⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 27 km SSE of Tambolaka, Indonesia pada 12/7/2026, 20.20.25. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Empat Raksasa Tersingkir di Perempat Final Piala Dunia 2026: Drama, Kejutan, dan Taktik Memukau!

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Empat Raksasa Tersingkir di Perempat Final Piala Dunia 2026: Drama, Kejutan, dan Taktik Memukau!
BAGIKAN:

Swiss menjadi tim keempat yang harus menelan kepahitan di babak perempat final Piala Dunia 2026. Di Stadion Kansas City, Amerika Serikat, anak asuh Murat Yakin berhadapan dengan juara bertahan Argentina dalam laga yang memakan waktu ekstra. Argentina membuka keunggulan lewat sundulan Alexis Mac Allister pada menit ke‑10, namun Swiss bangkit dan menyamakan kedudukan berkat tembakan keras Breel Embolo yang menampar tiang gawang Emiliano Martínez pada menit ke‑67.

Sayangnya, Swiss harus bermain dengan 10 orang setelah Embolo menerima kartu kuning kedua karena diving. Kelebihan jumlah pemain dimanfaatkan Argentina secara maksimal: Julian Álvarez menambah angka lewat gol cantik, diikuti oleh serangan terukur Lautaro Martínez yang menutup skor 3‑1. Swiss pun terpaksa melenggang ke luar turnamen.

Norwegia menjadi tim ketiga yang terhenti di perempat final setelah pertempuran sengit melawan Inggris di Stadion Miami. Pertandingan berlangsung hingga 120 menit, namun Inggris berhasil mengamankan kemenangan yang menyingkirkan Norwegia dari semifinal.

Belgia juga harus menelan pahit setelah kalah tipis 2‑1 dari Spanyol di Stadion SoFi pada Kamis, 10 Juli. Gol-gol Spanyol yang terorganisir dengan apik membuat Belgia tak mampu melanjutkan perjuangan mereka.

Tim pertama yang tidak melaju ke semifinal adalah Maroko. Di Rabu, 9 Juli, Prancis menundukkan Maroko dengan skor 2‑0, menutup babak perempat final dengan dominasi yang tak terbantahkan.

Analisis Pakar

Melihat keseluruhan turnamen, terlihat jelas bahwa taktik defensif yang solid dan fleksibilitas dalam transisi menyerang menjadi kunci utama bagi tim-tim yang berhasil melaju ke semifinal. Argentina, misalnya, tidak hanya mengandalkan bintang seperti Messi, melainkan menampilkan permainan kolektif yang terstruktur, memanfaatkan keunggulan jumlah pemain pada fase krusial. Keputusan wasit yang memberi kartu kuning kedua kepada Embolo menjadi titik balik yang mengubah dinamika pertandingan, menegaskan pentingnya disiplin dalam situasi tekanan tinggi.

Di sisi lain, kegagalan Norwegia melawan Inggris menyoroti kurangnya kedalaman skuad. Meskipun memiliki pemain muda berbakat, mereka belum mampu menyesuaikan diri dengan kecepatan dan intensitas permainan Inggris yang mengandalkan pressing tinggi. Ini menjadi pelajaran berharga bagi federasi Norwegia untuk memperkuat aspek fisik dan taktik dalam persiapan turnamen berikutnya.

Belgia, yang selama ini dikenal dengan “generasi emas” mereka, tampak kehilangan sinergi tim. Kekalahan tipis melawan Spanyol mengindikasikan bahwa meski memiliki talenta individu, mereka belum menemukan formula taktik yang konsisten untuk menahan serangan lawan yang terorganisir. Perlu ada evaluasi mendalam mengenai peran gelandang kreatif dan penyesuaian formasi yang lebih adaptif.

Terakhir, Maroko harus menelan kekalahan melawan Prancis, yang menunjukkan bahwa kualitas teknis dan pengalaman internasional masih menjadi faktor penentu. Prancis menampilkan pola permainan yang menggabungkan kontrol bola tinggi dengan serangan balik cepat, sementara Maroko tampak terjebak dalam pola pertahanan pasif. Untuk masa depan, Maroko harus mengembangkan strategi yang lebih agresif dan memanfaatkan kecepatan sayap mereka secara maksimal.