Pasar Jaya Luncurkan GEBER: Janji Bersih yang Menghadapi Tantangan Sampah di Jakarta
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta, 10 Juli 2026 – Perumda Pasar Jaya mengumumkan peluncuran Gerakan Bersama Bersih Pasar (GEBER) di Pasar Induk Kramat Jati, menjanjikan pasar yang lebih bersih, sehat, dan higienis sebagai bagian dari ambisi Jakarta menjadi kota global. Namun, di balik retorika hijau itu, muncul pertanyaan mendasar tentang kesiapan operasional, pendanaan, dan keberlanjutan inisiatif.
Menurut Topik Hidayatulloh, Manager Humas Perumda Pasar Jaya, GEBER merupakan respons konkret terhadap Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang menuntut pemilahan sampah sejak sumber. "Kami telah menyiapkan tempat sampah terpilah di 146 pasar yang dikelola, termasuk pasar induk Kramat Jati, untuk memudahkan pedagang dan pengunjung memulai pemilahan langsung di lokasi," ujar Topik saat acara peluncuran.
Implementasi teknis melibatkan kerja sama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT FBR. Selain itu, Pasar Jaya menugaskan 58 personel Satgas GEBER sebagai pengawas dan edukator lapangan.
Meski tampak ambisius, beberapa aspek penting masih belum terjawab. Pertama, pendanaan untuk pemeliharaan fasilitas pemilahan dan pelatihan petugas belum diungkap secara transparan. Kedua, tidak ada data baseline yang menunjukkan seberapa besar volume sampah yang berhasil dipisahkan sejak program dimulai. Tanpa indikator kinerja yang jelas, GEBER berisiko menjadi inisiatif simbolik semata.
Selanjutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada perilaku pedagang. Di pasar tradisional, kebiasaan membuang sampah sembarangan sudah mengakar selama puluhan tahun. Mengubah pola tersebut memerlukan insentif yang kuat, bukan sekadar kehadiran petugas yang berkeliling. Apakah Pasar Jaya akan menerapkan sanksi atau reward bagi pedagang yang konsisten memisahkan sampah?
Terakhir, kolaborasi dengan pihak swasta seperti PT FBR menimbulkan pertanyaan tentang potensi konflik kepentingan. Apakah perusahaan tersebut akan memanfaatkan sampah pasar untuk keperluan komersial yang menguntungkan, atau benar‑benar berfokus pada pengelolaan lingkungan?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai GEBER masih berada pada tahap pilot yang belum terbukti skalabilitasnya. Tanpa mekanisme audit independen, data pemilahan sampah dapat dengan mudah dimanipulasi untuk menampilkan capaian yang mengesankan. Pemerintah DKI perlu menuntut laporan periodik yang diverifikasi oleh lembaga eksternal, misalnya Badan Pengelolaan Sampah Nasional, untuk memastikan akuntabilitas.
Jika GEBER ingin menjadi model bagi pasar tradisional di seluruh Indonesia, langkah selanjutnya harus melampaui penyediaan tempat sampah. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup edukasi berkelanjutan, insentif ekonomi (misalnya potongan sewa bagi pedagang yang berhasil memisahkan sampah), serta integrasi dengan sistem pengolahan akhir yang transparan. Tanpa itu, program berisiko menjadi greenwashing yang hanya mengisi agenda politik tanpa dampak riil.
Prediksi saya, dalam enam bulan ke depan, akan muncul data awal yang menunjukkan tingkat partisipasi masih di bawah 30 %. Jika tidak ada penyesuaian strategi, GEBER dapat berakhir sebagai proyek yang dihentikan setelah masa percobaan berakhir, meninggalkan pasar kembali pada praktik pembuangan sampah yang sama. Sebaliknya, jika Pasar Jaya mampu menggabungkan teknologi pemantauan digital (misalnya sensor IoT pada tempat sampah) dan melibatkan komunitas pedagang dalam perencanaan, inisiatif ini berpotensi menjadi contoh sukses pengelolaan sampah di ruang publik yang padat.
Intinya, keberhasilan GEBER tidak hanya diukur dari jumlah tempat sampah yang terpasang, melainkan dari perubahan perilaku yang berkelanjutan dan transparansi dalam pelaporan. Jakarta membutuhkan lebih dari slogan bersih; ia memerlukan mekanisme kontrol yang ketat dan komitmen jangka panjang yang dapat dipertanggungjawabkan.
BERITA TERKAIT

Jakarta Barat Gencarkan Sanksi: Korban dan Penyelenggara Lowongan Palsu Dipanggil Minggu Depan
Siti Rahmawati
Polri Bentrok dengan Bisnis di Cipete: Penggeledahan Ruko Ungkap Jejak Pencucian Uang
Siti Rahmawati
Bendungan Meninting Resmi Dibuka: Janji Air Tanah Subur atau Sekadar Panggung Politik?
Dian Kusuma