Kolaborasi POJ‑TOP Rombak Pasar Sewa Mobil Ride‑Hailing: Janji Lapangan Kerja dan Lompatan EV di Jabodetabek
Siti Amalia
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Jakarta, 10 Juli 2026 – PT Pesonna Optima Jasa (POJ), anak perusahaan Pegadaian Group, menandatangani kesepakatan strategis dengan PT Trans Optima Perkasa (TOP) untuk menambah pasokan kendaraan bagi mitra driver layanan ride‑hailing. Pada hari pertama kerja sama, kedua perusahaan menyerahkan 250 unit mobil siap pakai yang akan langsung dialokasikan ke driver Gojek di wilayah Jabodetabek.
Distribusi armada terbagi menjadi 200 mobil berbahan bakar bensin (Internal Combustion Engine/ICE) dan 50 unit kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Kehadiran mobil listrik bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari upaya kedua perusahaan menurunkan jejak karbon di sektor transportasi perkotaan.
Direktur POJ, Ferry Hariawan, menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menurunkan angka pengangguran dengan menyediakan kendaraan sewaan yang kompetitif bagi driver yang tidak memiliki modal untuk membeli mobil sendiri. "Kami ingin menghilangkan hambatan finansial yang selama ini menjadi penghalang bagi banyak calon driver," ujarnya.
Ferry menambahkan bahwa fase awal ini bersifat pilot project dengan evaluasi tiga bulan. Jika hasilnya positif, POJ dan TOP berencana meningkatkan armada hingga 1.000 unit dalam jangka menengah.
CEO TOP, Agung Beratha, menyoroti potensi pasar penyewaan kendaraan bagi pekerja mandiri yang masih sangat terbuka. Dalam dua tahun beroperasi, TOP telah menyalurkan 1.400 driver dengan armada setara di wilayah Jabodetabek. "Kami tidak hanya menyewakan mobil, melainkan menawarkan paket lengkap: kendaraan terawat, kepastian regulasi, dan jaminan pendapatan," kata Agung.
Permintaan kendaraan listrik di kalangan driver menunjukkan tren naik tajam, mencapai 80 % dari total permintaan. TOP menargetkan 500 unit EV beroperasi pada akhir tahun ini, menandai pergeseran signifikan dalam preferensi operasional driver yang kini lebih menekankan efisiensi biaya harian.
Selain fokus pada mobil roda empat, kedua perusahaan sedang menyiapkan studi kelayakan untuk penyewaan skuter listrik yang ditujukan pada segmen kurir logistik dan transportasi penumpang yang lebih fleksibel. Rencana ekspansi ini mencakup kota‑kota tier‑dua di Indonesia, memperluas jaringan layanan di luar Jakarta.
Analisis Pakar
Kolaborasi POJ‑TOP memang tampak menggiurkan di permukaan, namun ada beberapa dimensi yang perlu diwaspadai. Pertama, model sewa‑beli yang ditawarkan kepada driver masih mengandalkan struktur biaya tetap yang dapat membebani mitra ketika permintaan ride‑hailing menurun, misalnya pada musim libur atau penurunan ekonomi. Tanpa mekanisme fleksibilitas pembayaran, driver berisiko terjerat utang jangka panjang.
Kedua, meskipun 50 unit EV merupakan langkah progresif, proporsi ini masih jauh di bawah kebutuhan pasar yang kini menuntut kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah telah menyiapkan insentif pajak dan subsidi untuk EV, namun perusahaan tampaknya belum memanfaatkan sepenuhnya kebijakan tersebut. Jika tidak ada skema subsidi atau kemitraan dengan penyedia energi, biaya operasional EV (pengisian, perawatan baterai) dapat menjadi beban tambahan bagi driver.
Ketiga, integrasi produk investasi emas Pegadaian ke dalam ekosistem ride‑hailing menimbulkan pertanyaan etis. Menggabungkan layanan keuangan dengan pekerjaan informal dapat menimbulkan risiko over‑leverage, terutama bagi driver yang belum memiliki literasi keuangan yang memadai. Edukasi yang dijanjikan harus bersifat wajib, bukan sekadar promosi pasif, agar tidak berujung pada penjualan produk keuangan yang tidak dipahami.
Terakhir, ambisi ekspansi ke kota‑kota tier‑dua dan penyewaan skuter listrik menuntut infrastruktur pengisian yang masih terbatas di banyak daerah. Tanpa dukungan pemerintah daerah atau investasi infrastruktur publik, target 500 unit EV dan rencana skuter listrik dapat berakhir pada over‑capacity yang tidak terpakai. Oleh karena itu, POJ dan TOP perlu menggarap kemitraan dengan otoritas lokal dan penyedia energi untuk memastikan keberlanjutan operasional.
Secara keseluruhan, inisiatif ini membuka peluang kerja baru dan mendukung transisi energi, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kebijakan fleksibilitas finansial, dukungan infrastruktur, serta edukasi keuangan yang kredibel. Jika kedua perusahaan dapat menanggapi tantangan ini dengan cepat, mereka tidak hanya akan memperkuat ekosistem ride‑hailing, tetapi juga menjadi contoh model bisnis inklusif yang berkelanjutan di Indonesia.
BERITA TERKAIT

Pemakaman Rachmat Gobel: Parade Politik di TMP Kalibata Mengundang Sorotan
Budi Santoso
Ratusan Perusahaan di Pekanbaru Gagal Daftarkan Karyawan ke JKN: Risiko Kesehatan dan Kewajiban Hukum Menggantung
Siti Rahmawati
KAI Sumut Gencarkan Revolusi Perawatan: Balai Yasa Pulubrayan Selamatkan Armada di Tengah Krisis Transportasi
Siti Rahmawati