Jakarta Kedua Terburuk di Dunia: AQI Mencapai 174, Warga Dihimbau Tingkatkan Perlindungan

Berita Nasional
Rina WijayaRina Wijaya
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Jakarta Kedua Terburuk di Dunia: AQI Mencapai 174, Warga Dihimbau Tingkatkan Perlindungan
BAGIKAN:

Jakarta, 10 Juli 2026 – Pada Sabtu pagi, indeks kualitas udara (AQI) di ibu kota Indonesia melonjak ke angka 174, menempatkan kota ini pada peringkat kedua terburuk di dunia setelah Kinshasa, Kongo. Data ini diambil dari situs pemantau kualitas udara internasional IQAir pada pukul 05.53 WIB, dengan konsentrasi partikel halus (PM2.5) mencapai 89 µg/m³.

Angka 174 masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, artinya orang dengan penyakit pernapasan, anak-anak, lansia, dan hewan yang rentan dapat mengalami gangguan kesehatan serius. Dampak bagi tumbuhan dan estetika lingkungan juga tidak dapat diabaikan.

IQAir menyarankan warga untuk menghindari aktivitas luar ruangan, memakai masker N95 atau setara, serta menutup jendela untuk mencegah masuknya udara tercemar. Sebaliknya, kategori baik (PM2.5 0‑50 µg/m³) tidak menimbulkan efek kesehatan, sementara kategori sangat tidak sehat (200‑299 µg/m³) dan berbahaya (300‑500 µg/m³) dapat mengancam kesehatan populasi secara luas.

Berikut urutan lima kota dengan AQI terburuk pada hari itu:

  1. Kinshasa (Kongo) – 198
  2. Jakarta (Indonesia) – 174
  3. Kuwait City (Kuwait) – 169
  4. Johannesburg (Afrika Selatan) – 151
  5. Kampala (Uganda) – 145

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaku telah menyiapkan respon cepat menjelang musim kemarau (Mei‑Agustus). Langkah-langkah yang direncanakan meliputi peningkatan jaringan pemantau kualitas udara, uji emisi kendaraan bermotor, serta evaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang mencakup tren PM2.5, beban emisi per sektor, dan dampaknya pada kesehatan masyarakat.

Pihak berwenang menegaskan bahwa penanggulangan pencemaran udara tidak dapat dilakukan secara parsial; diperlukan koordinasi lintas‑instansi dan kolaborasi antar‑wilayah di sekitar Jakarta. Namun, hingga kini belum ada kebijakan konkret yang mengikat sektor industri, transportasi, dan pembangunan perkotaan secara menyeluruh.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat bahwa data AQI yang mengkhawatirkan ini bukan sekadar angka statistik semata, melainkan cerminan kegagalan kebijakan jangka panjang. Selama dekade terakhir, DKI Jakarta terus memperluas jaringan jalan, menambah zona industri, dan mengizinkan pembangunan vertikal tanpa standar emisi yang ketat. Sementara itu, upaya penegakan regulasi emisi kendaraan masih lemah; banyak kendaraan tua tetap beroperasi tanpa inspeksi rutin.

Masalah struktural ini diperparah oleh kurangnya transparansi dalam penyebaran data kualitas udara. Meskipun IQAir menyediakan angka real‑time, pemerintah daerah belum mengintegrasikan sistem peringatan dini yang dapat mengaktifkan respons darurat, seperti pembatasan kendaraan bermotor atau penutupan sementara area industri pada puncak polusi.

Jika tidak ada perubahan paradigma, Jakarta akan terus menempati posisi terburuk di Asia Tenggara, menambah beban pada sistem kesehatan publik yang sudah tertekan. Prediksi saya, jika tren ini berlanjut, AQI dapat melampaui 200 pada musim kemarau berikutnya, menggeser kota ini ke dalam kategori sangat tidak sehat secara permanen. Solusi yang diperlukan meliputi: (1) penegakan standar emisi yang lebih ketat untuk kendaraan dan industri; (2) revitalisasi transportasi umum berbasis energi bersih; (3) pengembangan ruang hijau yang dapat menyerap partikel PM2.5; dan (4) partisipasi aktif masyarakat melalui aplikasi mobile yang memberi peringatan real‑time dan rekomendasi tindakan.

Tanpa komitmen politik yang kuat dan kebijakan yang bersifat mengikat, angka 174 akan terus menjadi bukti nyata bahwa kualitas udara Jakarta berada di ambang krisis kesehatan publik. Warga harus menuntut akuntabilitas, sementara pemerintah harus beralih dari retorika ke aksi konkret sebelum napas kota ini menjadi beban yang tak tertahankan.