⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.2 di 56 km SSW of Sarangani, Philippines pada 12/7/2026, 00.49.31. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Lukisan Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi: Menteri Kebudayaan Minta Jaga Cagar Budaya Goa Liangkobori

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Lukisan Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi: Menteri Kebudayaan Minta Jaga Cagar Budaya Goa Liangkobori
BAGIKAN:

ANTARA - Penemuan lukisan gua terpahat di Goa Liangkobori, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kini menjadi sorotan dunia. Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif antara peneliti Indonesia dan Australia, lukisan cadas yang menghiasi dinding goa ini diperkirakan berusia 67.800 tahun, mengalahkan catatan sebelumnya tentang lukisan tertua di dunia. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, meminta seluruh pihak, termasuk masyarakat setempat, untuk bersama-sama menjaga warisan budaya ini agar tidak hancur atau dilupakan.

Fadli Zon menegaskan bahwa lukisan di Goa Liangkobori bukan hanya menjadi bukti kebesaran peradaban purba Indonesia, tetapi juga menuntun pemahaman manusia tentang awal mula ekspresi seni. "Kita harus menghargai warisan ini sebagai bagian dari identitas bangsa yang kaya," katanya dalam wawancara tertulis. Ia menekankan pentingnya perlindungan goa tersebut dari ancaman eksploitasi liar, kerusakan alam, hingga konflik kepentingan.

Penelitian yang melibatkan tim dari Universitas Gadjah Mada dan institusi Australia menggunakan metode radiocarbon serta analisis stratigrafi untuk menentukan usia lukisan. Temuan ini, selain memperkaya literatur arkeologi global, juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya kunci geografis, tetapi juga pusat peradaban manusia purba. Namun, tantangan besar masih terhadap upaya pelestarian, terutama di daerah yang minim akses dan infrastruktur.

Analisis Pakar: Warisan yang Mengguncang Dunia, Tantangan Pelestarian yang Mengancam

Penemuan lukisan di Goa Liangkobori bukan sekadar kabar biasa. Dengan usia yang melebihi 67.800 tahun, lukisan ini menggoyahkan narasi sebelumnya tentang asal-usul seni manusia. Jika diketahui bahwa seniman purba di Eropa seperti yang ada di gua Lascaux atau Chauvet hanya berusia sekitar 17.000 tahun, maka lukisan di Muna ini bisa menjadi 'bukti mati' bahwa kreativitas seni sudah ada jauh sebelum akal manusia modern berkembang. Ini menuntut kita untuk merevolusi cara kita memandang peradaban purba, bukan hanya sebagai 'kehidupan bertahan' tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang kompleks.

Namun, di balik kebesaran temuan ini, terkandung ironi. Indonesia, negara dengan ribuan tahun sejarah, sering kali kehilangan warisan budaya karena kurangnya pengawasan dan politik yang tidak konsisten. Goa Liangkobori, yang kini menjadi 'saksi bisu' peradaban purba, berada di daerah yang jauh dari sorotan publik. Apakah pemerintah daerah dan pusat sudah memiliki strategi konkret untuk melindungi situs ini? Atau hanya berhenti pada pernyataan di media? Tanpa tindakan nyata, lukisan ini bisa saja hancur karena vandalisme, aktivitas pertambangan, atau bahkan karena proyek pembangunan yang tidak memperhatikan nilai historis.

Kita juga perlu mempertanyakan peran masyarakat setempat dalam upaya pelestarian. Apakah mereka diangkat sebagai mitra utama, atau hanya dijadikan 'saksi' dalam proses penelitian? Jika lukisan ini memang menjadi milik bersama umat manusia, maka keterlibatan komunitas Muna harus lebih dari sekadar 'menjaga'. Mereka perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan, pendidikan, hingga pemanfaatan ekonomi berkelanjutan. Tanpa inklusi, upaya pelestarian bisa jadi hanya menjadi simbol kosong tanpa akar.

Dari sisi internasional, kolaborasi antara peneliti Indonesia dan Australia menunjukkan potensi sinergi ilmu pengetahuan. Namun, kita harus waspada terhadap 'kolonialisme ilmiah' yang sering kali mengorbankan kepentingan lokal demi kepentingan global. Apakah temuan ini akan menjadi hak kelompok kecil, atau akan dijadikan warisan kolektif yang memberdayakan bangsa Indonesia? Jawabannya tergantung pada kemampuan kita untuk menguasai narasi, bukan hanya sebagai objek penelitian, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam memperjuangkan warisan budaya sendiri.