Operasi Water Bombing TPA Jatiwaringin Berakhir: Benarkah Sudah Tuntas atau Sekadar Redam Api?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Operasi Water Bombing TPA Jatiwaringin Berakhir: Benarkah Sudah Tuntas atau Sekadar Redam Api?
BAGIKAN:

TANGERANG – Setelah melalui perjuangan intensif selama beberapa hari, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menghentikan operasi pemadaman udara menggunakan empat helikopter water bombing di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Sabtu.

Keputusan penghentian operasi ini diambil setelah pemantauan melalui drone thermal menunjukkan tidak adanya lagi titik api atau hotspot yang terdeteksi di area TPA. Kepala Bidang Pengendalian Taktis dan Evaluasi Operasi BNPB, Riswandi, menegaskan bahwa situasi saat ini telah terkendali.

"Berdasarkan hasil pemantauan drone thermal yang dilakukan semalam, sudah tidak ada lagi titik api ataupun hotspot di TPA Jatiwaringin. Karena itu hari ini kami sudah tidak lagi melakukan operasi water bombing," ujar Riswandi dalam keterangannya di Tangerang.

Meski armada udara telah ditarik, BNPB menekankan bahwa fase kritis belum sepenuhnya berakhir. Fokus operasi kini bergeser pada proses pembasahan dan pendinginan skala besar. Langkah ini krusial untuk memastikan tumpukan sampah tetap lembap, guna mencegah terjadinya re-ignition atau munculnya kembali api dari dalam tumpukan sampah yang masih panas.

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan memberikan apresiasi tinggi terhadap penanganan bencana ini. Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan Kemenhut, Suharyono, menyebut keberhasilan pemadaman ini sebagai potret kolaborasi yang ideal antara pemerintah pusat, daerah, dan lintas kementerian di bawah orkestrasi Bupati Tangerang.

Suharyono juga melaporkan bahwa personel Manggala Agni yang telah dikerahkan selama delapan hari penuh berada dalam kondisi sehat dan memastikan seluruh titik panas telah dinyatakan bersih. "Alhamdulillah, perkembangan hotspot hingga tadi malam sudah clear. Artinya kebakaran telah selesai," pungkasnya.

Analisis Redaksi: Budi Santoso

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola manajemen bencana di Indonesia, saya melihat ada narasi yang terlalu terburu-buru dalam merayakan "keberhasilan" ini. Memang benar, secara teknis, api telah padam dan hotspot hilang dari radar drone thermal. Namun, kita harus bertanya: Mengapa TPA Jatiwaringin bisa terbakar sedemikian hebat hingga membutuhkan intervensi empat helikopter water bombing? Ini bukan sekadar kecelakaan alam, melainkan alarm keras mengenai kegagalan manajemen limbah di tingkat daerah.

Penggunaan helikopter adalah solusi curative (pengobatan) yang sangat mahal. Mengalokasikan anggaran besar untuk memadamkan api di atas tumpukan sampah adalah sebuah ironi jika kita tidak membenahi sistem tata kelola sampah dari hulu. Kebakaran TPA biasanya dipicu oleh akumulasi gas metana yang tidak terkelola dengan baik. Jika pemerintah hanya bangga pada "kolaborasi pemadaman" tanpa melakukan audit menyeluruh terhadap sistem ventilasi gas metana di TPA tersebut, maka kejadian serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.

Saya juga mengkritisi pernyataan bahwa koordinasi telah berjalan "sangat baik". Dalam dunia investigasi, pujian prematur seringkali menjadi tabir untuk menutupi kelalaian awal. Kita perlu menginvestigasi apakah ada pengabaian standar operasional prosedur (SOP) sebelum kebakaran terjadi. Apakah pengawasan terhadap potensi titik api di musim kemarau sudah dilakukan? Ataukah pemerintah baru bergerak reaktif setelah api menjadi tak terkendali dan mengancam pemukiman warga?

Prediksi saya, jika proses pendinginan ini tidak dilakukan secara konsisten dan komprehensif, risiko kebakaran bawah tanah (smouldering fire) tetap ada. Sampah yang tertumpuk puluhan meter memiliki karakteristik panas yang terperangkap. Jangan sampai setelah helikopter pulang dan sorotan kamera hilang, api muncul kembali dari dasar tumpukan. Pemerintah Kabupaten Tangerang harus berani bertransformasi dari sekadar "pemadam kebakaran" menjadi "pengelola risiko". Tanpa perubahan paradigma, TPA Jatiwaringin akan tetap menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.