Krisis Harga Ayam: Strategi Peternak dan Intervensi Pemerintah untuk Menjaga Stabilitas Pasar

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Krisis Harga Ayam: Strategi Peternak dan Intervensi Pemerintah untuk Menjaga Stabilitas Pasar
BAGIKAN:

Jakarta, 6 Juli 2026 – Harga ayam dan telur mengalami tekanan tajam akibat penurunan permintaan, memaksa peternak mencari cara baru untuk melindungi margin. Dalam wawancara eksklusif di program Squawk Box CNBC Indonesia, Direktur Utama PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM), Sri Mulyani, menegaskan peran krusial pemerintah dalam menstabilkan harga dari tingkat peternak hingga pasar akhir.

Menurut Mulyani, kebijakan penetapan harga standar oleh pemerintah menjadi jaring pengaman yang mencegah kerugian peternak ketika pasar mengalami over‑supply. "Tanpa mekanisme penyerapan ini, peternak akan terpaksa menjual dengan harga di bawah biaya produksi, yang pada gilirannya dapat memicu penurunan produksi nasional," ujarnya.

Masalah utama yang dihadapi bukan pada pasokan – yang relatif stabil karena ketersediaan live‑bird – melainkan pada ketidakpastian demand. Untuk mengatasi hal ini, peternak didorong memperluas jaringan distribusi, menambah kapasitas penyimpanan (cold storage), dan mengoptimalkan rantai logistik. Langkah‑langkah tersebut menuntut investasi tambahan, namun dianggap perlu untuk menekan oversupply dan menjaga harga tetap berada pada level yang dapat diterima.

Strategi diversifikasi pasar mencakup penetrasi ke segmen ritel modern, penjualan langsung ke konsumen melalui platform digital, serta eksplorasi pasar ekspor. Semua upaya ini bertujuan menambah titik penjualan sehingga fluktuasi demand dapat di‑smooth‑out secara lebih efektif.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat fenomena ini sebagai manifestasi klasik dari ketidakseimbangan antara supply yang relatif inelastis dan demand yang sangat sensitif terhadap faktor makroekonomi – khususnya inflasi, daya beli konsumen, dan kebijakan moneter. Intervensi pemerintah dalam bentuk harga standar memang dapat menstabilkan pasar jangka pendek, namun risiko jangka panjangnya adalah penciptaan distorsi harga yang dapat mengurangi insentif inovasi pada peternak.

Investasi pada cold storage dan digitalisasi distribusi merupakan langkah strategis yang sejalan dengan tren industri agribisnis global. Penyimpanan yang memadai tidak hanya mengurangi kerugian pasca‑panen, tetapi juga memberi fleksibilitas penjual untuk menyesuaikan penawaran dengan siklus demand. Namun, biaya modal yang tinggi memerlukan dukungan pembiayaan, baik melalui kredit bank dengan suku bunga bersubsidi maupun skema pembiayaan ventura yang menargetkan agritech.

Ke depannya, saya memperkirakan dua skenario utama: pertama, jika pemerintah terus menyediakan jaring pengaman harga, peternak akan lebih fokus pada peningkatan produktivitas dan diversifikasi produk (misalnya, produk olahan). Kedua, bila kebijakan harga standar dilonggarkan, pasar akan mengalami volatilitas yang lebih tinggi, memaksa peternak untuk beralih ke model bisnis yang lebih terintegrasi secara vertikal – mengendalikan mulai dari breeding hingga penjualan akhir.

Kesimpulannya, stabilitas harga ayam tidak dapat dicapai hanya melalui intervensi satu sisi. Kombinasi kebijakan publik yang tepat, investasi infrastruktur logistik, dan adopsi teknologi digital akan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem peternakan yang resilient dan menguntungkan bagi semua pemangku kepentingan.