Festival Lima Gunung XXV: 1.274 Seniman Berkumpul, Tapi Apa Makna Sebenarnya di Balik Tema Kontroversial?
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Magelang, Jawa Tengah – Pada Sabtu (11/7/2026), lereng Gunung Merbabu di Desa Warangan, Pakis, menjadi saksi ribuan mata yang menatap panggung terbuka Festival Lima Gunung (FLG) ke-25. Selama tiga hari, festival ini menampilkan 85 kelompok seni dari seluruh Indonesia dan bahkan satu kolaborasi internasional, dengan total 1.274 seniman beraksi.
Acara yang mengusung tema "Makin Goblok Bareng" ini memang mengundang tawa, namun di balik judul yang provokatif terdapat pertanyaan mendasar: apakah tema tersebut sekadar gimmick pemasaran atau ada agenda sosial yang lebih dalam? Sejumlah penonton melaporkan kebingungan ketika mendengar istilah "goblok" dipadukan dengan semangat kebersamaan, sementara kritikus budaya menilai hal ini sebagai upaya menarik perhatian generasi milenial yang terbiasa dengan bahasa meme.
Berbagai penampilan menonjol, antara lain:
- Penari dari Sanggar Wau Mangel Putro mempersembahkan tari tradisional Warok, menampilkan gerakan yang memadukan kehalusan gerak Jawa dengan energi kontemporer.
- Kolaborasi internasional antara seniman Austria, Thelo, dan komunitas lokal menghasilkan pertunjukan musik eksperimental berjudul Marigold Infinite Stagnation, yang menggabungkan synth elektronik dengan gamelan tradisional.
Festival ini tidak hanya menjadi panggung seni, melainkan juga arena ekonomi mikro. Penjual makanan tradisional, pedagang kerajinan, dan penyedia akomodasi lokal melaporkan peningkatan pendapatan hingga 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, keberhasilan ekonomi ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan: apakah manfaat finansial ini akan bertahan setelah festival usai, atau sekadar lonjakan sesaat?
Di sisi lain, kritik lingkungan muncul dari LSM setempat yang menyoroti potensi dampak ekologis pada ekosistem Gunung Merbabu. Peningkatan sampah plastik, kebisingan, dan tekanan pada jalur pendakian menjadi sorotan utama. Pihak penyelenggara mengklaim telah menyiapkan tim kebersihan dan program daur ulang, namun belum ada data transparan yang dapat diverifikasi secara independen.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa FLG XXV berada pada persimpangan antara kreativitas budaya dan komersialisasi yang berisiko. Tema "Makin Goblok Bareng" memang berhasil menarik perhatian media sosial, namun sekaligus menimbulkan dilema etis: apakah penggunaan istilah yang merendahkan diri sendiri dapat memperkuat solidaritas atau justru menurunkan standar wacana publik? Dalam konteks Indonesia yang masih bergulat dengan isu pendidikan dan literasi, pilihan kata semacam ini dapat memperkuat stereotip negatif.
Selanjutnya, kolaborasi internasional yang ditampilkan oleh Thelo dan komunitas lokal seharusnya menjadi contoh pertukaran budaya yang produktif. Namun, tanpa mekanisme yang jelas untuk melindungi hak cipta dan remunerasi seniman lokal, kolaborasi semacam ini berpotensi menjadi cultural appropriation yang menguntungkan pihak asing lebih banyak daripada seniman Indonesia.
Dari perspektif ekonomi, festival ini memang memberikan dorongan signifikan bagi UMKM setempat. Tetapi, tanpa rencana jangka panjang—seperti pelatihan kapasitas produksi, pemasaran digital, atau pengembangan infrastruktur pariwisata berkelanjutan—pendapatan yang dihasilkan akan kembali ke titik nol setelah acara selesai. Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan festival ke dalam strategi pembangunan wilayah yang lebih luas, bukan sekadar acara tahunan yang berakhir dengan pembersihan sampah.
Terakhir, isu lingkungan tidak boleh diabaikan. Gunung Merbabu adalah kawasan konservasi yang sensitif, dan setiap peningkatan aktivitas manusia harus diimbangi dengan kebijakan mitigasi yang kuat. Saya menyerukan audit independen pasca-festival untuk menilai jejak ekologis, serta penetapan standar operasional prosedur (SOP) yang mengikat semua penyelenggara acara serupa di masa depan.
Kesimpulannya, FLG XXV berhasil menampilkan ragam seni yang mengagumkan dan memberikan manfaat ekonomi jangka pendek. Namun, keberhasilan ini harus diukur dengan standar etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial yang lebih tinggi. Hanya dengan pendekatan yang holistik, festival seni dapat menjadi katalisator perubahan positif bagi budaya, ekonomi, dan lingkungan Indonesia.
BERITA TERKAIT

Misi 'Damai' atau Hegemoni? AS Kirim Militer ke Lebanon Saat Israel Masih Menduduki Wilayah Kedaulatan

Strategi 'Bakar Uang' Transmart: Full Day Sale Kembali Hadir, Sinyal Agresif Kejar Traffic Konsumen
