Maldini Ditunjuk Direktur Teknik FIGC: Harapan Baru atau Sekadar Ganti Wajah?
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Roma, 11 Juli 2026 – Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi mengumumkan penunjukan legenda AC Milan sekaligus mantan kapten timnas Italia, Paolo Maldini, sebagai Direktur Teknik. Pengumuman ini disampaikan melalui akun resmi FIGC di media sosial pada Minggu (10/7), menandai langkah strategis setelah kegagalan timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut‑turut.
Presiden FIGC, Giovanni Malago, menegaskan bahwa penunjukan Maldini merupakan bagian dari upaya menyelamatkan citra dan performa timnas yang kini berada di titik terendah dalam sejarah modernnya. "Saya sangat bangga mengumumkan bahwa Paolo Maldini akan memegang peran kunci sebagai Direktur Teknik," ujar Malago dalam pernyataannya.
Berusia 58 tahun, Maldini mencatat 126 penampilan bersama Azzurri dan menghabiskan seluruh karier klubnya di AC Milan, di mana ia mengumpulkan tujuh gelar Serie A. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Direktur Teknik Milan selama empat tahun, pengalaman yang kini diharapkan dapat diadaptasi ke level nasional.
Tak hanya itu, FIGC juga mengungkapkan bahwa mantan rekan setim Maldini, Leonardo, akan bergabung sebagai penasihat teknis. Menurut laporan media Italia, kontrak Maldini berlaku hingga 2028, memberi ruang bagi perencanaan jangka panjang.
Penunjukan ini terjadi tak lama setelah Malago terpilih sebagai presiden FIGC pada bulan lalu, menggantikan Gabriele Gravina yang mengundurkan diri pasca kegagalan kualifikasi Piala Dunia pada April. Kegagalan tersebut memicu kemarahan suporter dan kritik tajam dari kalangan politik, menuntut reformasi struktural dalam manajemen sepak bola Italia.
Tugas pertama Maldini jelas: menemukan pelatih baru untuk timnas. Gennaro Gattuso, yang sebelumnya memimpin Azzurri, telah diputuskan kontraknya setelah Italia kalah adu penalti melawan Bosnia‑Herzegovina dalam playoff Piala Dunia pada Maret. Dengan tekanan publik yang terus meningkat, keputusan ini menambah beban tanggung jawab baru bagi Maldini.
Analisis Pakar
Penunjukan Paolo Maldini, meski tampak menggugah nostalgia, harus dilihat dengan skeptisisme kritis. Sebagai seorang mantan pemain yang menghabiskan seluruh kariernya di satu klub, Maldini memiliki pemahaman mendalam tentang budaya klub, namun belum terbukti mampu mengelola dinamika tim nasional yang melibatkan beragam klub, gaya bermain, dan kepentingan politik. Pengalaman sebagai Direktur Teknik Milan memang relevan, namun konteksnya berbeda: Milan beroperasi dalam ekosistem klub yang terkontrol, sementara FIGC harus menyeimbangkan kepentingan federasi, liga domestik, dan tekanan internasional.
Lebih jauh, penunjukan Leonardo sebagai penasihat menimbulkan pertanyaan tentang transparansi proses seleksi. Kedua tokoh ini memiliki ikatan kuat dengan AC Milan, yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, terutama bila kebijakan teknis yang diusulkan menguntungkan klub tertentu atau mengabaikan kebutuhan tim nasional secara menyeluruh. Dalam era di mana akuntabilitas menjadi tuntutan utama, FIGC harus memastikan bahwa keputusan strategis tidak didominasi oleh jaringan pribadi.
Strategi jangka panjang yang diusung Maldini hingga 2028 juga menimbulkan keraguan. Tanpa kerangka kerja yang jelas—misalnya, rencana pengembangan akademi, kebijakan scouting, atau integrasi taktik modern—penunjukan ini berisiko menjadi simbolik semata. Jika tidak ada perubahan struktural pada sistem pembinaan pemain muda Italia, yang selama ini terkesan stagnan, maka hasilnya mungkin hanya menunda krisis, bukan mengatasinya.
Terakhir, kegagalan Italia di kualifikasi Piala Dunia bukan sekadar masalah taktik atau pelatih, melainkan cerminan kegagalan manajerial yang lebih luas. Pengalaman Maldini di lapangan tidak otomatis mentransfer ke ruang rapat strategis. Oleh karena itu, FIGC harus menggabungkan keahlian teknis dengan reformasi institusional, termasuk transparansi keuangan, pengawasan independen, dan kebijakan yang menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan klub. Hanya dengan pendekatan holistik, harapan bagi Azzurri untuk kembali bersaing di panggung dunia dapat terwujud.
BERITA TERKAIT

Patung Legenda NFL Jadi Magnet Selfie di Tengah Gemuruh Piala Dunia 2026: Fenomena Sosial atau Sekadar Hiasan Stadion?

Drama Ekstra Waktu! Norwegia vs Inggris di Miami, Gol Heggem Bikin Gempar!
