Krisis Kedalaman Skuad: Indonesia 'Kompring' di Japan Open 2026, Banyak Pemain Absen

Bulu Tangkis
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Krisis Kedalaman Skuad: Indonesia 'Kompring' di Japan Open 2026, Banyak Pemain Absen
BAGIKAN:

JAKARTA — Skuad bulu tangkis Indonesia menghadapi situasi yang cukup mengkhawatirkan menjelang keberangkatan ke Japan Open 2026 di Tokyo Metropolitan Gymnasium. Sejumlah pemain kunci dipastikan absen, meninggalkan lubang besar dalam komposisi tim yang dikirim untuk bertarung pada 14-19 Juli mendatang.

Sektor ganda campuran menjadi area yang paling terdampak. Pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Nathaniel Alberta Pasaribu terpaksa menarik diri akibat cedera. Kondisi ini memaksa Indonesia hanya mengandalkan satu pasangan, yakni Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, untuk menjaga marwah merah putih di kategori ini.

Namun, yang lebih mengusik adalah alasan absennya pasangan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil. Berbeda dengan Jafar/Felisha yang terkendala fisik, pasangan ini absen karena dianggap belum memiliki persiapan yang maksimal. Manajer Tim Indonesia, Shendy Puspa Irawati, mengonfirmasi bahwa keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi tim pelatih.

"Berdasarkan hasil evaluasi tim pelatih, persiapan keduanya dinilai belum berjalan secara maksimal untuk tampil di dua turnamen tersebut," ungkap Shendy dalam keterangan resminya, Senin.

Efek domino ketidaksiapan ini juga menyeret pasangan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja serta Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti yang juga dipastikan batal tampil. Di sektor tunggal putra, sorotan tertuju pada Moh. Zaki "Ubed" Ubaidillah yang akan menjalani debutnya, mendampingi pemain senior Jonatan Christie dan talenta muda Alwi Farhan. Sementara itu, sektor tunggal putri hanya mengandalkan satu nama, Putri Kusuma Wardani.

Untuk sektor ganda putra, Indonesia masih mengirimkan tiga pasangan: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, serta Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Sedangkan ganda putri menurunkan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, dan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi.

Analisis Redaksi: Alarm Bahaya Manajemen Performa PBSI

Sebagai jurnalis yang telah lama mengawal naik-turunnya prestasi bulu tangkis kita, saya melihat pola yang sangat mengkhawatirkan dalam pemberangkatan skuad Japan Open 2026 ini. Kita tidak bisa hanya menerima alasan "persiapan belum maksimal" sebagai pembenaran atas absennya beberapa pemain. Pertanyaannya adalah: Mengapa persiapan bisa tidak maksimal di turnamen level Super 750? Apakah ini kegagalan dalam manajemen beban latihan, ataukah ada masalah dalam sistem pemantauan kondisi fisik pemain yang selama ini diagungkan oleh tim pelatih?

Ketiadaan banyak pemain di sektor ganda campuran adalah tamparan keras. Kita melihat adanya gap yang sangat lebar antara pemain inti dan pelapis. Ketika satu atau dua pemain cedera atau tidak fit, kita seolah kehilangan opsi yang kompetitif. Mengirimkan hanya satu pasangan di ganda campuran bukan sekadar masalah jumlah, tetapi menunjukkan betapa rapuhnya regenerasi di sektor tersebut. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan keberuntungan atau 'keajaiban' debutan seperti Ubed tanpa adanya fondasi persiapan yang matang dari sistem.

Lebih jauh lagi, saya mencurigai adanya inkonsistensi dalam standar evaluasi tim pelatih. Jika seorang pemain dianggap 'belum maksimal', seharusnya ada program akselerasi, bukan sekadar mencoret mereka dari daftar. Jika pola ini terus berulang, Indonesia akan kehilangan momentum untuk menguji mental pemain di turnamen besar. Japan Open adalah ajang bergengsi dengan atmosfer tekanan tinggi; menjauhkan pemain dari tekanan tersebut dengan alasan persiapan justru akan menghambat proses pendewasaan mereka di lapangan.

Prediksi saya, jika PBSI tidak segera membenahi manajemen peak performance pemain, kita akan sering melihat fenomena 'skuad pincang' seperti ini di turnamen-turnamen besar mendatang. Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu sebagai penguasa bulu tangkis dunia sementara manajemen internal kita sedang mengalami degradasi kualitas. Saatnya tim pelatih berhenti memberikan alasan administratif dan mulai memberikan solusi teknis yang konkret agar tidak ada lagi kata 'belum maksimal' dalam kamus atlet elit Indonesia.