Cahaya Surya Akhirnya Menembus Kegelapan Desa Cikawung: Ribuan Rumah Dapat Listrik Gratis dari Program Baznas
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta – Setelah puluhan tahun hidup dalam gelap, warga Desa Cikawung (Kecamatan Tirisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat) kini dapat menyalakan lampu di rumah masing‑masing berkat instalasi panel surya yang dipasang melalui program Rumah Terang milik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Lebih dari seratus kepala keluarga di tiga kampung – Grabyak, Pasir Toroh, dan Cagak Dua – kini menikmati penerangan yang sebelumnya hanya dapat diandalkan pada cahaya redup cempor atau damar.
Lokasi desa yang terisolasi, hanya dapat diakses lewat jalan berdebu yang semakin tak dapat dilalui saat hujan, menjadi faktor utama mengapa jaringan listrik PLN belum pernah menjangkau wilayah ini. Mayoritas penduduknya adalah petani padi dan mangga yang bekerja di lahan milik Perhutani, dengan pendapatan yang sangat bergantung pada musim panen. Keterbatasan energi listrik selama ini mengekang aktivitas rumah tangga, pendidikan anak, dan produktivitas ekonomi.
Program Rumah Terang yang digulirkan Baznas bersama Listrik Mandiri Rakyat (Limar) menyediakan satu paket lengkap untuk setiap rumah tangga: panel surya, lima lampu LED berdaya 1 W (setara 10 W konvensional), baterai akumulator, serta kabel‑kabel pendukung. Meskipun daya lampu terkesan kecil, teknologi LED modern memungkinkan pencahayaan yang cukup terang untuk membaca, belajar, atau bekerja hingga malam hari, dengan masa pakai lebih dari satu dekade.
"Selama 25 tahun saya hidup hanya dengan cempor, asapnya banyak dan minyaknya mahal," kata Onoh (45 tahun), salah satu penerima paket. "Sekarang, ketika lampu menyala, rasanya seperti mendapat kemewahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya." Perubahan serupa dirasakan oleh warga lain, termasuk Emik (52 tahun), yang menilai cahaya surya bukan sekadar penerangan, melainkan simbol harapan baru bagi generasi yang akan datang.
Program ini tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga melibatkan komunitas lokal dalam proses produksi dan perawatan. Lampu Limar diproduksi oleh santri di beberapa pesantren, pemuda desa, serta mantan narapidana yang telah mengikuti pelatihan keterampilan. Pendekatan ini menambah nilai sosial dan ekonomi, sekaligus memperkuat rasa memiliki atas infrastruktur yang dibangun.
Ketua Baznas RI, Sodik Mujahid, menegaskan bahwa akses energi merupakan kebutuhan dasar yang membuka peluang pendidikan, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kualitas hidup. "Listrik bukan sekadar cahaya, melainkan pintu gerbang menuju pembangunan berkelanjutan," ujarnya.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua dimensi penting yang perlu mendapat sorotan lebih kritis. Pertama, keberlanjutan program ini bergantung pada mekanisme pemeliharaan panel surya yang masih memerlukan pengetahuan teknis. Tanpa pelatihan lanjutan atau dukungan teknis berkelanjutan, risiko kerusakan atau penurunan efisiensi dapat mengembalikan warga ke kondisi semula. Oleh karena itu, Baznas harus menjamin adanya tim teknis lokal yang terlatih, serta menyediakan suku cadang yang mudah diakses.
Kedua, program Rumah Terang menyoroti kesenjangan kebijakan energi nasional yang masih mengandalkan jaringan listrik konvensional. Desa‑desa terpencil seperti Cikawung menunjukkan bahwa model desentralisasi energi terbarukan bukan sekadar alternatif, melainkan keharusan. Pemerintah pusat perlu mengintegrasikan skema serupa ke dalam kebijakan energi nasional, termasuk insentif fiskal bagi produsen panel surya lokal dan regulasi yang mempermudah pendirian mikro‑grid.
Selanjutnya, penting untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap indikator sosial‑ekonomi: peningkatan angka partisipasi pendidikan, produktivitas pertanian, dan pendapatan rumah tangga. Data empiris masih minim, sehingga evaluasi independen diperlukan untuk memastikan bahwa bantuan tidak hanya bersifat simbolik, melainkan menghasilkan perubahan struktural. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi di ribuan desa lain yang masih terperangkap dalam “tuna cahaya”.
Akhirnya, program ini menegaskan peran strategis zakat sebagai instrumen pembangunan. Namun, transparansi penggunaan dana zakat harus dijaga dengan audit publik yang ketat, agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Bila dikelola dengan baik, sinergi antara lembaga keagamaan, inovasi teknologi, dan partisipasi komunitas dapat menjadi blueprint bagi pembangunan energi berkelanjutan di Indonesia.
BERITA TERKAIT

Penggeledahan Rumah Sentul: Polisi Temukan Emas 74 kg & Uang Rp476 Miliar, Siapa Sebenarnya Pemiliknya?

Pengunduran Diri Jampidsus Febrie Adriansyah: Skandal Emas Batangan dan Uang Tunai Mengguncang Kejaksaan
