Di Balik Sihir Bellingham: Mengapa Kemenangan Inggris Atas Norwegia Adalah Alarm Bahaya Menjelang Duel Kontra Argentina

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Di Balik Sihir Bellingham: Mengapa Kemenangan Inggris Atas Norwegia Adalah Alarm Bahaya Menjelang Duel Kontra Argentina
BAGIKAN:

MIAMI — Tim nasional Inggris memang berhasil melangkah ke babak semifinal Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Norwegia secara dramatis dengan skor 2-1 di Miami. Namun, di balik euforia kelolosan tersebut, tersimpan kecemasan taktis yang mendalam. Pelatih kepala Three Lions, Thomas Tuchel, kini berpacu dengan waktu selama tiga hari ke depan untuk membenahi performa anak asuhnya sebelum menghadapi raksasa Amerika Selatan, Argentina, di Atlanta.

Kemenangan Inggris di babak perempat final ini tidak diraih dengan mudah. Skuad asuhan Tuchel harus tertinggal lebih dulu sebelum akhirnya diselamatkan oleh dua gol krusial dari gelandang andalan mereka, Jude Bellingham. Gol penyeimbang lahir di masa injury time babak pertama, disusul gol penentu kemenangan pada awal babak perpanjangan waktu. Hasil ini membawa Inggris kembali ke babak empat besar, mengulang memori manis sekaligus getir dari turnamen-turnamen sebelumnya.

Meskipun bangga dengan mentalitas pantang menyerah anak asuhnya, Tuchel tidak menutup mata terhadap kelemahan mendasar timnya. Mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munchen tersebut secara terbuka mengkritik aspek teknis permainan Inggris yang dinilainya masih jauh dari standar juara dunia.

"Pikiran saya belum sepenuhnya puas. Saya rasa kami bisa bermain lebih cepat dan lebih klinis. Kami melakukan terlalu banyak kesalahan sendiri dan kesalahan teknis yang membuat kami kehilangan kepercayaan diri," ujar Tuchel dalam konferensi pers pascapertandingan yang dihadiri media secara ketat di Miami.

Laga ini juga diwarnai oleh drama teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang membatalkan gol pemain Norwegia, Torbjorn Heggem, pada menit ke-55 karena pelanggaran yang dilakukan Erling Haaland. Di sisi lain, Inggris juga batal menerima hadiah penalti di menit-menit akhir setelah VAR menganulir keputusan pelanggaran terhadap Djed Spence. Norwegia sendiri harus pulang dengan kepala tegak, meski striker bintang mereka, Haaland, harus ditarik keluar 15 menit sebelum babak perpanjangan waktu usai karena kelelahan fisik yang ekstrem.

Menanggapi ketergantungan akut timnya pada sosok Jude Bellingham dan kapten Harry Kane, Tuchel memilih bersikap pragmatis. "Tidak ada yang salah dengan itu. Kita tidak perlu merasa bersalah karena kedua pemain ini bermain untuk kami dan menentukan hasil pertandingan. Itu mengesankan," tegasnya.

Analisis Mendalam Budi Santoso: Ilusi Kemenangan Inggris dan Ancaman Nyata Argentina

Sebagai jurnalis yang telah mengawal dinamika sepak bola internasional selama puluhan tahun, saya melihat kemenangan Inggris atas Norwegia bukanlah sebuah pameran kekuatan, melainkan sebuah peringatan keras. Skor 2-1 memang meloloskan mereka ke semifinal, namun performa di lapangan menunjukkan bahwa taktik Thomas Tuchel masih menyisakan lubang besar yang menganga. Ketergantungan yang sangat akut pada momen-momen magis individu—dalam hal ini Jude Bellingham—adalah perjudian tingkat tinggi yang sangat berisiko ketika menghadapi tim dengan organisasi pertahanan sekokoh Argentina.

Tuchel secara jujur mengakui adanya kesalahan teknis dan lambatnya sirkulasi bola. Di level perempat final melawan Norwegia yang mengandalkan fisik, kesalahan-kesalahan tersebut mungkin masih bisa dimaafkan karena lawan akhirnya kehabisan bensin—terbukti dengan ditariknya Erling Haaland yang mati kutu secara fisik. Namun, Argentina bukanlah Norwegia. Tim Tango memiliki transisi bermain yang sangat mematikan, pressing yang agresif, dan kecerdikan taktis yang jauh di atas rata-rata. Jika lini tengah Inggris masih sering kehilangan bola secara ceroboh seperti di Miami, maka Lionel Scaloni dan pasukannya akan menghukum mereka tanpa ampun di Atlanta.

Pernyataan Tuchel yang menyebut "tidak perlu merasa bersalah" atas ketergantungan pada Bellingham dan Kane sebenarnya adalah bentuk retorika defensif untuk melindungi skuadnya dari kritik publik. Faktanya, sebuah tim yang bercita-cita menjadi juara dunia tidak boleh hanya mengandalkan dua poros permainan. Ketika jalur distribusi bola ke Kane diputus dan ruang gerak Bellingham dikunci oleh gelandang bertahan lawan, Inggris kerap terlihat kehabisan ide dan bermain monoton. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar Tuchel dalam waktu kurang dari 72 jam.

Prediksi saya untuk laga semifinal di Atlanta nanti: jika Tuchel gagal mempercepat tempo permainan dan tidak mampu menciptakan variasi serangan dari sektor sayap, Inggris akan didikte oleh Argentina. Pemulihan fisik memang penting, tetapi pemulihan taktis jauh lebih krusial. Inggris harus berhenti bermain dengan api dan mengandalkan keberuntungan di menit-menit akhir. Jika tidak ada perubahan radikal dalam efisiensi permainan, mimpi mengulang kejayaan 1966 akan kembali kandas di tangan musuh bebuyutan mereka dari Amerika Selatan.