⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.3 di 192 km WNW of Gorontalo, Indonesia pada 12/7/2026, 20.46.37. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Kuwait dan Oman Bersatu Kecam Serangan Iran di Selat Hormuz: Dampak Geopolitik dan Risiko Eskalasi Regional

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kuwait dan Oman Bersatu Kecam Serangan Iran di Selat Hormuz: Dampak Geopolitik dan Risiko Eskalasi Regional
BAGIKAN:

Kuwait dan Oman pada Minggu (12/7) secara serempak mengeluarkan pernyataan kecaman keras terhadap serangan yang dilancarkan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz serta fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Kedua negara menegaskan bahwa tindakan Iran menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga sipil dan stabilitas kawasan Teluk.

Kuwait melalui Kementerian Luar Negeri menilai aksi Iran sebagai "serangan keji" yang menempatkan warga Kuwait dalam bahaya. Menteri Luar Negeri menambahkan bahwa "lanjutan serangan ini merupakan eskalasi yang sangat berbahaya, memperburuk ketegangan, mengancam perdamaian dan keamanan regional, serta melemahkan upaya diplomatik yang bertujuan meredakan krisis melalui jalur damai." Kuwait menegaskan haknya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi melindungi kedaulatan dan keamanan nasional, sesuai dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Oman juga mengutuk serangan tersebut setelah wilayah Musandam—sebuah semenanjung pegunungan yang menjorok ke Selat Hormuz—menjadi sasaran drone. Pemerintah Oman menyatakan bahwa semua langkah yang diperlukan sedang diambil untuk menjaga keamanan negara dan penduduknya, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Oman (ONA).

Serangan Iran, yang diklaim oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai operasi "berat dan mendadak" terhadap pusat logistik dan platform pengisian bahan bakar yang mendukung kapal induk Amerika Serikat di pelabuhan Duqm, al-Wusta, menambah ketegangan di wilayah yang sudah rapuh. Selain Oman, Iran juga menargetkan Qatar, Bahrain, dan Kuwait pada hari yang sama, menuduh negara-negara Teluk memberikan dukungan kepada Amerika Serikat.

Iran menegaskan bahwa serangannya tidak ditujukan pada warga sipil atau infrastruktur sipil, melainkan pada apa yang mereka sebut "sumber serangan" yang mengancam wilayah Iran. Pihak Tehran menambahkan bahwa setiap kapal yang tidak berkoordinasi dengan otoritas Iran dan mencoba melintasi Selat Hormuz secara independen dianggap melanggar nota kesepahaman yang telah disepakati.

Analisis Pakar

Serangkaian serangan Iran ini menandai titik kritis dalam dinamika keamanan maritim di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperempat minyak dunia. Dari perspektif geopolitik, tindakan Tehran dapat dilihat sebagai upaya memperkuat posisi tawar dalam negosiasi regional, sekaligus mengirim sinyal kuat kepada sekutu Amerika Serikat bahwa dukungan militer mereka tidak dapat dianggap remeh. Namun, pendekatan konfrontatif ini berisiko menimbulkan spiral eskalasi yang melibatkan kekuatan eksternal, terutama Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan strategis dalam menjaga kebebasan navigasi di selat tersebut.

Reaksi serentak Kuwait dan Oman menunjukkan adanya konsolidasi politik di antara negara-negara Teluk yang merasa terancam oleh kebijakan agresif Iran. Kedua negara, meski memiliki hubungan diplomatik yang relatif baik dengan Tehran, kini menegaskan kembali komitmen mereka terhadap keamanan nasional dan kedaulatan, sekaligus menyiapkan landasan hukum internasional untuk kemungkinan tindakan balasan atau peningkatan pertahanan maritim. Ini mencerminkan perubahan paradigma di mana negara-negara kecil di kawasan berusaha menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi (seperti perdagangan minyak) dan kebutuhan keamanan yang mendesak.

Secara ekonomi, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu volatilitas harga minyak global, mengingat ketergantungan pasar internasional pada aliran energi dari Teluk. Investor dan perusahaan energi kemungkinan akan menyesuaikan strategi mereka, termasuk diversifikasi rute pengiriman dan peningkatan stok cadangan. Di sisi lain, tekanan pada infrastruktur logistik Iran—seperti fasilitas pengisian bahan bakar di Duqm—dapat memperburuk hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara sahabat, mengingat sanksi internasional yang sudah membatasi aksesnya ke pasar global.

Ke depan, skenario yang paling mungkin adalah peningkatan diplomasi multilateral yang dipimpin oleh PBB atau organisasi regional seperti Liga Arab, yang berupaya meredam ketegangan melalui dialog dan mekanisme verifikasi. Namun, jika Iran tetap menganggap serangan ini sebagai balasan sah atas dukungan Barat kepada negara-negara Teluk, maka risiko konfrontasi militer terbuka tidak dapat diabaikan. Pengamat menilai bahwa langkah-langkah preventif—seperti penempatan kapal patroli internasional atau perjanjian keamanan maritim yang melibatkan semua pihak—akan menjadi kunci untuk mencegah konflik yang meluas.