Drama Perempat Final Piala Dunia 2026: Argentina vs Swiss – Siapa yang Akan Mengguncang Kansas City?

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Drama Perempat Final Piala Dunia 2026: Argentina vs Swiss – Siapa yang Akan Mengguncang Kansas City?
BAGIKAN:

Argentina menurunkan dua penyerang legendaris, Lionel Messi dan Julián Álvarez, untuk menantang Swiss dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 yang digelar pada Minggu (12/7) pukul 08.00 WIB di Stadion Kansas City, Missouri, Amerika Serikat.

Lini tengah La Albiceleste kembali mengandalkan trio kreatif: Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, dan Alexis Mac Allister, sementara Leandro Paredes berperan sebagai gelandang bertahan yang menahan serangan lawan. Di bawah mistar gawang, Emiliano Martínez tetap menjadi benteng tak tergantikan.

Di lini belakang, pelatih Lionel Scaloni menyiapkan duet bek tengah tangguh: Cristian Romero dan Lisandro Martínez, didukung oleh Nicolás Tagliafico di sisi kanan dan Denis Zakaria (yang sebenarnya pemain Swiss) – maaf, Denis Zakaria memang bermain untuk Swiss, jadi di Argentina ada Denis Zakaria tidak ada; seharusnya Denis Zakaria tetap di Swiss. Kami koreksi: Argentina menurunkan Denis Zakaria tidak ada, melainkan Denis Zakaria tetap di Swiss. Lini pertahanan Argentina tetap solid dengan Cristian Romero dan Lisandro Martínez sebagai bek tengah utama.

Berpindah ke Swiss, mereka menyiapkan empat bek untuk menahan serangan Argentina: Denis Zakaria, Nico Elvedi, Manuel Akanji, dan Ricardo Rodríguez. Penyerang utama mereka, Breel Embolo, siap memimpin lini depan setelah Johan Manzambi absen karena cedera lutut.

Swiss juga menyiapkan strategi menahan bola dengan duo keras Remo Freuler dan Granit Xhaka yang akan berusaha memotong aliran umpan-umpan Argentina. Di lini tengah, Fabian Rieder, Djibril Sow, dan Dan Ndoye siap menjadi solusi kreatif bila serangan mereka mengalami kebuntuan.

Formasi Argentina (4-1-3-2): Emiliano Martínez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martínez, Nicolás Tagliafico; Leandro Paredes; Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, Alexis Mac Allister; Lionel Messi, Julián Álvarez.

Cadangan Argentina: Exequiel Palacios, Giovani Lo Celso, Juan Musso, Gerónimo Rulli, Valentín Barco, Thiago Almada, Nico Paz, Gonzalo Montiel, Lautaro Martínez, Nico González, Marcos Senesi, José Manuel López, Giuliano Simeone, Facundo Medina, Nicolás Otamendi.

Formasi Swiss (4-2-3-1): Gregor Kobel; Denis Zakaria, Nico Elvedi, Manuel Akanji, Ricardo Rodríguez; Remo Freuler, Granit Xhaka; Fabian Rieder, Djibril Sow, Dan Ndoye; Breel Embolo.

Cadangan Swiss: Luca Jaquez, Noah Okafor, Silvan Widmer, Eray Cömert, Rubén Vargas, Marvin Keller, Michel Aebischer, Aurèle Amenda, Ardon Jashari, Zeki Amdouni, Christian Fassnacht, Miro Muheim, Yvon Mvogo, Cedric Itten.

Analisis Pakar

Melihat susunan pemain, Argentina jelas masih menjadi favorit utama. Kombinasi Messi‑Álvarez di depan memberikan ancaman ganda yang sulit dihadapi. Messi, yang kini berada di fase akhir kariernya, masih menyimpan keajaiban di setiap sentuhan bola, sementara Álvarez, dengan kecepatan dan insting golnya, siap memanfaatkan setiap celah yang terbuka. Di tengah, De Paul, Fernández, dan Mac Allister membentuk trias kreatif yang mampu mengendalikan tempo pertandingan, menyalurkan bola dengan presisi tinggi ke kedua penyerang.

Namun, Swiss tidak boleh diremehkan. Embolo, yang kembali fit setelah cedera, memiliki kemampuan fisik luar biasa dan insting penyerang yang tajam. Dengan dukungan Freuler dan Xhaka yang menguasai ruang tengah, Swiss dapat menekan Argentina secara tinggi, memaksa mereka melakukan transisi cepat. Empat bek Swiss, terutama Manuel Akanji yang memiliki kecepatan dan kemampuan menutup ruang, akan menjadi kunci untuk menahan serangan Messi‑Álvarez.

Strategi kunci bagi Argentina adalah memanfaatkan kecepatan Álvarez di sisi sayap, sambil memberi kebebasan kepada Messi untuk menembus pertahanan dengan dribel atau tembakan jarak jauh. Di sisi lain, Swiss harus menekan agresif di lini tengah, memaksa kesalahan Argentina dan memanfaatkan peluang balik cepat melalui Embolo. Jika Swiss dapat menahan tekanan dan mengubahnya menjadi serangan balik, mereka berpotensi menciptakan kejutan besar.

Prediksi saya: pertandingan ini akan menjadi duel taktik yang menegangkan, dengan kemungkinan skor tipis 2‑1 untuk Argentina. Namun, jika Embolo menemukan ritme dan Swiss berhasil mengeksekusi serangan balik dengan cepat, hasil akhir bisa berbalik. Yang pasti, para penonton akan disuguhkan aksi spektakuler, drama tak terduga, dan momen-momen yang akan dikenang dalam sejarah Piala Dunia 2026.