Kaghati Kolope: Festival Layang‑Layang Muna yang Menggugah, Tapi Apakah Itu Cukup Untuk Menyelamatkan Warisan Budaya?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kaghati Kolope: Festival Layang‑Layang Muna yang Menggugah, Tapi Apakah Itu Cukup Untuk Menyelamatkan Warisan Budaya?
BAGIKAN:

Di tengah hamparan hutan lebat dan batu-batu purba Goa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, sebuah festival layang‑layang bernama Kaghati Kolope digelar pada Minggu (12/7). Acara ini diprakarsai oleh pemerintah daerah sebagai upaya merawat dan menghidupkan kembali warisan budaya leluhur Muna.

Festival ini tidak sekadar pertunjukan seni; ia menjadi simbol perjuangan Pemda Muna melestarikan jejak peradaban yang telah lama terpinggirkan. Dengan menampilkan layang‑layang tradisional yang dibentuk dari bambu dan kertas, para pelaksana berharap dapat menyalakan kembali minat generasi muda terhadap nilai-nilai budaya yang kaya.

Namun, di balik keindahan layang‑layang yang melayang di udara, muncul pertanyaan kritis: Apakah sebuah festival saja sudah cukup untuk menahan arus modernisasi yang menekan identitas lokal? Sejauh mana pemerintah dan masyarakat setempat dapat menjadikan acara ini sebagai katalis perubahan jangka panjang, bukan sekadar perayaan sesaat?

Menurut beberapa pengamat, keberhasilan Kaghati Kolope tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau keindahan visualnya, melainkan dari dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkannya. Apakah festival ini mampu membuka lapangan kerja bagi pengrajin lokal? Apakah ia dapat menarik minat pariwisata yang berkelanjutan? Dan yang paling penting, apakah ia dapat menginspirasi generasi muda untuk melestarikan tradisi mereka?

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis senior investigasi, saya melihat Kaghati Kolope sebagai contoh konkret bagaimana pemerintah daerah berusaha memanfaatkan budaya sebagai alat pembangunan. Namun, strategi ini sering kali terjebak dalam siklus “soft power” yang tidak terintegrasi dengan kebijakan ekonomi dan pendidikan. Tanpa kerangka kerja yang jelas, festival ini berisiko menjadi acara sekali‑sekali yang tidak menimbulkan perubahan struktural.

Selanjutnya, penting untuk menilai bagaimana festival ini berinteraksi dengan dinamika sosial di Muna. Masyarakat Muna, yang sebagian besar masih bergantung pada pertanian tradisional, mungkin tidak memiliki akses yang memadai ke teknologi atau modal untuk memproduksi layang‑layang secara komersial. Jika pemerintah tidak menyediakan pelatihan dan fasilitas, potensi ekonomi dari festival ini akan terbatas pada sektor pariwisata yang tidak stabil.

Di sisi lain, Kaghati Kolope dapat menjadi titik awal bagi dialog lintas generasi. Jika festival ini dipadukan dengan program pendidikan di sekolah-sekolah lokal—misalnya, pelajaran tentang sejarah dan teknik pembuatan layang‑layang—maka warisan budaya dapat ditransmisikan secara lebih sistematis. Tanpa mekanisme tersebut, risiko kehilangan pengetahuan tradisional tetap tinggi, terutama ketika generasi muda lebih tertarik pada gaya hidup global.

Prediksi saya adalah bahwa keberlanjutan festival ini akan bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas. Jika semua pihak dapat menyatukan visi—dari pelestarian budaya hingga pengembangan ekonomi—maka Kaghati Kolope dapat bertransformasi menjadi model pelestarian budaya yang dapat ditiru oleh daerah lain. Namun, jika hanya berfokus pada pameran estetika tanpa strategi jangka panjang, festival ini akan tetap menjadi “kegiatan hiburan” yang tidak berdampak signifikan pada identitas dan ekonomi lokal.