Bupati Lampung Barat Desak Inovasi Sekolah Kopi: Janji Besar, Tantangan Nyata
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Parosil Mabsus, Bupati Lampung Barat (Lambar), menegaskan kembali pentingnya inovasi dalam pengelolaan Sekolah Kopi sebagai magnet edukasi sekaligus promosi kopi robusta daerah. Pernyataan itu disampaikan lewat telepon dari Lampung Selatan pada Selasa, menandai upaya pemerintah daerah memperkuat citra wisata agrikultur.
"Saya meminta Dinas Perkebunan bersama OPD terkait terus berinovasi. Ciptakan programâprogram yang menarik, kegiatan edukasi yang kreatif, maupun event yang mampu menarik minat masyarakat untuk datang ke Sekolah Kopi," ujar Bupati. Ia menambahkan bahwa Sekolah Kopi bukan sekadar tempat belajar, melainkan etalas potensial robusta Lampung Barat yang harus terus dipoles agar dikenal baik oleh warga maupun wisatawan.
Menurut data resmi, Lampung Barat menguasai sekitar 55.000 hektar lahan kopi robustaâseluruhnya dikelola petani lokalâdengan produksi tahunan mencapai 50.000â60.000 ton biji kopi. Dengan skala produksi itu, potensi ekonomi yang dapat digali lewat edukasi, tur, dan event kopi seharusnya signifikan.
Namun, Bupati juga memperingatkan agar fasilitas yang ada tidak berakhir menjadi âhanya sekadar tempat biasaâ. Ia menekankan perlunya pembaruan program berkelanjutan agar kunjungan meningkat dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat setempat. "Jangan sampai fasilitas yang sudah terjaga baik selama ini hanya berjalan biasaâbiasa saja," tegasnya.
Selain inovasi program, Parosil menekankan standar pelayanan: kebersihan, keramahan, dan profesionalisme. "Jagalah fasilitas yang sudah dibangun ini seperti milik sendiri," katanya, menegaskan bahwa pengalaman pengunjung harus berkesan untuk mendorong kunjungan berulang.
Opini Mendalam
Di balik retorika inovasi, terdapat pertanyaan krusial: apakah pemerintah daerah memiliki kapasitas teknis dan anggaran yang memadai untuk mengubah Sekolah Kopi menjadi destinasi kelas dunia? Selama ini, sebagian besar program pelatihan dan event kopi di Indonesia masih bergantung pada sponsor swasta atau lembaga donor. Tanpa dukungan keuangan yang stabil, inisiatif inovatif berisiko menjadi proyek jangka pendek yang cepat pudar.
Selanjutnya, fokus pada âinovasiâ tidak boleh mengaburkan kebutuhan dasar petani kopi robusta di Lampung Barat. Selama dekade terakhir, petani menghadapi tekanan harga global, perubahan iklim, dan serangan hama. Jika inovasi di Sekolah Kopi hanya berorientasi pada wisatawan tanpa mengintegrasikan transfer teknologi pertanian yang relevan, maka manfaat ekonomi yang dijanjikan akan terfragmentasi dan tidak merata.
Selain itu, transparansi dalam perencanaan dan pelaksanaan program menjadi faktor penentu keberhasilan. Pengawasan independen dari lembaga akademik atau LSM pertanian dapat memastikan bahwa setiap dana yang dialokasikan untuk program edukasi, fasilitas, atau event tidak disalahgunakan. Tanpa mekanisme akuntabilitas yang kuat, janji-janji inovatif berpotensi menjadi retorika politik semata.
Terakhir, potensi ekspor kopi robusta Lampung Baratâyang sudah diakui di pasar internasionalâharus dimanfaatkan secara sinergis dengan Sekolah Kopi. Menggabungkan pelatihan kualitas biji, sertifikasi organik, dan branding bersama wisata edukatif dapat menciptakan ekosistem nilai tambah yang berkelanjutan. Jika pemerintah mampu menghubungkan ketiga pilar iniâinovasi program, peningkatan kualitas produksi, dan pemasaran strategisâmaka Sekolah Kopi dapat bertransformasi menjadi motor pertumbuhan ekonomi regional, bukan sekadar atraksi wisata semata.
BERITA TERKAIT

S&P Pertahankan Rating Indonesia: Momentum atau Peringatan Bagi Pemerintah?

Kecelakaan Truk Alat Berat di JPO Tendean Bikin Macet Parah: Polisi Pakai Rekayasa Lalu Lintas untuk Redam Krisis
