Messi Tak Bisa Menembus Gawang Swiss, Rekor Gol Beruntun Piala Dunia 2026 Akhirnya Putus!

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Messi Tak Bisa Menembus Gawang Swiss, Rekor Gol Beruntun Piala Dunia 2026 Akhirnya Putus!
BAGIKAN:

Laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Swiss di Stadion Kansas City, Missouri, berakhir dengan kemenangan 3-1 bagi La Albiceleste, namun momen yang menarik perhatian dunia adalah kegagalan Lionel Messi mencetak gol setelah lima pertandingan beruntun.

Meski tidak menemukan jaring, Messi tetap memberikan kontribusi vital dengan assist yang menghasilkan gol pembukaan dari Alexis Mac Allister pada menit ke-9, hasil tendangan corner yang dipanah ke atas dan dikopf oleh Mac Allister.

Gol lainnya datang dari JuliƔn Alvarez dalam perpanjangan (menit ke-112) dan penalti akhir dari Lautaro Martƭnez yang menegaskan kemenangan Argentina.

Sejak turnamen dimulai, Messi telah mencetak hattrick melawan Aljazair, dua gol terhadap Austria, satu gol terhadap Yordania, satu gol terhadap Cape Verde, dan satu gol kontroversial melawan Mesir, menambah totalnya menjadi delapan gol dan dua assist.

Rekor gol beruntun yang selama lima pertandingan beruntun terputus ini tidak mengurangi argumen bahwa Messi masih menjadi ancaman besar untuk pertahan lawan, terutama dengan visi dan kreativitasnya yang masih tajam.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat olahraga yang telah mengikuti karier Messi sejak masa mudanya, saya mengamati bahwa penurunan efisiensi mencetak gol dalam pertandingan ini lebih disebabkan oleh faktor taktis daripada penurunan kemampuan fisik. Swiss menjaga garis pertahanan yang sangat kompakt, dengan tiga tengah belakang yang selalu mengisi ruang di depan kotak penalti, sehingga mengurangi ruang bagi Messi untuk bergerak dan menembus.

Selain itu, pelatih Lionel Scaloni memilih untuk memanfaatkan Messi lebih sebagai pembuat permainan daripada penyerang utama, seperti yang terlihat dari frekuensi assist dan posisi yang lebih sering berada di tengah lapangan. Ini menunjukkan adaptasi tim Argentina yang lebih fleksibel, mengalihkan beban pencarian gol ke pemain seperti Ɓlvarez dan Martƭnez yang telah menunjukkan kemampuan finalisasi yang konsisten.

Meskipun rekornya berhenti, statistik Messi tetap mengesankan: delapan gol dan dua assist dalam tujuh pertandingan membuatnya tetap berada di puncak kompetisi top scorer bersama Kylian Mbappe. Jika Argentina lolos ke final, kemungkinan besar Messi akan menemukan celah lagi, terutama jika lawan seperti Inggris membuka ruang dengan gaya menyerang yang lebih terbuka.

Dari sudut pandang strategis, saya memprediksi bahwa dalam semifinal melawan Inggris, Messi akan kembali ke ruolo sebagai penyerang yang lebih forward, mengutip momen kejutannya dari tendangan bebas atau serangan cepat, karena pertahanan Inggris cenderung lebih tinggi dan rentang terhadap serangan dari luar kotak. Jika hal itu terwujud, kita mungkin akan menyaksikan rekornya kembali bertambah, dan mungkin bahkan mencetak gol kunci yang membawa Argentina ke final.