Gunungkidul Cetak Sejarah: 1.588 Wanita Pecahkan Rekor MURI lewat Senam Penthul Tembem
Budi Santoso
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gunungkidul, Yogyakarta – Pada Jumat, 10 Juli 2026, Kabupaten Gunungkidul menorehkan prestasi luar biasa dengan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Sebanyak 1.588 peserta perempuan berhasil menyelesaikan Senam Kreasi Penthul Tembem secara serentak di kawasan bersejarah Gunung Api Purba Nglanggeran.
Acara yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan delapan tahun Geopark Night Specta ini tidak sekadar menampilkan gerakan fisik; ia menjadi wujud konkret upaya pelestarian budaya lokal melalui olahraga. Penthul Tembem, yang menggabungkan unsur tari tradisional, gerakan senam, dan ritual keagamaan, selama ini terancam punah karena kurangnya generasi muda yang terlibat.
Koordinator panitia, Andi Bagasela, menjelaskan bahwa persiapan memakan waktu lebih dari enam bulan, melibatkan pelatihan intensif, sosialisasi di sekolah-sekolah, serta kolaborasi dengan lembaga kebudayaan setempat. "Kami ingin menegaskan bahwa budaya tidak hanya dipertunjukkan di panggung, melainkan dapat dihidupkan kembali melalui aktivitas yang menyentuh semua lapisan masyarakat," ujarnya.
Rekor MURI yang baru saja diakui mencatat bahwa jumlah peserta tertinggi dalam satu sesi Senam Penthul Tembem sebelumnya hanya mencapai 842 orang pada tahun 2022. Peningkatan hampir dua kali lipat ini menandakan keberhasilan strategi inklusif yang menargetkan perempuan dari berbagai usia, latar belakang, dan wilayah di Kabupaten Gunungkidul.
Namun, di balik sorotan positif, terdapat pertanyaan mendasar mengenai keberlanjutan inisiatif ini. Apakah pencapaian ini akan menjadi fenomena sesaat atau dapat menumbuhkan ekosistem budaya yang mandiri? Bagaimana pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan akan memanfaatkan momentum ini untuk mengamankan dana, pelatihan, serta infrastruktur yang diperlukan?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa pencapaian ini sekaligus mengungkap celah struktural dalam kebijakan kebudayaan daerah. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tampaknya masih mengandalkan acara spektakuler untuk menampilkan budaya, alih-alih membangun program jangka panjang yang menanamkan nilai-nilai tradisi dalam kurikulum pendidikan formal. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, risiko kembali tergerusnya Penthul Tembem tetap tinggi.
Lebih jauh, keberhasilan mengumpulkan hampir 1.600 peserta perempuan menyoroti potensi gender dalam revitalisasi budaya. Selama ini, peran perempuan dalam seni tradisional seringkali terpinggirkan. Inisiatif ini membuka ruang bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan, namun perlu diikuti dengan pemberdayaan ekonomi—misalnya, pelatihan keterampilan produksi kostum, instruktur senam, atau pemasaran budaya secara digital.
Di sisi lain, pencapaian rekor MURI dapat menjadi pedang bermata dua. Sementara publikasi prestasi meningkatkan citra daerah, ada bahaya bahwa fokus pada angka dapat mengalihkan perhatian dari kualitas pelestarian. Rekor semata tidak menjamin bahwa gerakan Penthul Tembem akan dipertahankan setelah sorotan menghilang. Oleh karena itu, penting bagi otoritas lokal untuk mengintegrasikan program monitoring, evaluasi, dan pendanaan berkelanjutan.
Prediksi saya, dalam lima tahun ke depan, jika pemerintah dapat mengkonversi momentum ini menjadi kebijakan struktural—seperti pendirian pusat pelatihan budaya, beasiswa bagi pelaku seni, dan platform pemasaran daring—Gunungkidul berpotensi menjadi model nasional dalam revitalisasi warisan takbenda. Sebaliknya, tanpa langkah konkret, rekor ini berisiko menjadi sekadar catatan sejarah yang cepat dilupakan.
BERITA TERKAIT

Skandal Loker Bodong di Jakarta Barat: Penyalur Klaim Hanya Agen, Identitas Perusahaan Misterius Masih Kabur
Siti Rahmawati
Bendungan Meninting: Solusi Panas Lombok Barat atau Sekadar Janji Pembangunan?
Siti Rahmawati
Kolaborasi POJ‑TOP Rombak Pasar Sewa Mobil Ride‑Hailing: Janji Lapangan Kerja dan Lompatan EV di Jabodetabek
Siti Amalia