Dakwah 4.0: Khofifah Tantang Muslimat NU Taklukkan Kecerdasan Buatan demi Benteng Ideologi

Agama
Maulana IbrahimMaulana Ibrahim
Maulana Ibrahim
Maulana Ibrahim
Pakar Sejarah Islam

Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

Dakwah 4.0: Khofifah Tantang Muslimat NU Taklukkan Kecerdasan Buatan demi Benteng Ideologi
BAGIKAN:

SURABAYA — Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melontarkan sebuah sinyal tegas yang tak bisa diabaikan oleh jaringan organisasi perempuan terbesar di Indonesia, Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Dalam sebuah momentum yang krusial, sosok yang juga pernah memimpin organisasi ini ini menegaskan urgensi transformasi dakwah konvensional menuju panggung digital. Bukan sekadar beralih media, Khofifah mendorong agar kader Muslimat NU tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, melainkan menjadi pengendali cerdas yang memanfaatkan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai amunisi utama syiar Islam.

Dalam pandangannya, teknologi dan AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan medan perang baru untuk merebut hati dan pikiran umat. Pesan keagamaan yang selama ini mengalir di majelis-majelis taklim kini harus mampu menembus batasan ruang dan waktu melalui algoritma digital. Namun, di balik ajakan progresif tersebut, Khofifah menyisipkan peringatan keras: kemajuan teknologi wajib diimbangi dengan etika dan tanggung jawab yang kokoh, agar dakwah tidak tersesat dalam arus informasi yang kacau.

Analisis Pakar: Oportunisme Digital dan Dilema Etika AI dalam Ekosistem Dakwah

Ajakan yang dilontarkan Khofifah ini, jika dikupas secara mendalam, bukanlah sekadar seruan administratif organisasi. Ini adalah sebuah pengakuan realistis bahwa struktur keagamaan tradisional sedang menghadapi ancaman eksistensial di era disrupsi. Kita menyaksikan bagaimana generasi muda kini lebih banyak menyerap informasi—termasuk nilai-nilai keagamaan—dari algoritma media sosial daripada ceramah langsung di masjid. Jika Muslimat NU, dengan basis massa yang luar biasa besar, gagal beradaptasi dengan ekosistem ini, maka relevansi kultural mereka akan tergerus oleh konten-konten keagamaan yang instan, populis, dan seringkali dangkal yang beredar di TikTok atau Instagram.

Namun, di sinilah letak ketajaman analisis yang perlu dikritisi. Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam dakwah adalah pedang bermata dua. AI memiliki kemampuan untuk mempersonalisasi konten dakwah, menganalisis data demografi, hingga menyebarkan pesan dengan efisiensi yang tak tertandingi oleh manusia. Namun, kita juga harus waspada terhadap 'kotak hitam' algoritma tersebut. Siapa yang menjamin bahwa data yang digunakan AI untuk menyusun narasi dakwah itu bebas dari bias? Siapa yang bertanggung jawab jika konten yang dihasilkan oleh AI justru memicu perpecahan atau menyimpang dari kaidah Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi doktrin NU? Khofifah menyebut 'etika', tetapi menerapkan etika pada teknologi yang sifatnya otonom dan belajar terus-menerus adalah tantangan yang jauh lebih rumit daripada sekadar membuat kode etik jurnalistik.

Dari perspektif politik dan sosiologis, manuver ini juga bisa dibaca sebagai strategi konsolidasi kekuatan basis massa di ruang maya. Khofifah adalah seorang politisi ulung, dan dia sadar betul bahwa digitalisasi dakwah adalah sarana efektif untuk mempertahankan pengaruh. Dengan mengomando Muslimat NU untuk 'menguasai' AI, ia sedang mempersiapkan sebuah pasukan siber (cyber army) yang berbasis kultural dan religius. Ini adalah langkah strategis untuk memerangi narasi-narasi radikal atau kelompok-kelompok lain yang mungkin lebih dulu menguasai ruang digital. Pertanyaannya adalah, apakah infrastruktur literasi digital para kader Muslimat NU di tingkat akar rumput sudah siap untuk menerima beban teknologi setinggi AI? Atau justru ini akan menciptakan kesenjangan baru antara elit organisasi yang melek teknologi dengan akar rumput yang masih berjuang dengan literasi dasar?

Prediksi saya, ke depan, kita akan melihat lahirnya konten-konten dakwah yang sangat canggih secara visual dan data-driven, namun risikonya adalah terjadinya komodifikasi agama. Dakwah bisa saja berubah menjadi industri konten yang mengejar 'view' dan 'engagement' di bawah kendali algoritma AI, menggeser tujuan sakralnya menjadi tujuan statistik. Oleh karena itu, kritik terbesar saya terhadap inisiatif ini bukan pada niatnya, melainkan pada kurikulum literasi digitalnya. Transformasi digital tanpa fondasi kritis yang kuat hanyalah menggantungkan pedang di atas leher kita sendiri. Muslimat NU harus memastikan bahwa mereka yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.