Di Balik Gemuruh Porsenika 2026: KAI Klaim 'Hijau' dengan 100 Ribu Pohon dan Transisi Energi, Seberapa Serius?

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Di Balik Gemuruh Porsenika 2026: KAI Klaim 'Hijau' dengan 100 Ribu Pohon dan Transisi Energi, Seberapa Serius?
BAGIKAN:

YOGYAKARTA – Di tengah euforia Pekan Olahraga dan Seni Kereta Api (Porsenika) 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencoba menyisipkan narasi besar tentang keberlanjutan lingkungan. Senin (13/7), di kawasan Balai Yasa Yogyakarta, jajaran direksi dan ratusan peserta Porsenika berkumpul bukan hanya untuk kompetisi, tetapi untuk ritual simbolis: menanam 25 pohon produktif.

Meski terlihat seperti kegiatan seremonial biasa, manajemen KAI menegaskan bahwa aksi ini adalah bagian dari pilar strategis korporasi. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, secara gamblang menyatakan bahwa transformasi perusahaan tidak lagi semata tentang mengejar keuntungan finansial atau profit. Ia memperkenalkan konsep keseimbangan '3P': Profit, People, dan Planet.

"Perusahaan harus mampu menjaga kinerja, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan berperan aktif dalam merawat bumi. Prinsip tersebut menjadi bagian dari cara KAI menjalankan bisnis secara berkelanjutan," tegas Bobby di hadapan para kepala daerah operasi dan divisi regional.

Angka di Balik Kanopi Hijau

Data yang dirilis menunjukkan skala yang ambisius. Sepanjang tahun 2026 saja, KAI telah menanam 4.540 pohon. Secara kumulatif, sejak 2022 hingga pertengahan Juli 2026, total pohon yang telah ditanam mencapai angka fantastis: 99.785 batang. Rinciannya, 64.157 pohon ditanam pada 2022, diikuti penurunan drastis jumlah penanaman di tahun-tahun berikutnya, hingga kini stabil di angka ribuan.

Spesies yang dipilih pun tidak sembarangan. Di Balai Yasa Yogyakarta, misalnya, mereka menanam mangga, mundu, duku, nangka, dan sawo beludru dengan tinggi rata-rata 2,5 hingga 3 meter. Lokasi penanaman dipetakan secara presisi untuk memastikan pohon tidak mengganggu operasional perawatan lokomotif yang merupakan jantung dari Balai Yasa tersebut.

Lebih dari Sekadar Menanam

Narasi keberlanjutan KAI tidak berhenti di pepohonan. Perusahaan ini bergerak cepat menuju transisi energi yang lebih agresif. Tercatat, 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kini beroperasi di 92 lokasi dengan total kapasitas terpasang mencapai 4.430,65 kilowatt peak. Langkah ini diklaim mampu memangkas emisi karbon dioksida lebih dari 5.000 ton per tahun.

Bahkan, per 1 Juli 2026, KAI telah memulai implementasi mandatori penggunaan bahan bakar biodiesel B50—campuran 50 persen biodiesel nabati dan 50 persen solar. Ini adalah langkah berani mengingat tantangan teknis yang kerap menyertai transisi bahan bakar pada mesin kereta api berat.

Di sisi operasional, digitalisasi menjadi senjata ampuh untuk efisiensi. Sistem Face Recognition Boarding Gate yang digunakan 5,5 juta pelanggan pada Semester I 2026 terbukti mengurangi konsumsi kertas tiket hingga 13.888 rol. KAI mengklaim penghematan ini setara dengan menyelamatkan 75 pohon dari penebangan, sekaligus menghemat Rp203,80 juta. Tak ketinggalan, konsep ekonomi sirkular diterapkan dengan mengolah seragam bekas karyawan menjadi produk baru dan menyediakan 124 fasilitas air minum isi ulang di stasiun untuk menekan sampah plastik.

Analisis Pakar: Antara Greenwashing dan Terobosan Nyata

Sebagai pengamat yang lama mengawasi roda perputaran BUMN, saya melihat langkah KAI ini sebagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Di satu sisi, kita harus memberikan tepuk tangan untuk ambisi besar tersebut. Menembus angka 100 ribu pohon dan berani menerapkan B50 di tahun 2026 bukanlah prestasi kecil. Ini menunjukkan bahwa KAI, di bawah komando Bobby Rasyidin, mencoba mengubah kapal raksasa ini menuju arah yang lebih bertanggung jawab secara ekologis. Implementasi PLTS dan digitalisasi boarding gate adalah bukti konkret bahwa efisiensi bisnis bisa berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan.

Namun, di sisi lain, saya harus mengajak pembaca untuk tetap kritis dan waspada. Angka 99.785 pohon yang ditanam sejak 2022 akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan laporan survival rate atau tingkat kelangsungan hidup pohon tersebut. Menanam itu mudah, merawat hingga tumbuh besar dan berdampak signifikan terhadap penyerapan karbon adalah tantangan sebenarnya. Apakah pohon-pohon di Balai Yasa Yogyakarta dan wilayah kerja lainnya benar-benar dipantau perkembangannya, atau hanya menjadi angka indah dalam laporan tahunan sustainability report? Keterbukaan data mengenai tingkat kematian pohon dan perawatannya adalah kunci untuk menghindari tuduhan greenwashing.

Selain itu, transisi ke B50 adalah langkah yang sangat berisiko namun sangat penting. Sebagai jurnalis, saya mempertanyakan kesiapan infrastruktur dan teknis di lapangan. Biodiesel dengan kandungan tinggi seringkali memiliki masalah dengan stabilitas oksidasi dan penyumbatan filter, terutama pada mesin-mesin tua atau operasional di daerah dengan suhu ekstrem. Jika implementasi B50 ini hanya dilakukan demi kepatuhan regulasi pemerintah tanpa kesiapan teknis yang matang, yang terjadi justru bisa menjadi gangguan operasional kereta api yang pada akhirnya merugikan people (penumpang). KAI harus terbuka mengenai risiko-risiko ini dan bagaimana mereka mitigasinya, bukan hanya menyuarakan klaim kemenangan.

Terakhir, mari kita lihat dari sisi budaya korporat. Menggabungkan kegiatan penanaman pohon dalam agenda Porsenika adalah strategi HR yang cerdas untuk membangun kesadaran kolektif. Namun, budaya 'hijau' ini tidak boleh hanya hadir saat acara olahraga. Tantangan sesungguhnya adalah apakah masinis, kondektur, hingga staf administrasi di pelosok stasiun benar-benar menginternalisasi semangat penghematan energi dan pengurangan limbah ini dalam keseharian mereka, ataukah ini hanya menjadi 'top-down command' yang berhenti di level manajemen. KAI sedang berada di titik balik yang menentukan: apakah mereka akan menjadi pelopor transportasi berkelanjutan di Asia Tenggara, atau sekadar BUMN yang pandai merapikan laporan statistik. Waktu yang akan menjawabnya.