Upland Project Ganda: Panen Bawang Merah Meningkat, Tapi Apa Harga Sebenarnya untuk Petani Malang?

Ekonomi
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Upland Project Ganda: Panen Bawang Merah Meningkat, Tapi Apa Harga Sebenarnya untuk Petani Malang?
BAGIKAN:

Program Upland Project yang digulirkan Kementerian Pertanian di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dilaporkan berhasil mengangkat produktivitas bawang merah dari 11 ton per hektar menjadi 16 ton per hektar. Angka tersebut memang menggiurkan, namun di balik statistik ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menyatakan bahwa peningkatan hasil tersebut berkat penyediaan infrastruktur seperti pompa air dan embung penampung hujan. "Kami melihat petani kini dapat menanam tiga kali dalam setahun, bahkan lebih," ujarnya pada kunjungan ke Malang, Jumat lalu.

Data desa mengonfirmasi bahwa sebelum intervensi, musim tanam bawang merah terbatas pada dua periode – Oktober dan Februari. Dengan bantuan proyek, siklus tanam kini dapat dimulai pada Juni, bertepatan dengan musim kemarau, sehingga memungkinkan penanaman tambahan pada bulan lain. Luas lahan pertanian di Tawangsari mencapai 750 hektar, dengan distribusi tanam pertama pada 230 hektar, tanam kedua pada 340 hektar, dan tanam ketiga pada 80 hektar.

Kepala Desa Tawangsari, Miftahul Anwar, menambahkan bahwa selain sarana irigasi, desa juga menerima pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Menurutnya, JUT tidak hanya memperlancar distribusi bawang merah, tetapi juga meningkatkan pendapatan pekerja transportasi lokal, yang kini dapat melakukan empat kali pengangkutan dibandingkan satu atau dua kali sebelumnya.

Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperluas dampak Upland Project ke wilayah lain. Ia menyoroti keberhasilan pengembangan benih bawang merah yang kini dapat dipasarkan ke kecamatan tetangga, seperti Ngantang.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat dua sisi dari keberhasilan yang dipublikasikan ini. Di satu sisi, peningkatan produktivitas memang menunjukkan bahwa investasi infrastruktur dapat memberikan hasil yang cepat. Namun, pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah: apakah peningkatan tersebut berkelanjutan atau hanya bersifat sementara karena subsidi dan bantuan teknis yang intensif?

Pertama, ketergantungan pada pompa air dan embung menimbulkan risiko bila dukungan operasional tidak berlanjut. Petani kecil biasanya tidak memiliki modal untuk memelihara peralatan tersebut setelah bantuan awal berakhir. Tanpa mekanisme pemeliharaan yang jelas, produktivitas dapat kembali menurun dalam beberapa musim berikutnya.

Kedua, peningkatan frekuensi tanam dapat menekan kualitas tanah. Tanah di daerah upland cenderung memiliki kapasitas penahan air yang terbatas, dan penanaman berulang tanpa rotasi tanaman yang tepat dapat mempercepat degradasi kesuburan. Kementan harus menyertakan program rehabilitasi tanah dan pelatihan agronomi yang mendalam, bukan sekadar menyediakan infrastruktur fisik.

Ketiga, manfaat ekonomi yang dijanjikan belum terukur secara transparan. Data tentang peningkatan pendapatan petani, harga jual bawang merah di pasar regional, serta distribusi keuntungan antara petani, pedagang, dan kontraktor belum dipublikasikan. Tanpa akuntabilitas yang jelas, proyek ini berpotensi menjadi contoh “greenwashing” kebijakan publik.

Ke depan, saya menilai bahwa keberhasilan Upland Project harus diikuti dengan audit independen, monitoring jangka panjang, dan keterlibatan komunitas petani dalam perencanaan lanjutan. Hanya dengan pendekatan yang holistik, peningkatan hasil panen dapat berubah menjadi peningkatan kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan bagi petani Malang.