Mengejar Standar Global: Mampukah KOI Ubah 'Budaya' Perlindungan Atlet dari Sekadar Formalitas?

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Mengejar Standar Global: Mampukah KOI Ubah 'Budaya' Perlindungan Atlet dari Sekadar Formalitas?
BAGIKAN:

JAKARTA – Komite Olimpiade Indonesia (KOI) kembali menegaskan komitmennya dalam membenahi sistem perlindungan atlet melalui partisipasi aktif dalam IWF Global Summit on Women & Sport 2026 yang digelar di Birmingham, Inggris, pada 9-11 Juli lalu.

Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat implementasi Safeguarding—sebuah mekanisme perlindungan atlet dari segala bentuk kekerasan, pelecehan, dan diskriminasi—agar selaras dengan standar internasional yang diterapkan dalam Gerakan Olimpiade global.

Pejabat Safeguarding KOI, Tabitha Sumendap, mengungkapkan bahwa forum internasional tersebut menjadi katalisator bagi KOI untuk mengadaptasi berbagai praktik terbaik dalam menciptakan lingkungan olahraga yang aman. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menggeser paradigma safeguarding agar tidak hanya berhenti pada lembaran regulasi di atas kertas, melainkan menjelma menjadi budaya organisasi yang mengakar.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi Kesetaraan Gender, Keberagaman, dan Inklusi KOI, Zavnura Pingkan, menekankan bahwa isu kesetaraan gender bukan lagi sekadar "agenda tambahan" atau pelengkap administratif. Dalam tata kelola olahraga modern, ekuitas gender dan inklusivitas adalah pilar utama yang menentukan kualitas manajemen sebuah organisasi olahraga.

Selama tiga hari pelaksanaan summit, delegasi Indonesia terlibat dalam diskusi strategis mengenai kepemimpinan perempuan, kebijakan gender, inovasi investasi, hingga kolaborasi lintas negara. Fokus utamanya adalah menciptakan perubahan berkelanjutan bagi atlet perempuan dan anak-anak, guna memastikan mereka dapat berkompetisi tanpa rasa takut akan ancaman keamanan maupun diskriminasi sistemik.

Analisis Redaksi: Antara Diplomasi Global dan Realitas Lapangan

Sebagai jurnalis investigasi yang telah lama mengamati dinamika olahraga nasional, saya melihat langkah KOI terbang ke Birmingham ini sebagai langkah diplomasi yang tepat, namun tetap menyisakan pertanyaan besar: Kapan semua ini benar-benar menyentuh akar rumput? Kita harus jujur bahwa dalam ekosistem olahraga Indonesia, isu kekerasan seksual dan intimidasi terhadap atlet seringkali tertutup oleh tabir "kepatuhan pada pelatih" atau "demi prestasi".

Mengadaptasi best practice dari Inggris adalah hal mudah, namun mengimplementasikannya di tengah budaya patriarki yang masih kental di berbagai federasi olahraga nasional adalah perjuangan yang berbeda. Seringkali, organisasi olahraga kita terjebak dalam "compliance trap"—di mana mereka merasa sudah bekerja cukup hanya dengan memiliki dokumen prosedur pelaporan, namun pada kenyataannya, atlet yang melapor justru merasa terancam kariernya atau dikucilkan. Jika KOI ingin safeguarding menjadi budaya, maka transparansi dalam penanganan kasus harus menjadi harga mati, bukan sekadar penyelesaian "kekeluargaan" di balik pintu tertutup.

Saya memprediksi bahwa tanpa adanya mekanisme pengawasan independen yang berani memberikan sanksi berat kepada oknum pelatih atau pejabat olahraga, program ini hanya akan menjadi kosmetik organisasi untuk memenuhi syarat administratif IOC (International Olympic Committee). Kita tidak butuh sekadar partisipasi di summit internasional; kita butuh keberanian untuk memutus rantai kekuasaan absolut di kamp-kamp pelatihan yang seringkali menjadi area abu-abu bagi terjadinya pelecehan.

Ke depannya, KOI harus mampu membuktikan bahwa hasil dari Birmingham ini tidak hanya berakhir menjadi laporan perjalanan dinas. Saya menantang KOI untuk membuka kanal pelaporan yang benar-benar anonim dan aman, serta mempublikasikan statistik penanganan kasus secara berkala. Hanya dengan transparansi radikal itulah, kepercayaan atlet akan kembali, dan Indonesia benar-benar bisa mengklaim telah menerapkan standar olahraga modern yang memanusiakan manusia, bukan sekadar mengejar medali dengan mengorbankan martabat atlet.