Opera Batak Tona Sian Huta: Seni yang Menggali Emas Ekonomi untuk Danau Toba?

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Opera Batak Tona Sian Huta: Seni yang Menggali Emas Ekonomi untuk Danau Toba?
BAGIKAN:

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyoroti pagelaran opera dan konser musik Tona Sian Huta sebagai contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat dikalkulasi menjadi sumber pendapatan bagi daerah. Acara yang digelar di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, menampilkan 27 penari opera, 30 musisi lokal dan nasional, serta stand‑up comedian Joel Purba, sekaligus menampung 50 UMKM yang menjual produk kriya, kuliner, dan fesyen khas Batak.

Menurut Riefky, budaya yang kuat menjadi landasan untuk memperkukuh industri kreatif, pariwisata, dan UMKM. Ia menegaskan bahwa bila warisan diolah secara inovatif dan berkelanjutan, ia mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pendapat ini selaras dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026‑2045 yang baru disahkan, yang menekankan kolaborasi lintassektor sebagai kunci mengubah potensi budaya menjadi nilai tambah ekonomi.

Lamhot Sinaga, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dan inisiator acara, menambahkan bahwa Tona Sian Huta tidak hanya memperkuat identitas Bangsa Batak, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan ekosistem kreatif yang meliputi seni pertunjukan, musik, fesyen, kuliner, dan pariwisata. Ia berharap acara ini dapat menjadi katalisator bagi kesejahteraan masyarakat sekitar Danau Toba.

Namun, di balik pujian resmi, terdapat sejumlah pertanyaan kritis yang perlu dijawab. Apakah manfaat ekonomi yang dijanjikan benar‑benar merata kepada komunitas lokal, atau hanya menambah nilai bagi pihak luar yang mengelola acara? Sejauh ini, data terkait penyerapan tenaga kerja lokal dan pendapatan yang langsung masuk ke UMKM Batak masih terbatas, sehingga klaim tentang penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah perlu divalidasi dengan studi lapangan yang transparan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah meneliti dinamika ekonomi kreatif di berbagai daerah Indonesia, saya mengamati bahwa banyak program berbasis budaya cenderung menekankan aspek simbolik dan narasi nasionalisme, sementara mekanisme ekonomi yang sebenarnya sering kali kurang terukur. Dalam kasus Tona Sian Huta, meskipun peserta termasuk artis nasional dan komik terkemuka, kontribusi ekonomi sebenarnya bergantung pada tiga faktor kunci: akses pasar, kapasitas produksi UMKM, dan keberlanjutan pendanaan pasca‑acara.

Pertama, akses pasar. Festival satu‑hari atau beberapa hari biasanya menghasilkan lonjakan penjualan sementara, tetapi tanpa jaringan distribusi yang stabil—misalnya platform e‑commerce, kemitraan dengan agen pariwisata, atau jual grosir ke toko oleh‑oleh—produk UMKM cenderung kembali ke tingkat penjualan pra‑festival. Untuk mengubah lonjakan ini menjadi pertumbuhan berkelanjutan, diperlukan investasi dalam kapasitas logistik dan pemasaran digital yang terintegrasi dengan agenda pariwisata Danau Toba.

Kedua, kapasitas produksi UMKM. Lima puluh UMKM yang terlibat dalam acara ini sebagian besar merupakan mikro usaha dengan produksi terbatas dan kualitas yang bervariasi. Tanpa pelatihan terkait standar produk, desain yang konsisten, dan inovasi variasi produk, risiko produk tidak mampu bersaing di pasar pasar domestik maupun internasional tetap tinggi. Program pendampingan pasca‑festival yang berfokus pada pelatihan teknik produksi, branding, dan akses ke modal mikro menjadi kunci agar keuntungan tidak hanya bersifat sekunder.

Ketiga, keberlanjutan pendanaan. Acara seperti Tona Sian Huta sering bergantung pada dana pemerintah atau sponsor sektoral. Jika pendanaan ini berhenti, maka dampak ekonomi dapat menghilang seketika. Oleh karena itu, model pendanaan yang berkelanjutan—misalnya pendanaan berbagi hasil (revenue sharing) dari tiket, hasil penjualan produk, atau pendanaan sosial yang dikelola oleh kooperatif seni—harus dirancang sejak awal agar tidak menciptakan ketergantungan pada satu sumber dana.

Dalam perspektif lebih luas, Tona Sian Huta memiliki potensi menjadi contoh baik jika dirancang sebagai platform pembelajaran dan inovasi berkelanjutan, bukan sekadar panggung pertunjukan tahunan. Integrasi dengan program pengembangan pariwisata berkelanjutan Danau Toba, penciptaan jalur ekspor produk kriya Batak ke pasar ASEAN, dan penciptaan hibah inovasi untuk UMKM yang menunjukkan pertumbuhan produktivitas dapat mengubah acara ini dari sekadar spektakel budaya menjadi motor perekonomian daerah yang tangguh dan inklusif.