Rekor MURI Pecah: 1.588 Penari Menggebrak Jalan Sleman‑Gunungkidul dengan Senam Penthul Tembem

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Rekor MURI Pecah: 1.588 Penari Menggebrak Jalan Sleman‑Gunungkidul dengan Senam Penthul Tembem
BAGIKAN:

Gunungkidul, Yogyakarta – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berhasil mencatatkan rekor baru dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan menggelar Senam Kreasi Penthul Tembem yang melibatkan 1.588 peserta perempuan di jalur alternatif Sleman‑Gunungkidul. Acara ini menjadi puncak Geopark Night Specta (GNS) 2026, sebuah festival yang diselenggarakan di kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

Senam Kreasi Penthul Tembem menggabungkan gerakan kebugaran modern dengan elemen tari tradisional Reog Keprajuritan, khususnya karakter topeng Penthul dan Tembem yang dikenal dengan kelucuan serta keunikan visualnya. Dengan memadukan olahraga dan warisan budaya, penyelenggara mengklaim bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kebugaran, tetapi juga sarana pelestarian budaya lokal.

Menurut data resmi yang dirilis oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, semua peserta adalah perempuan berusia antara 18 hingga 55 tahun, yang datang dari berbagai kecamatan di wilayah Yogyakarta. Mereka berbaris dalam formasi berulang‑ulang, menampilkan gerakan sinkron yang menuntut stamina tinggi serta pemahaman mendalam akan gerakan tari tradisional.

Rekor ini sekaligus menyoroti upaya pemerintah daerah dalam mempromosikan potensi geopark Nglanggeran sebagai destinasi wisata budaya dan alam. Namun, di balik sorotan positif, muncul pertanyaan kritis mengenai alokasi sumber daya, keamanan peserta, serta dampak jangka panjang terhadap pelestarian autentik seni tradisional.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat fenomena ini dari tiga sudut utama. Pertama, komodifikasi budaya. Mengubah tarian tradisional menjadi atraksi massal untuk mencetak rekor dapat mengaburkan makna asli seni tersebut. Penthul dan Tembem, yang awalnya berfungsi sebagai simbol sosial dan ritual, kini dipaksa menyesuaikan diri dengan standar kebugaran modern, berisiko menghilangkan nilai estetika dan spiritualnya.

Kedua, aspek keamanan dan kesehatan. Menggerakkan hampir dua ribu orang dalam satu sesi senam memerlukan persiapan medis yang memadai—dari tim pertolongan pertama hingga fasilitas rujukan. Sayangnya, laporan resmi belum mengungkapkan detail tentang protokol kesehatan, yang menjadi penting mengingat iklim tropis dan potensi kelelahan ekstrem.

Ketiga, penggunaan dana publik. Pemerintah daerah mengalokasikan anggaran signifikan untuk logistik, promosi, dan infrastruktur pendukung acara ini. Dalam konteks ekonomi daerah yang masih bergantung pada pertanian dan pariwisata, penting untuk menilai apakah investasi tersebut memberikan ROI yang sebanding—baik dari sisi peningkatan kunjungan wisatawan maupun penciptaan lapangan kerja berkelanjutan.

Ke depan, saya memperkirakan dua skenario utama. Jika pemerintah dapat mengintegrasikan program kebugaran ini dengan kurikulum pendidikan budaya lokal, maka rekor MURI dapat menjadi batu loncatan bagi revitalisasi seni tradisional yang relevan dengan generasi muda. Sebaliknya, bila fokus tetap pada pencapaian angka semata, risiko “fenomena hit‑or‑miss” akan muncul, di mana acara serupa menjadi sekadar gimmick tanpa dampak jangka panjang.

Oleh karena itu, penting bagi semua pemangku kepentingan—pemerintah, seniman, akademisi, dan masyarakat—untuk menilai kembali tujuan utama dari kegiatan semacam ini. Apakah kita benar‑benar melestarikan warisan budaya, atau sekadar mengejar sorotan media? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah rekor MURI ini akan dikenang sebagai tonggak kebudayaan atau sekadar catatan sementara dalam buku sejarah hiburan publik.