Uji Tahan Changan Deepal S05 BEV & REEV di Jalur Jakarta‑Sukabumi‑Bandung: Kenyamanan vs Tantangan EV Lokal
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Jakarta (ANTARA) – Penilaian sebuah mobil tidak semata‑mata dilihat dari lembar spesifikasi, melainkan dari bagaimana kendaraan itu berperilaku ketika menaklukkan medan nyata. Pada 7–8 Juli, tim redaksi melakukan uji coba Changan Deepal S05 dalam dua varian – Battery Electric Vehicle (BEV) dan Range‑Extended Electric Vehicle (REEV) – menempuh rute Jakarta‑Sukabumi‑Bandung yang menantang.
Rute tersebut menggabungkan kemacetan perkotaan, jalan tol berkecepatan tinggi, serta jalur pegunungan berliku dengan tanjakan curam, turunan menurun, dan jalan sempit yang dipadati truk. Dalam semua kondisi itu, Deepal S05 menunjukkan karakter berkendara yang konsisten: akselerasi responsif, stabilitas pada tikungan, dan tidak ada rasa getaran berlebih saat melaju menuruni lereng.
Kenyamanan kabin menjadi nilai jual utama. Dengan panjang bodi 4.620 mm dan wheelbase 2.880 mm, SUV ini menawarkan ruang kaki dan kepala yang lega di baris pertama maupun kedua. Penumpang dapat duduk berjam‑jam tanpa merasa sesak, bahkan pada perjalanan panjang yang melelahkan. Kursi dilapisi bahan yang terasa premium, dan suspensi menyerap guncangan dengan baik, menjadikan setiap kilometer terasa mulus.
Bagasi pun tidak kalah menarik. Kapasitas ruang kargo cukup luas untuk menampung koper, perlengkapan outdoor, atau barang belanjaan dalam jumlah signifikan. Hal ini menjadi keunggulan bagi keluarga atau profesional yang sering melakukan perjalanan antar kota.
Secara keseluruhan, Deepal S05 berhasil menyeimbangkan performa listrik dengan kenyamanan interior, menjadikannya kandidat kuat di segmen SUV listrik menengah. Namun, tantangan infrastruktur pengisian daya dan persepsi konsumen terhadap merek China masih menjadi pertanyaan besar bagi penetrasi pasar domestik.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat bahwa keberhasilan teknis Deepal S05 tidak otomatis menjamin keberhasilan komersial di Indonesia. Pemerintah masih berjuang membangun jaringan stasiun pengisian daya yang memadai, terutama di wilayah non‑metropolitan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, konsumen akan ragu beralih ke varian REEV yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal sebagai generator cadangan.
Lebih jauh, persepsi publik terhadap mobil buatan China masih dipengaruhi oleh isu kualitas dan layanan purna jual. Changan harus menyiapkan jaringan layanan yang luas, suku cadang yang mudah diakses, dan garansi yang kompetitif untuk menumbuhkan kepercayaan. Tanpa langkah ini, bahkan mobil dengan spesifikasi unggul sekalipun akan terjebak dalam keraguan pembeli.
Dari perspektif industri, masuknya Deepal S05 menandai persaingan yang semakin ketat di pasar EV Indonesia. Produsen lokal dan merek asing lainnya harus menyiapkan strategi harga yang realistis, mengingat daya beli mayoritas konsumen masih sensitif terhadap harga. Jika Changan dapat menawarkan paket pembiayaan atau insentif pemerintah secara agresif, peluangnya untuk merebut pangsa pasar akan meningkat.
Ke depan, saya memprediksi bahwa kendaraan listrik dengan teknologi REEV akan menjadi jembatan penting bagi konsumen yang belum siap beralih sepenuhnya ke BEV. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, dan komitmen produsen dalam menyediakan layanan purna jual yang memadai. Tanpa ketiga faktor tersebut, Deepal S05 berisiko menjadi sekadar “produk demo” yang mengesankan di jalan raya, namun gagal menancapkan jejaknya di pasar otomotif Indonesia.
BERITA TERKAIT

Pengunduran Diri Jampidsus Febrie Adriansyah: Skandal Emas Batangan dan Uang Tunai Mengguncang Kejaksaan

Samsat Keliling Jadetabek: Layanan Praktis atau Sekadar Lip Service?
