Siasat di Balik Diplomasi Selat Hormuz: Oman dan Iran Berupaya Redam Ketegangan Global

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Siasat di Balik Diplomasi Selat Hormuz: Oman dan Iran Berupaya Redam Ketegangan Global
BAGIKAN:

MUSCAT – Di tengah bara ketegangan yang kian memanas di kawasan Teluk, Oman dan Iran secara resmi menyepakati kelanjutan perundingan teknis dan politik terkait navigasi di Selat Hormuz. Langkah diplomatik ini, yang dilaporkan oleh Kantor Berita Oman pada Sabtu (11/7), menjadi upaya krusial untuk menjamin keselamatan serta kebebasan pelayaran di salah satu jalur air paling strategis di dunia.

Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Muscat ini bertujuan untuk merumuskan kesepahaman bersama yang selaras dengan hukum internasional. Kehadiran Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam kunjungan konsultatif ke Oman menegaskan bahwa Teheran merasa perlu mencari jalan keluar diplomatik untuk mengelola stabilitas maritim di wilayah tersebut.

Namun, upaya perdamaian ini tidak terjadi di ruang hampa. Perundingan ini muncul sebagai respons atas eskalasi konflik yang tajam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan mencapai titik nadir setelah serangkaian aksi saling serang, yang dipicu oleh tuduhan bahwa Iran melakukan gangguan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Situasi semakin pelik setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sebagai bentuk retaliasi strategis, Teheran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz—jalur nadi ekonomi global yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melalui laut. Iran bahkan secara terang-terangan membatasi akses aman bagi kapal-kapal yang memiliki afiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat.

Kesepakatan yang telah dirintis sejak Juni melalui kelompok kerja gabungan antara kementerian luar negeri kedua negara kini memasuki fase kritis. Fokus utama mereka adalah menciptakan manajemen navigasi dan layanan maritim yang dapat diterima semua pihak guna mencegah terjadinya bencana ekonomi global jika jalur ini benar-benar tertutup.

Analisis Redaksi: Diplomasi di Atas Bara Api

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat perundingan antara Oman dan Iran ini bukan sekadar 'rutinitas diplomatik' atau upaya tulus menciptakan perdamaian. Kita harus membaca ini sebagai permainan catur geopolitik yang sangat berisiko. Oman, dengan posisi uniknya sebagai 'mediator alami' yang netral, mencoba mencegah Selat Hormuz berubah menjadi medan perang terbuka yang akan melumpuhkan ekonomi dunia. Namun, pertanyaannya adalah: apakah Iran benar-benar ingin berdamai, atau mereka hanya sedang mencari ruang bernapas (breathing space) untuk memperkuat posisi tawar mereka di hadapan Washington?

Pengendalian ketat Iran atas Selat Hormuz adalah bentuk asymmetric warfare. Dengan menyandera jalur minyak dunia, Iran memiliki 'tombol nuklir ekonomi' yang bisa mereka tekan kapan saja untuk memaksa AS dan sekutunya mundur dari tekanan politik maupun militer. Perundingan teknis yang dibahas di Muscat kemungkinan besar adalah upaya untuk mendefinisikan ulang 'kebebasan navigasi' agar Iran tetap memiliki kontrol tanpa harus memicu perang skala penuh yang bisa menghancurkan rezim mereka sendiri.

Prediksi saya, kesepakatan ini akan tetap rapuh. Selama AS dan Israel masih menggunakan pendekatan agresif dan Iran merasa terancam secara eksistensial, Selat Hormuz akan tetap menjadi 'titik picu' (flashpoint) yang berbahaya. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Iran menggunakan akses maritim sebagai alat pemerasan politik. Jika perundingan ini gagal mencapai titik temu yang konkret, kita mungkin akan melihat peningkatan gangguan navigasi yang lebih sistematis, yang pada akhirnya akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan mengacaukan stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dunia internasional tidak boleh tertipu oleh retorika 'hukum internasional' yang sering digaungkan dalam pertemuan ini. Dalam realitas politik kekuasaan (power politics), hukum internasional seringkali hanya menjadi hiasan di atas meja perundingan, sementara di lapangan, kekuatan senjata dan kontrol wilayah yang menjadi penentu. Oman berada dalam posisi yang sangat sulit; mereka mencoba menjadi jembatan, namun jembatan tersebut bisa runtuh kapan saja jika salah satu pihak memutuskan untuk melakukan eskalasi total. Kita harus terus mengawasi apakah hasil dari perundingan ini akan membawa stabilitas nyata, atau justru hanya menjadi tabir asap bagi persiapan konflik yang lebih besar di masa depan.