⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.2 di 56 km SSW of Sarangani, Philippines pada 12/7/2026, 00.49.31. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Momen Mengharukan Era Lolita Bareng Gary Iskak di Film Horor ‘LASTRI’: Kenangan Manis di Balik Syuting!

Selebriti
Ayu LestariAyu Lestari
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Momen Mengharukan Era Lolita Bareng Gary Iskak di Film Horor ‘LASTRI’: Kenangan Manis di Balik Syuting!
BAGIKAN:

Siapa sangka, debut layar lebar Era Lolita yang dulu lebih dikenal lewat FTV akhirnya jadi sorotan utama setelah ia terjun ke film horor LASTRI: ARWAH KEMBANG DESA. Bukan cuma karena peran pertamanya sebagai kru film yang kesurupan, tapi juga karena ada satu nama senior yang bikin suasana syuting jadi hangat: almarhum Gary Iskak.

Era mengaku, proses masuk ke LASTRI dimulai dari ajakan sahabatnya, Audy Bella, yang membuka open casting. "Walau Audy temen, aku tetap harus lewat jalur casting seperti orang lain," katanya sambil tersenyum di XXI Epicentrum, Kamis (9/7). Dan ternyata, nasib menjemputnya jadi Indri, kru film yang tiba‑tiba terperangkap dalam dunia arwah Lastri.

Syuting di Lumajang memang menantang, apalagi dengan cuaca yang kadang bikin kulit terasa seperti dipanggang. Namun, yang paling berkesan bagi Era bukan sekadar efek suara atau makeup menakutkan, melainkan kehadiran Gary Iskak. "Dia selalu berhasil mencairkan suasana, meski kondisi kesehatannya lagi menurun," ujar Era. Gary, yang memang dikenal sebagai aktor senior yang ramah, tetap menyapa kru dengan senyum lebar dan candaan ringan, membuat semua orang merasa nyaman meski berada di lokasi yang seram.

Kenangan itu kini menjadi harta berharga bagi Era. Setiap kali ia mengingat momen itu, senyum Gary seakan kembali menghiasi set, mengingatkan kita bahwa di balik horor sekalipun, ada kehangatan manusia yang tak lekang oleh waktu.

Opini Mendalam

Melihat kembali perjalanan karier Era Lolita, kolaborasinya dengan Gary Iskak dalam LASTRI bukan sekadar kebetulan. Ini menandai transisi penting dari dunia FTV ke layar lebar, sekaligus menegaskan bahwa jaringan persahabatan di industri hiburan Indonesia masih sangat kuat. Gary, meski berada di fase akhir kariernya, tetap menunjukkan profesionalisme yang menginspirasi generasi muda. Sikapnya yang tetap ramah dan menghibur meski sedang sakit menegaskan nilai-nilai etika kerja yang jarang terlihat di era serba cepat ini.

Dari sudut pandang produksi, kehadiran aktor senior seperti Gary dapat menjadi katalisator moral bagi tim. Ia bukan hanya sekadar pemeran, melainkan "penyambung energi" yang membantu menjaga semangat kru tetap tinggi. Ini penting terutama dalam genre horor, di mana atmosfer tegang dapat memengaruhi performa aktor. Gary berhasil menyeimbangkan ketegangan dengan humor, sehingga hasil akhir film tidak hanya menakutkan, tetapi juga terasa manusiawi.

Ke depannya, saya memprediksi bahwa kolaborasi lintas generasi seperti ini akan semakin sering terjadi. Generasi milenial dan Gen Z yang kini mendominasi layar lebar membutuhkan bimbingan serta contoh dari veteran industri. Jika produser dan sutradara dapat memfasilitasi interaksi semacam ini, tidak hanya kualitas akting yang akan meningkat, tetapi juga budaya kerja yang lebih inklusif dan suportif.

Terakhir, bagi para penonton, kenangan Era tentang Gary bukan sekadar nostalgia. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap film, ada cerita manusia yang lebih dalam—kisah persahabatan, dedikasi, dan semangat yang tak pernah padam. Semoga film LASTRI: ARWAH KEMBANG DESA tidak hanya menjadi tontonan seram, tetapi juga menjadi saksi bisu dari nilai‑nilai kebersamaan yang menginspirasi generasi selanjutnya.