Kampus Mandala Waluya Gencarkan Program Pencegahan Gagal Ginjal pada Remaja: Ambisi Besar, Tantangan Lebih Besar

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kampus Mandala Waluya Gencarkan Program Pencegahan Gagal Ginjal pada Remaja: Ambisi Besar, Tantangan Lebih Besar
BAGIKAN:

Kendari, 12 Juli 2026 – Universitas Mandala Waluya (UMW) meluncurkan inisiatif Sehati‑Remaja yang menargetkan siswa sekolah menengah di Sulawesi Tenggara untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat demi mencegah gangguan ginjal sejak usia dini. Program ini, yang dipimpin oleh Asbath Said selaku Ketua Tim Pelaksana, mengklaim dapat mengubah pola konsumsi cairan remaja yang masih didominasi minuman bersoda dan berpemanis, sekaligus meningkatkan literasi kesehatan melalui media digital dan jurnal harian.

Rangkaian kegiatan meliputi pembentukan kader siswa, distribusi buku saku, pemasangan papan monitoring perilaku sehat, serta penyediaan kode QR yang mengarahkan ke materi edukasi interaktif. Siswa diminta mencatat volume konsumsi air putih dan minuman manis setiap hari, sehingga pihak sekolah dapat memantau perubahan perilaku secara berkala.

Menurut Asbath, "pencegahan gangguan ginjal tidak bisa menunggu sampai dewasa; edukasi harus dimulai sejak remaja, terutama melalui lingkungan sekolah." Ia menekankan bahwa kebiasaan sederhana seperti meningkatkan asupan air putih dan mengurangi minuman berpemanis dapat memberikan dampak signifikan pada kesehatan ginjal jangka panjang.

Pihak sekolah menyambut baik program ini, menyebutnya sebagai pelengkap Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan upaya memperkuat budaya hidup sehat di lingkungan pendidikan. Program Sehati‑Remaja juga merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai inisiatif ini memiliki niat mulia namun tidak lepas dari sejumlah pertanyaan kritis. Pertama, sejauh mana efektivitas pendekatan berbasis sekolah dalam mengubah perilaku konsumsi cairan remaja? Data empiris yang mendukung klaim perubahan signifikan masih minim, dan tanpa evaluasi longitudinal, program ini berisiko menjadi sekadar kampanye satu kali yang kehilangan momentum setelah fase peluncuran.

Kedua, keberlanjutan program sangat bergantung pada sumber daya yang disediakan oleh universitas dan pemerintah. Apakah ada alokasi anggaran yang jelas untuk pemeliharaan materi digital, pelatihan kader, serta pengawasan jurnal harian? Tanpa komitmen finansial jangka panjang, inisiatif ini dapat terhenti ketika pergantian kepengurusan atau perubahan prioritas kebijakan.

Ketiga, program ini tampak mengabaikan faktor sosial‑ekonomi yang memengaruhi pilihan minuman remaja. Di banyak daerah di Sulawesi Tenggara, akses air bersih masih menjadi tantangan, sementara minuman bersoda seringkali lebih terjangkau dan mudah didapat. Tanpa mengatasi akar masalah infrastruktur dan harga, edukasi semata tidak akan cukup menggeser perilaku konsumsi.

Terakhir, peran media digital sebagai sarana edukasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Remaja memang menghabiskan banyak waktu di ponsel, namun mereka juga terpapar iklan minuman manis yang agresif. Tanpa strategi komunikasi yang kompetitif, materi edukatif UMW berisiko tenggelam di antara konten komersial yang lebih menarik.

Kesimpulannya, program Sehati‑Remaja merupakan langkah positif dalam upaya preventif kesehatan ginjal, namun keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan UMW dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengatasi tantangan struktural, memastikan pendanaan berkelanjutan, serta mengintegrasikan evaluasi berbasis data yang transparan. Hanya dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, inisiatif ini dapat bertransformasi dari sekadar program edukasi menjadi model replikasi nasional yang nyata.