BNPT Gelar Kemah Bela Negara di Garut: Upaya Menggempur Rekrutmen Terorisme Digital pada Generasi Muda
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Garut, 8‑10 Juli 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Lembaga Jaga Tunas Indonesia menyelenggarakan Kemah Bela Negara di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Acara tiga hari ini menargetkan 100 pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa dengan tujuan utama menyiapkan generasi muda menghadapi ancaman terorisme yang kini beralih ke ranah digital.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan bahwa transformasi teknologi informasi telah mengubah cara kelompok radikal menyebarkan ideologi dan merekrut anggota. "Dulu proses rekrutmen bersifat tatap muka dan tertutup, kini jaringan terorisme memanfaatkan media sosial, platform streaming, bahkan game online untuk menembus ruang pribadi anak‑anak muda," ujarnya kepada wartawan di Jakarta pada Jumat, 12 Juli 2026.
Eddy menyoroti tiga fungsi utama ruang digital bagi terorisme: propaganda, rekrutmen, dan pendanaan. Ia menambahkan bahwa taktik rekrutmen kini semakin halus, dimulai dari interaksi yang tampak biasa – seperti mengundang pemain game untuk bergabung dalam sebuah guild atau mengajak diskusi di forum hobi – sebelum secara bertahap menanamkan narasi radikal.
Menurut BNPT, pelajar dan mahasiswa berada pada titik rawan karena mereka berada pada fase pencarian identitas, sekaligus memiliki akses luas ke perangkat digital. Oleh karena itu, kemah ini menekankan tiga pilar utama: literasi digital kritis, wawasan kebangsaan, dan keterampilan berpikir analitis. Selama tiga hari, peserta diajari cara memverifikasi sumber informasi, mengenali taktik manipulasi daring, serta memahami nilai‑nilai Pancasila dalam konteks globalisasi.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menambahkan bahwa generasi muda adalah garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa di era informasi yang serba cepat. "NKRI bukan warisan yang datang begitu saja; ia adalah hasil konsensus para pendiri yang melampaui perbedaan suku, agama, dan bahasa. Tugas generasi muda adalah melindungi dan memperkuatnya," tegasnya.
Selain sesi teori, kemah ini mengintegrasikan aksi sosial: pemeriksaan kesehatan gratis, distribusi sembako, dan penanaman pohon di daerah aliran sungai. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial sekaligus menolak narasi eksklusif yang sering dipromosikan oleh kelompok radikal.
BNPT berharap bahwa melalui program ini, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi juga memiliki ketahanan mental terhadap penyebaran paham intoleran, ekstremis, dan kekerasan yang dapat berujung pada terorisme.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang telah menelusuri jaringan radikalisasi sejak dekade lalu, saya melihat dua hal krusial yang masih kurang dalam inisiatif seperti ini. Pertama, pendekatan edukatif yang bersifat satu‑arah – dari pemerintah ke warga – belum cukup mengatasi akar penyebab radikalisme, yaitu ketidakpercayaan terhadap institusi dan rasa marginalisasi. Tanpa melibatkan tokoh‑tokoh komunitas lokal, alumni radikal, atau bahkan mantan anggota kelompok teror, program ini berisiko menjadi sekadar formalitas yang tidak menembus lapisan paling rentan.
Kedua, fokus pada literasi digital harus diimbangi dengan kebijakan yang menekan platform digital yang menjadi sarana rekrutmen. Pemerintah belum memiliki kerangka kerja yang jelas untuk menuntut pertanggungjawaban penyedia layanan game atau media sosial atas konten radikal yang tersembunyi di balik algoritma. Tanpa regulasi yang tegas, upaya edukasi akan selalu berada dalam posisi bermain kucing‑kucingan dengan jaringan yang terus beradaptasi.
Prediksi saya, dalam lima tahun ke depan, kelompok teror akan semakin mengintegrasikan teknologi blockchain dan realitas virtual untuk menciptakan ruang “tertutup” yang sulit dideteksi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan generasi muda harus melampaui sekadar pengetahuan tentang cara mengidentifikasi hoaks; mereka harus dibekali dengan kemampuan teknis dasar untuk memahami dan melaporkan aktivitas mencurigakan di platform yang belum diatur.
Terakhir, keberhasilan program ini harus diukur secara kuantitatif, bukan hanya melalui jumlah peserta. BNPT perlu menyusun indikator yang memantau perubahan perilaku daring, tingkat partisipasi dalam kegiatan anti‑radikalisme, serta penurunan kasus rekrutmen di wilayah target. Tanpa data yang transparan, klaim keberhasilan akan tetap menjadi narasi politik yang mudah diputar.
Secara keseluruhan, Kemah Bela Negara di Garut adalah langkah positif, namun harus diintegrasikan ke dalam strategi nasional yang lebih holistik, melibatkan sektor swasta, akademisi, dan komunitas akar rumput. Hanya dengan sinergi lintas sektor, Indonesia dapat benar‑benar memutus rantai rekrutmen terorisme digital sebelum ia menancapkan akarnya pada generasi mendatang.
BERITA TERKAIT

Dua Minggu Pasca-Grebek 12 Lokasi, Polisi Siap Ungkap Tersangka: Korupsi, Suap, Gratifikasi, dan TPPU Dibongkar Secara Bertahap
Siti Rahmawati
Polri Simpan Foto Sitaan, Klaim Privasi: Mengapa Bukti Kunci Disembunyikan?
Siti Rahmawati
Obama Ungkap Gaun Ikonik Michelle yang Membuatnya Terpukau: Simbol Politik atau Sekadar Gaya?
Siti Rahmawati