Kemenpar Gencarkan Famtrip ke Tiongkok: Janji Pariwisata Jakarta Menggandakan Devisa atau Sekadar Panggung Diplomasi?

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Kemenpar Gencarkan Famtrip ke Tiongkok: Janji Pariwisata Jakarta Menggandakan Devisa atau Sekadar Panggung Diplomasi?
BAGIKAN:

Jakarta, 13 Juli 2026 – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan rangkaian Familiarization Trip (famtrip) dan Networking Dinner yang menargetkan wisatawan asal Tiongkok. Acara yang berlangsung dari 27 Juni hingga 1 Juli 2026 ini digelar bersama mitra strategis: Mandarin Oriental Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, serta Asosiasi Industri Pariwisata Indonesia (ASTINDO).

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menampilkan Jakarta sebagai "destinasi kelas dunia" yang menggabungkan wisata perkotaan, budaya, kuliner, dan bahari dalam satu paket terintegrasi. "Kami ingin menegaskan bahwa Jakarta bukan sekadar kota bisnis, melainkan gerbang utama menuju ragam destinasi wisata bahari Indonesia," ujar Made dalam konferensi pers.

Program ini menampilkan agenda padat: tur kota ke destinasi unggulan, sesi gastronomi bersama Chef Fei (pemilik dua bintang Michelin), eksplorasi Kepulauan Seribu (Pulau Putri, Pulau Macan, Pulau Sepa), gala dinner di Lyon Restaurant Mandarin Oriental, kunjungan ke Museum Tekstil, serta aktivitas kebugaran dan santai di Pantai Indah Kapuk. Semua kegiatan dirancang untuk menyoroti sinergi antara modernitas metropolitan dan keindahan alam tropis yang menjadi nilai jual utama bagi pasar Tiongkok.

China Southern Airlines berperan sebagai mitra transportasi, menyediakan tiket berbiaya dasar bagi peserta asal Tiongkok. Kolaborasi ini, menurut Made, mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat konektivitas penerbangan langsung Indonesia–Tiongkok serta memperluas eksposur pariwisata Indonesia di pasar internasional.

Dalam penutup acara, enam pelaku industri pariwisata Indonesia – termasuk Mandarin Oriental Jakarta, ASTINDO, White Horse Group, Elok Tour, Clio Tour & Events, dan Infotour – berinteraksi langsung dengan delegasi Tiongkok yang mewakili agen perjalanan premium dan perusahaan MICE terkemuka seperti UMICE Beijing, HIMICE Events Shenzhen, China Comfort Travel MICE, HCG Travel Group, serta Mandarin Oriental Guangzhou.

Kemenpar memperkirakan famtrip ini dapat menghasilkan potensi kunjungan 400 wisatawan dengan estimasi devisa mencapai 485.200 USD (sekitar Rp8,71 miliar). Data resmi menunjukkan bahwa antara Januari hingga Mei 2026, kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia mencapai 617.186 kali, sementara kapasitas penerbangan langsung dari kota-kota Tiongkok ke empat kota Indonesia (Jakarta, Bali, Manado, Surabaya) mencapai 1.768.545 kursi yang dioperasikan oleh 12 maskapai.

Analisis Pakar

Di balik antusiasme resmi Kemenpar, terdapat beberapa pertanyaan kritis yang perlu diangkat. Pertama, apakah famtrip ini benar‑benar mampu mengubah angka kunjungan yang masih relatif rendah menjadi lonjakan signifikan? Data Amadeus menunjukkan bahwa meskipun kapasitas penerbangan meningkat, konversi tiket menjadi kunjungan aktual masih bergantung pada faktor‑faktor seperti kebijakan visa, persepsi keamanan, dan daya tarik kompetitif dibandingkan destinasi Asia lain seperti Jepang atau Korea Selatan.

Kedua, fokus pada segmen premium – agen perjalanan mewah dan perusahaan MICE – dapat menimbulkan kesenjangan dengan pasar massal yang sebenarnya menyumbang mayoritas arus wisatawan Tiongkok. Jika tujuan Kemenpar adalah meningkatkan devisa, strategi diversifikasi produk yang mencakup akomodasi menengah ke bawah serta paket wisata yang terjangkau harus dipertimbangkan secara serius.

Ketiga, kolaborasi dengan hotel bintang lima dan maskapai premium menimbulkan risiko "panggung diplomasi" tanpa dampak ekonomi yang merata. Pemerintah provinsi DKI Jakarta harus memastikan bahwa manfaat dari peningkatan kunjungan tidak hanya terkonsentrasi pada pemain besar, melainkan juga mengalir ke pelaku UMKM lokal, seperti pedagang pasar tradisional, penyedia transportasi lokal, dan usaha kuliner kecil.

Terakhir, dalam konteks RPJMN 2025‑2029, Jakarta dijadikan "pilot project destinasi prioritas regeneratif". Namun, tanpa kebijakan yang mendukung keberlanjutan lingkungan – misalnya pengelolaan limbah di Kepulauan Seribu dan pengendalian kepadatan wisatawan – upaya promosi ini dapat berbalik menjadi beban ekologis yang merusak citra hijau yang ingin ditonjolkan.

Kesimpulannya, famtrip ke Tiongkok merupakan langkah strategis yang berpotensi membuka pintu devisa baru, namun keberhasilannya sangat tergantung pada eksekusi kebijakan yang inklusif, penyesuaian produk wisata, serta komitmen nyata terhadap keberlanjutan. Jika Kemenpar mampu mengatasi tantangan‑tantangan ini, Jakarta dapat bertransformasi menjadi destinasi yang tidak hanya menarik bagi wisatawan kelas atas, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.