Drama Ambulans di Balai Kota: Farhan Kembali Berkantor Usai Tumbang Akibat Vertigo

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Drama Ambulans di Balai Kota: Farhan Kembali Berkantor Usai Tumbang Akibat Vertigo
BAGIKAN:

BANDUNG – Setelah sempat menghebohkan publik melalui insiden evakuasi medis menggunakan ambulans dari Balai Kota menuju rumah sakit pekan lalu, Wali Kota Bandung, M. Farhan, akhirnya kembali menjalankan tugas kedinasannya pada Jumat (13/7). Kembalinya politikus NasDem ini menandai berakhirnya masa perawatan intensif singkat yang sempat melumpuhkan aktivitas kepemimpinannya.

Dalam keterangannya, Farhan mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya menurun drastis akibat kombinasi infeksi pencernaan yang memicu serangan maag akut, yang kemudian berujung pada vertigo berat. Kondisi inilah yang membuatnya kehilangan keseimbangan hingga harus dievakuasi dengan cara digotong oleh petugas.

"Setelah pemeriksaan laboratorium, terdeteksi ada infeksi pencernaan yang memicu maag, dan maag itulah yang memicu vertigo. Bola mata bergerak terus sehingga terasa berputar-putar, itulah mengapa saya terpaksa digotong," ujar Farhan saat ditemui di Balai Kota Bandung.

Menariknya, di tengah masa pemulihan selama dua hari akhir pekan, Farhan mengaku menghabiskan waktunya dengan menyaksikan laga Piala Dunia 2026. Ia mengungkapkan kekecewaannya atas kekalahan timnas Norwegia, yang diperkuat bintang Erling Haaland, saat menghadapi Inggris yang mengakibatkan Norwegia gagal melaju ke semifinal.

Meski sudah kembali berkantor untuk melayani warga, Farhan mengakui bahwa dirinya masih berada di bawah pengawasan medis. Dokter menginstruksikan agar aktivitasnya tetap terbatas dan tidak bergerak terlalu jauh dari area pendopo guna memastikan proses pemulihan berjalan sempurna.

Catatan Redaksi: Antara Urgensi Publik dan Gaya Komunikasi Pejabat

Sebagai jurnalis senior yang telah lama mengamati dinamika kekuasaan di Jawa Barat, saya melihat ada sesuatu yang ganjil dalam narasi pemulihan ini. Di satu sisi, kita melihat seorang pemimpin yang tumbang secara fisik hingga harus 'digotong'—sebuah citra yang sangat kontras dengan profil pemimpin yang seharusnya prima dan tangguh. Namun, yang lebih mengusik adalah bagaimana narasi medis yang serius ini kemudian dicampuradukkan dengan obrolan ringan mengenai hasil pertandingan sepak bola dan kekalahan tim Norwegia.

Ada risiko komunikasi politik yang besar di sini. Ketika seorang kepala daerah absen dari tugasnya karena alasan kesehatan yang cukup signifikan hingga memerlukan ambulans, publik mengharapkan transparansi mengenai stabilitas kepemimpinan dan jaminan bahwa roda pemerintahan tidak terhenti. Namun, menyisipkan cerita tentang menonton Piala Dunia di tengah masa perawatan intensif bisa dipersepsikan sebagai bentuk ketidakseriusan atau upaya 'meringankan' situasi yang sebenarnya mengkhawatirkan. Ini adalah blunder komunikasi yang membuat urgensi kesehatan sang Wali Kota terkesan seperti sekadar 'istirahat akhir pekan'.

Lebih jauh lagi, keterbatasan aktivitas Farhan yang kini 'tidak boleh jauh-jauh dari pendopo' menimbulkan pertanyaan kritis: Sejauh mana efektivitas kepemimpinan seorang Wali Kota jika ruang geraknya dibatasi oleh kondisi fisik? Bandung adalah kota dengan kompleksitas masalah urban yang tinggi—mulai dari macet hingga sampah. Kota ini membutuhkan pemimpin yang mampu turun ke lapangan (blusukan), bukan pemimpin yang hanya bisa memantau dari balik dinding pendopo karena vertigo.

Saya memprediksi, jika pola komunikasi seperti ini terus dipertahankan, publik akan mulai mempertanyakan daya tahan fisik dan mental sang pemimpin dalam menghadapi tekanan kerja yang tinggi. Kesehatan adalah hak privasi, namun bagi seorang pejabat publik, kesehatan adalah aset negara. Kita tidak butuh pemimpin yang sekadar 'sudah mendingan', kita butuh pemimpin yang benar-benar fit untuk bertarung demi kepentingan warga Bandung. Jangan sampai urusan maag dan vertigo menjadi penghambat bagi akselerasi pembangunan kota.