Korsleting Fatal di Wahana Bianglala Pasar Malam Deliserdang: 30 Penumpang Terkurung, Penyelamatan Memakan Waktu Berjam-jam

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Korsleting Fatal di Wahana Bianglala Pasar Malam Deliserdang: 30 Penumpang Terkurung, Penyelamatan Memakan Waktu Berjam-jam
BAGIKAN:

Deliserdang, Sumatera Utara – Sebuah insiden mengerikan terjadi pada Sabtu malam (11/7) ketika wahana bianglala di pasar malam Jalan Beo Raya, Desa Laut Dendang, terhenti secara tiba-tiba akibat kerusakan mesin. Sebanyak 30 orang, termasuk 16 dewasa dan 14 anak-anak, terjebak di ketinggian selama lebih dari satu jam.

Menurut keterangan Komandan Tim Rescue C, Sudarso Roy Simatupang, tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Deliserdang menerima laporan sekitar pukul 21.48 WIB dan segera menyiapkan peralatan penyelamatan. Bantuan tambahan datang dari mobil skylift Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan serta tim PSC 119 Deliserdang.

Proses evakuasi baru dapat dimulai pada pukul 22.42 WIB setelah tim memastikan keamanan area kerja. Penurunan penumpang selesai pada dini hari, tepatnya pukul 00.15 WIB, 12 Juli 2024. Seluruh korban berhasil dievakuasi dengan selamat, meski dua orang dari pihak pengelola mengalami luka ringan.

Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa korsleting listrik menjadi pemicu utama kerusakan wahana, yang menyebabkan gangguan pada sistem penggerak. Setelah evakuasi, petugas medis memberikan pemeriksaan awal kepada semua penumpang, dan situasi di lokasi kembali kondusif.

Insiden ini menarik perhatian warga sekitar, yang berkumpul menyaksikan proses penyelamatan yang melibatkan skylift dan peralatan khusus. Meskipun tidak ada korban jiwa, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keamanan dan pengawasan terhadap atraksi publik di wilayah ini.

Analisis Pakar

Kasus bianglala di Deliserdang mengungkap celah kritis dalam regulasi keselamatan wahana hiburan tradisional. Di banyak daerah, pengawasan teknis masih bersifat reaktif, mengandalkan inspeksi sesekali yang tidak memadai untuk mengidentifikasi risiko listrik atau mekanik yang tersembunyi. Padahal, wahana yang beroperasi pada malam hari dan melibatkan anak-anak memerlukan standar keamanan yang setara dengan atraksi komersial berskala besar.

Faktor utama yang menonjol adalah kurangnya prosedur pemeliharaan rutin yang terdokumentasi. Korsleting listrik yang menjadi penyebab utama kerusakan biasanya dapat dicegah melalui inspeksi berkala, penggunaan komponen yang bersertifikat, serta pelatihan operator mengenai penanganan darurat. Tanpa adanya audit independen, operator pasar malam cenderung mengandalkan pengetahuan informal, meningkatkan potensi kegagalan sistem.

Selain itu, koordinasi antar lembaga penegak hukum, Dinas Pemadam Kebakaran, dan otoritas pariwisata masih jauh dari optimal. Pada kasus ini, respons penyelamatan memakan waktu lebih lama karena keterbatasan peralatan khusus di daerah. Diperlukan kebijakan yang mengintegrasikan penyediaan peralatan seperti skylift atau alat angkat lainnya ke dalam anggaran daerah, serta pelatihan lintas sektoral untuk mempercepat respons.

Ke depan, saya menilai bahwa pemerintah provinsi dan pusat harus mengeluarkan regulasi yang mewajibkan sertifikasi keselamatan bagi semua wahana, termasuk pasar malam tradisional. Pengawasan harus bersifat proaktif dengan audit berkala, serta sanksi tegas bagi pelanggar. Jika tidak, insiden serupa dapat terulang, menimbulkan risiko yang lebih tinggi, terutama bagi anak-anak yang menjadi sasaran utama hiburan semacam ini.