Bukan Sekadar Seremonial: Selvi Gibran Desak Dekranas Berhenti Jadi 'Event Organizer' dan Mulai Beri Dampak Nyata
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

MAKASSAR – Perayaan 46 tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) yang digelar di Trans Studio Mall (TSM) Kota Makassar, Jumat (10/7), tidak hanya menjadi ajang pameran busana adat. Di balik kemeriahan warna-warni Baju Bodo yang dikenakan oleh Ketua Umum Dekranas, Selvi Gibran Rakabuming, dan Ketua Harian Tri Tito Karnavian, terselip pesan kritis mengenai arah masa depan industri kriya Indonesia.
Dalam acara bertajuk "Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia" tersebut, Selvi Gibran melontarkan kritik tajam terhadap pola kerja organisasi selama ini. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan pembinaan perajin tidak boleh lagi diukur hanya dari kuantitas kegiatan atau banyaknya seremoni yang dilaksanakan, melainkan dari dampak konkret yang dirasakan oleh para pelaku usaha kecil di lapangan.
"Dekranas dan Dekranasda tidak boleh hanya menjadi penyelenggara acara. Harus menjadi pendamping, pembina, dan fasilitator," tegas Selvi dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya peran organisasi dalam membuka akses permodalan, pelatihan desain, digitalisasi, hingga manajemen perizinan ekspor yang selama ini sering menjadi tembok penghalang bagi perajin lokal untuk menembus pasar global.
Selvi juga menyoroti tantangan kompleks yang membayangi industri kerajinan, mulai dari disrupsi teknologi hingga perubahan tren konsumen dunia. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam Indonesia—mulai dari serat alam, kayu, hingga logam—tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikelola menjadi produk bernilai tambah dengan standar kualitas internasional dan kemasan yang kompetitif.
Acara yang dihadiri lebih dari 3.000 pengurus Dekranas dari seluruh penjuru negeri ini ditutup dengan peninjauan stan pameran kriya dan wastra. Kehadiran Tri Tito Karnavian dan Selvi Gibran di tengah-tengah pameran tersebut menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap penguatan identitas budaya melalui ekonomi kreatif.
Analisis Redaksi: Menggugat Paradigma 'Seremonialisme' Birokrasi Kriya
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola birokrasi di Indonesia, saya melihat pernyataan Selvi Gibran kali ini sebagai sebuah 'tamparan' halus namun telak bagi struktur internal Dekranasda di berbagai daerah. Selama puluhan tahun, kita terjebak dalam budaya ceremonial-driven policy, di mana keberhasilan sebuah program diukur dari seberapa megah acara pembukaannya, seberapa banyak foto yang diunggah ke media sosial, dan seberapa mewah busana yang dikenakan, namun abai pada nasib perajin di desa-desa terpencil yang masih kesulitan mendapatkan akses modal atau izin ekspor.
Kritik Selvi mengenai orientasi organisasi yang tidak boleh sekadar menjadi 'penyelenggara acara' adalah poin krusial. Kita harus jujur bahwa banyak organisasi semi-pemerintah yang terjebak dalam zona nyaman administratif. Mereka merasa sudah bekerja ketika telah mengadakan pelatihan, padahal pelatihan tersebut seringkali tidak berkelanjutan (one-off event) dan tidak memiliki tindak lanjut pasar yang jelas. Jika Dekranas ingin benar-benar membawa perajin 'mendunia', maka transformasi dari Event Organizer menjadi Business Accelerator adalah harga mati.
Lebih jauh lagi, tantangan digitalisasi yang disebutkan bukan sekadar soal memiliki akun Instagram atau berjualan di marketplace. Ini adalah soal manajemen rantai pasok (supply chain) dan standarisasi kualitas. Industri kriya kita seringkali terbentur pada masalah konsistensi produk. Satu barang bisa sangat indah, namun ketika ada pesanan 1.000 unit untuk pasar Eropa, kualitasnya tidak seragam. Di sinilah peran fasilitasi yang diminta Selvi harus masuk: bukan dengan memberi bantuan alat semata, tapi dengan membangun sistem kontrol kualitas (QC) yang ketat di tingkat perajin.
Prediksi saya, jika transformasi ini gagal dilakukan dan Dekranas tetap terjebak pada pola syukuran tahunan, maka potensi besar sumber daya alam kita hanya akan menjadi komoditas mentah yang diolah negara lain, sementara perajin kita hanya menjadi penonton di tanah air sendiri. Momentum 46 tahun ini harus menjadi titik balik; apakah Dekranas akan tetap menjadi 'klub sosial' para istri pejabat, atau benar-benar menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu mendisrupsi pasar global. Publik menunggu aksi nyata, bukan sekadar narasi cantik di atas panggung.
BERITA TERKAIT

Ambisi 'Sekolah Rakyat' Jasinga: Solusi Pendidikan Gratis atau Sekadar Proyek Monumental?
