Kedaulatan Oman Teroyak: Protes Keras Muscat Atas Agresi Drone Iran di Tengah Bara Teluk

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kedaulatan Oman Teroyak: Protes Keras Muscat Atas Agresi Drone Iran di Tengah Bara Teluk
BAGIKAN:

MUSCAT — Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik nadir setelah Oman secara resmi melayangkan nota protes keras kepada duta besar Iran. Langkah diplomatik agresif ini diambil menyusul serangan pesawat tak berawak (drone) yang menghantam wilayah strategis di provinsi Musandam dan Al Wusta, sebuah tindakan yang dinilai sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat ditoleransi.

Kementerian Luar Negeri Oman dalam pernyataan resminya pada Minggu, mengecam tindakan tersebut sebagai langkah "tidak bertanggung jawab". Muscat menegaskan bahwa hubungan bertetangga yang baik seharusnya didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan negara dan prinsip non-intervensi terhadap urusan dalam negeri pihak lain.

Oman tidak hanya sekadar melayangkan protes diplomatik. Pemerintah Muscat berkomitmen untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan guna menjamin keamanan warga negaranya. Lebih jauh, Oman memperingatkan bahwa eskalasi militer yang kian tak terkendali ini bukan hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga berisiko melumpuhkan keselamatan maritim, mengganggu arus perdagangan internasional, serta mengancam pasokan energi global yang krusial.

Insiden ini terjadi di tengah badai konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah AS melancarkan serangan terhadap sasaran militer Iran, Teheran membalas dengan menghantam berbagai fasilitas AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Namun, yang paling mengejutkan adalah klaim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang mengakui serangan terhadap fasilitas pendukung dan pengisian bahan bakar Angkatan Laut AS di Pelabuhan Duqm, Oman.

Ironisnya, rentetan serangan ini terjadi meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen diplomatik di atas kertas kini tak lebih dari sekadar formalitas di hadapan ambisi militer yang membara.

Analisis Redaksi: Budi Santoso

Sebagai jurnalis investigasi yang telah lama mengamati dinamika geopolitik Timur Tengah, saya melihat insiden di Musandam dan Al Wusta bukan sekadar "salah sasaran" atau efek samping dari perang proksi. Ini adalah pesan brutal dari Teheran bahwa mereka bersedia mengabaikan netralitas Oman demi menghantam kepentingan Amerika Serikat. Oman, yang selama ini dikenal sebagai 'The Switzerland of the Middle East' karena peran mediatornya yang ulung, kini dipaksa keluar dari zona nyaman diplomatiknya. Ketika Pelabuhan Duqm—salah satu aset strategis Oman—menjadi medan tempur, maka kedaulatan Oman bukan lagi sekadar isu administratif, melainkan target militer.

Kita harus kritis melihat pola ini: Iran menggunakan wilayah negara ketiga sebagai 'tameng' atau 'jalur lintas' untuk menyerang AS. Ini adalah strategi yang sangat berbahaya dan tidak etis dalam hukum internasional. Dengan menyerang fasilitas pendukung AS di tanah Oman, Iran secara efektif sedang melakukan perjudian besar. Mereka mempertaruhkan hubungan baik dengan Muscat hanya untuk memberikan pukulan psikologis kepada Washington. Jika Oman terus-menerus dijadikan 'lapangan bermain' bagi dua kekuatan besar, maka posisi netralitas Muscat akan runtuh, dan ini akan menciptakan vakum diplomatik yang sangat berbahaya di kawasan Teluk.

Prediksi saya, MoU yang ditandatangani Juni lalu sudah menjadi sampah sejarah. Kita sedang menyaksikan transisi dari 'perang bayangan' menuju konfrontasi terbuka. Jika Oman tidak segera memperkuat sistem pertahanan udaranya atau mencari aliansi keamanan baru, mereka akan terus menjadi korban kolateral dari ego dua negara adidaya. Dunia harus menyadari bahwa gangguan di Pelabuhan Duqm bukan hanya masalah lokal; jika jalur maritim ini terganggu, harga minyak dunia akan melonjak, dan ekonomi global akan terguncang hebat.

Kesimpulannya, protes Oman adalah langkah minimalis. Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar nota protes, melainkan tekanan internasional yang masif terhadap Iran untuk menghormati batas wilayah negara netral. Jika komunitas internasional hanya diam, maka kedaulatan negara kecil di Timur Tengah akan terus dikorbankan demi ambisi hegemoni global. Ini adalah peringatan keras bahwa di kawasan Teluk, perdamaian hanyalah jeda singkat di antara dua serangan.