramono Anung Kembali Siapkan 'Rumah Kedua' bagi Lansia Jakarta: Sekadar Wacana atau Komitmen Nyata?
BAGIKAN:

JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk pembangunan ibu kota yang seringkali mengabaikan kelompok rentan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo melontarkan sinyal baru yang patut dicermati. Menyadari bahwa Jakarta kini menjadi rumah bagi 1,16 juta jiwa lanjut usia atau sekitar 10,6 persen dari total populasi, Pemprov DKI berencana membangun kembali ruang berkumpul khusus bagi para lansia.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Ke-30 di Jakarta Bird Land, Ancol, Selasa, Pramono menegaskan bahwa interaksi sosial adalah kunci utama untuk memperpanjang harapan hidup dan menjaga produktivitas para senior. "Memang pertemuan-pertemuan yang seperti itu membuat umur panjang, membuat merasa dirinya bermanfaat dan produktif," ujarnya dengan nada meyakinkan.

Namun, di balik janji manis ini, tersimpan catatan kelam yang tak bisa diabaikan. Pramono secara terang-terangan mengakui bahwa sebelumnya Pemprov DKI pernah menyediakan lahan serupa, namun ironisnya, lokasi tersebut akhirnya tergusur dan dialihfungsikan menjadi "sekolah rakyat." Pengakuan ini memunculkan pertanyaan tajam: seberapa kuat komitmen pemerintah daerah kali ini untuk memastikan bahwa ruang bagi lansia tidak lagi menjadi tumbal demi kepentingan sektoral lain yang lebih "populer"?

Menjelang usia Jakarta yang menginjak lima abad, narasi pembangunan kota tidak lagi sekadar tentang beton dan vertikalitas. Pramono menekankan bahwa kota ini harus inklusif bagi seluruh generasi. Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari Forum Komunikasi Lanjut Usia (FKLU), dunia usaha, hingga tenaga kesehatan, untuk berkolaborasi. "Kata kuncinya adalah lansia di Jakarta merasa memiliki harapan," tegasnya, menekankan bahwa semangat hidup jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan materi semata.

Analisis Mendalam: Di Balik Rencana "Rumah Harapan" dan Tantangan Implementasinya

Sebagai jurnalis yang telah lama mengawasi roda pemerintahan di ibu kota, saya melihat pengumuman Gubernur Pramono ini sebagai langkah yang benar, namun datang terlambat dan sarat akan tantangan struktural. Fakta bahwa fasilitas lansia sebelumnya harus dikorbankan untuk "sekolah rakyat" adalah indikasi kuat bahwa dalam hierarki prioritas birokrasi DKI, kelompok lansia seringkali berada di urutan bawah. Ini adalah kegagalan perencanaan tata ruang yang tidak bisa ditutup-tutupi. Pertanyaannya bukan lagi "apakah" mereka akan membangun, melainkan "bagaimana" mereka menjamin keberlanjutan aset tersebut agar tidak kembali tergusur oleh proyek-proyek infrastruktur lain yang lebih mencolok secara visual.

Kita juga harus kritis terhadap konsep "tempat pertemuan." Jangan sampai ini hanya menjadi bangunan fisik yang megah di atas kertas, namun kosong fungsinya di lapangan. Lansia modern di Jakarta bukan sekadar warga yang butuh tempat duduk; mereka adalah bank pengetahuan dan pengalaman. Ruang yang direncanakan harus didesain sebagai pusat pemberdayaan, bukan sekadar panti jompo sosial. Apakah akan ada program inkubasi usaha kecil untuk lansia? Apakah akan ada sistem mentoring antar-generasi? Tanpa program kurasi yang matang, gedung itu hanya akan menjadi monumen kesia-siaan anggaran.

Selanjutnya, mari kita lihat dari sisi anggaran dan transparansi. Jakarta sedang berjuang dengan berbagai beban fiskal. Mengalokasikan dana untuk pembangunan baru di tengah tekanan ekonomi membutuhkan justifikasi yang sangat kuat. Masyarakat sipil dan media harus mengawasi proses lelang dan pembangunan ini dengan mata elang. Jangan sampai proyek "kemanusiaan" ini justru menjadi lahan basah bagi korupsi yang berkedok pembangunan fasilitas sosial. Pramono Anung seringkali dianggap sebagai politisi yang lihai berkomunikasi, namun dalam kasus ini, yang dibutuhkan adalah bukan retorika yang manis, melainkan bukti implementasi yang keras dan tegas.

Terakhir, narasi tentang "harapan" yang disuarakan Pramono adalah fondasi filosofis yang tepat, namun ia harus diiringi dengan kebijakan yang ramah lansia di sektor lain. Apa artinya memiliki tempat berkumpul jika transportasi umum masih tidak ramah kursi roda? Apa artinya berharap produktif jika akses kesehatan yang terjangkau masih sulit didapat? Integrasi kebijakan adalah kuncinya. Jika Gubernur serius menjadikan Jakarta kota yang ramah untuk semua usia, maka "Rumah Harapan" bagi lansia ini harus menjadi permulaan dari revolusi kebijakan, bukan sekadar proyek percontohan yang akan dilupakan begitu saja setelah seremoni peresmian usai.