Argentina Guncang Piala Dunia 2026: Dua Gol di Dua Extra Time, Rekor Baru Pecah!

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Argentina Guncang Piala Dunia 2026: Dua Gol di Dua Extra Time, Rekor Baru Pecah!
BAGIKAN:

Argentina kembali menulis sejarah di Piala Dunia 2026 dengan penampilan spektakuler yang menggetarkan dunia sepak bola. Di Stadion Kansas City, Missouri, La Albiceleste menaklukkan Swiss 3-1 dalam perempat final, sekaligus mencetak dua gol di dua babak extra time yang berbeda – sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gol pembuka datang cepat, hanya 10 menit setelah peluit dimulai, ketika Alexis Mac Allister menembakkan bola ke sudut kanan gawang Swiss. Namun, drama sesungguhnya baru dimulai di menit ke-112, saat Julian Álvarez menambah keunggulan Argentina dengan tembakan tajam yang tak terelakkan. Di penghujung laga, Lautaro Martínez menutup skor dengan gol penutup yang menegaskan dominasi Argentina.

Prestasi ini bukan sekadar kemenangan; ia menorehkan rekor baru dalam sejarah turnamen. Menurut Misterchip, Argentina menjadi negara pertama yang mencetak dua gol di dua babak perpanjangan waktu yang berbeda dalam satu edisi Piala Dunia. Ini menambah daftar panjang pencapaian La Albiceleste, termasuk keberhasilan mereka melumpuhkan tim debutan Cape Verde dengan skor 3-2 di babak 32 besar, di mana Lionel Messi membuka keunggulan pada menit ke-32.

Di laga melawan Cape Verde, Argentina kembali menunjukkan ketangguhan mental. Setelah gol balasan Deroy Duarte pada menit ke-59, pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga akhir waktu reguler, memaksa kedua tim melaju ke extra time. Di sana, Lautaro MartĂ­nez kembali bersinar dengan gol pada menit ke-92, sementara gol bunuh diri Diney pada menit ke-111 menambah keunggulan Argentina. Cape Verde sempat mengurangi selisih pada menit ke-103 lewat Lopes Cabral, namun tidak cukup untuk mengubah nasib.

Lebih jauh lagi, Argentina memecahkan rekor dua gol atau lebih dalam 12 pertandingan beruntun di Piala Dunia – melampaui rekor Uruguay yang sebelumnya memegang catatan 11 laga berturut‑turut. Sejak debut gemilang mereka di edisi 2022 hingga kini, La Albiceleste telah menegaskan konsistensi serangan mereka yang mematikan.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat yang telah menyaksikan evolusi taktik sepak bola selama tiga dekade, saya melihat keberhasilan Argentina bukan sekadar kebetulan. Di balik setiap gol, terdapat pola taktis yang terstruktur: pressing tinggi yang memaksa lawan menekan diri, pergerakan off‑the‑ball yang menciptakan ruang bagi penyerang, serta rotasi posisi yang membuat pertahanan lawan kebingungan. Mac Allister, yang biasanya berperan sebagai pengatur serangan, menukar peran menjadi penyerang tajam, menandakan fleksibilitas taktik Marcelo Bielsa yang kini diadaptasi oleh pelatih Argentina.

Selain itu, kemampuan mental pemain dalam menghadapi tekanan extra time patut diacungi jempol. Kebanyakan tim internasional mengalami penurunan intensitas di menit-menit akhir, namun Argentina justru meningkatkan tempo, memanfaatkan fatigue lawan untuk mencetak gol krusial. Ini menunjukkan persiapan fisik yang luar biasa serta kedalaman skuad yang memungkinkan rotasi pemain tanpa mengorbankan kualitas.

Keberhasilan Lionel Messi tetap menjadi faktor kunci. Meskipun usianya sudah menginjak 40, Messi masih mampu mengatur tempo permainan, menciptakan peluang, dan mengeksekusi gol penting. Peranannya sebagai playmaker sekaligus penyelesaian akhir memberi Argentina keunggulan strategis yang sulit ditandingi. Kombinasi antara pengalaman Messi dan energi muda seperti Álvarez serta Martínez menciptakan sinergi yang seimbang antara creativity dan finishing.

Melihat jalur menuju final, tantangan terbesar bagi Argentina akan datang dari tim-tim yang mengandalkan pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Namun, dengan catatan rekor gol beruntun dan mentalitas juara yang terbukti, La Albiceleste berada dalam posisi yang sangat menguntungkan untuk melanjutkan penaklukan mereka. Jika mereka dapat mempertahankan pola taktik yang fleksibel, menjaga kebugaran pemain, dan memanfaatkan kepemimpinan Messi, peluang mereka untuk mengangkat trofi Piala Dunia kembali ke tanah Argentina menjadi sangat realistis.