BNI Gedor UMKM Batik & Kriya ke Level Ekspor: Tiga Perajin Lokal Jadi 'Duta Ekonomi Kreatif' di Puspa Nuswantara 2026

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

BNI Gedor UMKM Batik & Kriya ke Level Ekspor: Tiga Perajin Lokal Jadi 'Duta Ekonomi Kreatif' di Puspa Nuswantara 2026
BAGIKAN:

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bukan sekadar memamerkan produk UMKM di Pameran Puspa Nuswantara 2026—ia sedang membangun ekosistem nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif nasional. Dengan menghadirkan tiga mitra binaan—Kampoeng Laweyan, Batik Kalimasada (Wonogiri), dan Borneo Queen—BNI mengubah pameran sebagai strategic launchpad, bukan sekadar stan promosi.

Yang menarik, dua dari tiga UMKM yang dibawa BNI bergerak di sektor batik, menunjukkan kesadaran strategis bank BUMN ini terhadap posisi batik sebagai ekonomi kreatif berbasis budaya yang memiliki nilai jual global. Kampoeng Laweyan, misalnya, tidak hanya membawa motif tradisional, tetapi memamerkan inovasi eco-batik berbasis malam minyak sawit yang dikembangkan bersama CECT Universitas Trisakti dan RSPO. Ini adalah langkah lompatan: menggabungkan pelestarian budaya dengan prinsip ekonomi sirkular dan tanggung jawab lingkungan—dua hal yang kini menjadi non-negotiable bagi pasar global, terutama Uni Eropa dan AS.

Sementara itu, Batik Kalimasada dari Wonogiri menawarkan keunikan visual melalui motif remukan dan palet warna sogan yang khas. Ini adalah contoh bagaimana kearifan lokal bisa dikemas ulang sebagai aset intelektual yang bernilai tinggi. BNI tidak hanya memfasilitasi pameran, tetapi juga mendorong proses standardisasi, desain adaptif, dan pelatihan pemasaran digital—langkah-langkah yang sebelumnya sering diabaikan dalam program UMKM konvensional.

Yang paling segar adalah kehadiran Borneo Queen dari Palangka Raya: UMKM perhiasan berbasis batu Kalimantan dan pelat kuningan yang mengangkat estetika flora-fauna Borneo. Ini adalah dekonstruksi narasi batik sentris dalam ekonomi kreatif. BNI secara diam-diam mengangkat kekayaan kerajinan non-batik yang selama ini terpinggirkan—padahal Kalimantan memiliki potensi ekspor kriya yang belum dieksplorasi. Dengan desain yang menggabungkan warisan adat Dayak dan estetika kontemporer, Borneo Queen bisa menjadi gateway ke pasar fashion berkelanjutan dan etika budaya.

Menurut Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, partisipasi ini bertujuan memperluas akses pasar dan kolaborasi. Tapi di balik retorika itu, ada sinyal kuat: BNI sedang membangun model pendampingan UMKM berbasis nilai tambah ekspor. Bukan lagi sekadar pelatihan kemasan dan fotografi—tapi penyiapan regulasi, sertifikasi halal, FSSC 22000 untuk produk makanan/minuman (jika diperlukan), hingga akses ke platform B2B internasional seperti Alibaba dan Amazon Handmade melalui ekosistem Danantara Indonesia.

Puspa Nuswantara 2026 bukan akhir, tapi awal dari phase 2 pendampingan UMKM: dari local brand ke national brand, lalu ke global brand. Jika BNI mampu mempertahankan momentum ini, maka program binaan bisa menjadi blueprint baru bagi BUMN lain—bukan lagi sekadar CSR, tapi investasi jangka panjang pada kapasitas produksi nasional.

Opini Mendalam: BNI Sedang Menggulung Peta Jalan Baru Ekonomi Kreatif—Tapi Apakah Ini Cukup?

Sebagai pakar ekonomi makro yang telah mengamati ekosistem UMKM Indonesia selama lebih dari dua dekade, saya melihat partisipasi BNI di Puspa Nuswantara 2026 sebagai terobosan taktis yang cerdas, namun masih terjebak dalam paradigma operasional. Keberhasilan BNI dalam memilih mitra—Kampoeng Laweyan yang inovatif, Kalimasada yang berakar, dan Borneo Queen yang eksentrik—menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang diversifikasi nilai budaya sebagai kekuatan kompetitif. Namun, saya harus menyampaikan kekhawatiran serius: apakah model pendampingan yang berbasis pameran dan stan booth masih relevan di era post-digital, post-pandemi, dan post-inflasi?

Pada dasarnya, BNI telah memetakan jalur yang benar: dari pelestarian budaya (batik, kriya) ke peningkatan daya saing (inovasi produk, desain), lalu ke ekspansi pasar (kolaborasi, distribusi). Tapi di sini terdapat gap struktural yang sering diabaikan: access to finance dan access to market bukanlah dua hal yang terpisah. Kampoeng Laweyan bisa memproduksi malam ramah lingkungan, tapi apakah mereka punya akses ke modal kerja untuk membeli bahan baku sawit berkelanjutan dalam skala komersial? Apakah Kalimasada bisa mempertahankan harga jual yang kompetitif jika biaya logistik dan sertifikasi ekspor tidak diakomodasi? BNI—sebagai bank—masih terlalu fokus pada capacity building, tapi belum cukup agresif dalam menyediakan structured finance for cultural value chains. Misalnya, mengembangkan produk pembiayaan berbasis future receivables dari ekspor, atau skema supply chain financing yang menghubungkan perajin dengan retailer nasional dan e-commerce global secara langsung.

Lebih jauh, saya melihat potensi besar—sekaligus risiko besar—dari integrasi BNI dengan Danantara Indonesia. Jika Danantara hanya menjadi umbrella branding tanpa integrasi operasional, maka partisipasi BNI di Puspa Nuswantara akan menjadi event satu kali yang berhenti di Jakarta Convention Center. Namun, jika BNI memanfaatkan ekosistem Danantara untuk membangun one-stop digital marketplace khusus UMKM kreatif—dengan fitur verifikasi keaslian (blockchain-based provenance), integrasi pembayaran lintas negara, dan logistik terpadu—maka inisiatif ini bisa menjadi ekosistem mandiri yang mengalahkan platform asing seperti Etsy atau Notonthehighstreet. Indonesia punya keunggulan komparatif: kekayaan budaya yang tak tertandingi, basis UMKM yang besar, dan infrastruktur digital yang terus membaik. Tapi keunggulan itu akan sia-sia jika tidak diikat oleh sistem yang memadai.

Terakhir, saya ingin mengingatkan: ekonomi kreatif bukan sekadar industri, tapi ekosistem kehidupan. Ketika kita mempromosikan batik Kampoeng Laweyan atau perhiasan Borneo Queen, kita tidak hanya menjual produk—kita menjual narasi identitas, kearifan lokal, dan keberlanjutan. Jika BNI hanya mengukur keberhasilan dari penjualan di pameran atau jumlah UMKM yang dibina, maka ia telah jatuh ke dalam metric trap. Keberhasilan sejati harus diukur dari: (1) peningkatan produktivitas per kapita perajin, (2) penurunan churn rate UMKM dalam 24 bulan pasca-pendampingan, (3) pertumbuhan ekspor kumulatif, dan (4) keberlanjutan budaya—apakah generasi muda kembali tertarik pada profesi perajin? Jika BNI bisa mengintegrasikan keempat indikator ini ke dalam KPI-nya, maka Puspa Nuswantara 2026 bukan sekadar pameran—ia menjadi awal dari revolusi ekonomi kreatif berbasis nilai.