Kegagalan Putri Tangsel City di HSL All-Stars: Antara Semangat 70% dan Regulasi yang Membelit
Maya Sari
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Kudus (ANTARA) – Tim Putri Tangsel City menutup fase grup Hydroplus Soccer League (HSL) All-Stars U‑18 dengan hasil imbang 1‑1 melawan Arema FC Women, namun gagal melaju ke semifinal. Meski pemain menampilkan mental juara, kegagalan menembus babak lanjutan menimbulkan pertanyaan serius tentang manajemen tim dan kepatuhan regulasi.
Pelatih Saronih, yang memimpin tim, mengakui bahwa "kondisi tim hanya 70 persen" karena sejumlah pemain inti tidak dapat berangkat. Penyebabnya? Kesalahan administratif dalam memahami regulasi turnamen yang mengakibatkan tim kehilangan beberapa pemain kunci. Selain itu, beberapa pemain yang hadir tidak berada dalam kondisi prima, memaksa tim berjuang ekstra di lapangan.
Meski demikian, Saronih memuji mental pemain yang "seribu persen". Ia menilai bahwa setelah jeda babak pertama, Putri Tangsel City justru meningkatkan tekanan pada pertahanan lawan, menghasilkan gol penyama kedudukan pada menit ke‑72 melalui Savaira Rizqin setelah tertinggal lewat gol Oktavia Safara Putri pada menit ke‑66.
Berita ini menegaskan bahwa Arema FC Women menutup grup sebagai juara dengan tujuh poin, sementara Putri Tangsel City mengakhiri di posisi ketiga dengan empat poin. Runner‑up Grup B, Akademi Persib Bandung, mengumpulkan enam poin, dan Samba Persada Women menutup grup tanpa poin.
Debby Alvani Zanaya, bek Putri Tangsel City, menyatakan bahwa pengalaman ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas permainan, dengan target menembus timnas U‑20 atau senior. Namun, harapan tersebut harus diimbangi dengan perbaikan struktural di dalam tim.
Analisis Pakar
Di balik sorotan pada semangat juara, kegagalan Putri Tangsel City menyoroti dua masalah krusial yang sering terabaikan dalam pengembangan sepak bola wanita di Indonesia. Pertama, manajemen administratif yang lemah. Kesalahan dalam memahami regulasi turnamen bukan sekadar kelalaian birokrasi; ia secara langsung menggerus daya saing tim. Ketika pemain inti tidak dapat berpartisipasi, beban fisik dan taktik jatuh pada pemain cadangan yang belum siap, menurunkan kualitas permainan dan meningkatkan risiko cedera.
Kedua, kondisi kebugaran dan persiapan fisik yang tidak optimal. Tim yang hanya beroperasi pada "70 persen" kemampuan fisik tidak dapat bersaing secara konsisten melawan tim yang berada pada puncak kebugaran. Ini menandakan perlunya investasi lebih besar dalam fasilitas medis, program rehabilitasi, serta pemantauan kebugaran harian. Tanpa itu, tim akan terus terjebak dalam pola "semangat tinggi tapi performa rendah".
Jika Putri Tangsel City ingin beralih dari sekadar "berjuang ekstra" menjadi kontender sejati, mereka harus melakukan reformasi struktural. Ini meliputi penunjukan staf administrasi yang berpengalaman, pelatihan regulasi turnamen secara rutin, serta penguatan program kebugaran yang terintegrasi dengan tim medis. Hanya dengan fondasi yang kuat, harapan untuk menembus timnas tidak akan sekadar mimpi, melainkan tujuan yang realistis.
Selain itu, kegagalan ini menjadi cermin bagi seluruh ekosistem sepak bola wanita di Indonesia. Pengelola liga, federasi, dan klub harus bersinergi menciptakan standar operasional yang jelas, memastikan semua tim memiliki akses ke sumber daya yang memadai. Tanpa langkah konkret, prestasi individu akan terus terhambat oleh kelemahan institusional, menghalangi pertumbuhan kompetitif sepak bola wanita di kancah internasional.
BERITA TERKAIT

59 Persen Pilah Sampah dari Sumber? Jangan Terjebak Angka Manis di Tengah Krisis Logistik dan Komitmen di Kepulauan Seribu
Budi Santoso
28 Tim Robot dari Seluruh Nusantara Siap Berlaga di “Kung Fu Quest” KRAI 2026 – Tantangan Besar bagi Unej dan Industri Robotika Nasional
Kevin Sanjaya
Palangka Raya Gencar Siapkan Barikade Anti‑Karhutla Menjelang Musim Kemarau: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Budi Santoso