Mimpi Besar Ayla Dva Khala Ahisma: Dari Sleman ke Panggung Liga Prancis, Tantangan dan Realita Sepak Bola Putri Indonesia
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Kudus (ANTARA) – Ayla Dva Khala Ahisma, pemain muda dari Cipta Cendikia Football Academy (FA), kini menjadi sorotan utama di Hydroplus Soccer League (HSL) All‑Stars 2025/2026. Berusia 14 tahun, ia menapaki jalur yang jarang dilalui oleh remaja putri Indonesia: meninggalkan orang tua, menata hidup mandiri, dan berjuang melawan cedera demi satu tujuan – menembus panggung sepak bola profesional, bahkan mengincar liga putri Prancis.
Berawal dari Sekolah Sepak Bola (SSB) di kelas lima SD, Ayla tak lagi menganggap bola sebagai sekadar permainan. "Sejak mengikuti SSB saya sudah harus berani jauh dari orang tua, hidup mandiri, kerja keras, serta terus belajar berkomunikasi dengan tim," ujarnya dengan tegas. Keberaniannya kini teruji di turnamen yang mempertemukan talenta putri terbaik dari seluruh Indonesia, sekaligus menjadi mata pencarian tim nasional usia muda.
Turnamen HSL All‑Stars di Kudus bukan sekadar kompetisi; ia menjadi arena penentu nasib bagi banyak pemain yang mengandalkan sorotan media untuk menggapai beasiswa, kontrak klub, atau bahkan peluang bermain di luar negeri. Bagi Ayla, setiap menit di lapangan adalah bukti bahwa pengorbanan meninggalkan kampung halaman dan menanggung beban hidup sendiri tidak sia‑sia.
Namun, di balik kisah inspiratif ini, terdapat pertanyaan mendasar tentang ekosistem sepak bola putri di Indonesia. Infrastruktur yang masih terbatas, kurangnya sponsor, serta minimnya program pengembangan berkelanjutan menempatkan pemain muda seperti Ayla dalam posisi yang rawan. Tanpa dukungan struktural, bakat yang bersinar di turnamen regional berisiko terhenti sebelum mencapai puncak potensinya.
Keberhasilan Ayla di HSL menyoroti dua hal penting: pertama, kualitas pelatihan di akademi‑akademi lokal yang mampu menghasilkan pemain berstandar internasional; kedua, kebutuhan mendesak akan kebijakan pemerintah dan federasi yang lebih pro‑aktif dalam memfasilitasi transisi pemain putri ke liga profesional, baik domestik maupun luar negeri.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis investigasi yang telah menelusuri dinamika olahraga Indonesia selama lebih dari satu dekade, saya melihat fenomena Ayla sebagai cerminan kegagalan sistemik yang lebih luas. Sementara pemerintah dan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) sering mengumumkan program pengembangan sepak bola putri, implementasinya masih terfragmentasi. Tanpa alokasi anggaran yang memadai, fasilitas latihan yang layak, serta jalur karier yang jelas, pemain muda terpaksa mengandalkan inisiatif pribadi atau dukungan terbatas dari akademi swasta.
Lebih jauh, ketergantungan pada turnamen tunggal seperti HSL untuk menilai potensi pemain menimbulkan bias seleksi yang berbahaya. Talenta yang tidak dapat tampil pada momen tersebut karena cedera atau faktor logistik dapat terlewatkan, mengakibatkan kehilangan aset manusia yang berharga. Oleh karena itu, diperlukan sistem scouting berkelanjutan yang melibatkan klub, sekolah, dan lembaga pendidikan, serta data analitik yang transparan.
Jika Indonesia ingin memproduksi pemain putri yang mampu bersaing di liga top Eropa, langkah selanjutnya harus melampaui pujian sesaat. Pemerintah harus mengintegrasikan sepak bola putri ke dalam kebijakan olahraga nasional, menyediakan beasiswa khusus, serta memfasilitasi pertukaran pelatih dengan negara‑negara yang telah sukses mengembangkan liga wanita. Hanya dengan pendekatan holistik, kisah Ayla tidak akan menjadi anomali, melainkan contoh standar baru bagi generasi mendatang.
Terakhir, peran media tidak boleh diabaikan. Liputan yang mendalam, kritis, dan berkelanjutan tentang tantangan yang dihadapi pemain putri akan menambah tekanan publik pada pembuat kebijakan untuk bertindak. Ayla Dva Khala Ahisma bukan hanya seorang atlet; ia adalah simbol harapan yang menuntut perubahan struktural. Jika Indonesia serius mengangkat sepak bola putri ke level internasional, maka dukungan harus dimulai dari akar – pendidikan, fasilitas, dan kebijakan – bukan sekadar sorotan sesaat di turnamen.
BERITA TERKAIT

Jakarta Kedua Terburuk di Dunia: AQI Mencapai 174, Warga Dihimbau Tingkatkan Perlindungan

Serunya KPop Demon Hunters Sing‑Along di Jakarta: Apa yang Bakal Kamu Rasakan?
