BNI Angkat UMKM Batik ke Panggung Internasional: Gerakan Sosial atau Strategi Branding?
Ahmad Hidayat
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Jakarta, 10 Juli 2026 – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menampilkan tiga mitra binaannya dalam pameran Puspa Nuswantara 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 8–12 Juli. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari upaya BNI mendukung pelestarian batik, penguatan UMKM, dan pengembangan ekonomi kreatif nasional. Namun, di balik sorotan positif, muncul pertanyaan mendasar tentang sejauh mana inisiatif ini benar‑benar mengangkat kepentingan pelaku kecil versus sekadar memperkuat citra korporasi.
Pameran Puspa Nuswantara 2026 mengusung tema “Rupa Makna Tambal Nusantara” serta tagline “Asli Batiknya, Asli Harganya, dan Asli Perajinnya”. Tema tersebut menekankan keberagaman budaya dan nilai ekonomi batik, namun tidak menjelaskan mekanisme konkret yang akan mengubah struktur pasar yang masih didominasi oleh pemain besar. Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa keikutsertaan mitra binaan merupakan upaya memperluas akses promosi dan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM batik dan kriya lokal.
Dua dari tiga mitra yang dihadirkan bergerak di sektor batik: Kampoeng Laweyan dan Rumah BUMN Wonogiri. Kampoeng Laweyan dipilih karena menjadi pelopor eco‑batik, mengganti lilin tradisional dengan malam berbahan dasar minyak sawit. Inovasi ini didukung oleh CECT Universitas Trisakti dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang mengklaim proses produksi lebih bersih dan ramah lingkungan. Sementara itu, Rumah BUMN Wonogiri menonjolkan motif “remukan” dengan warna dasar sogan, menambah ragam estetika batik tradisional.
Untuk melengkapi pameran, BNI juga menampilkan Borneo Queen, UMKM asal Palangkaraya yang memproduksi perhiasan berbahan batu khas Kalimantan dan pelat kuningan. Produk‑produk tersebut, mulai dari bros hingga kalung, mengusung inspirasi flora dan fauna Kalimantan, menambah dimensi kriya non‑batik dalam rangkaian pameran.
Menurut Okki, pameran ini tidak hanya sekadar ajang promosi, melainkan juga platform kolaborasi dengan institusi dan individu, serta sarana pembelajaran bagi UMKM dalam hal desain, kemasan, dan strategi pemasaran. Ia menambahkan bahwa BNI, melalui sinergi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia, berkomitmen memperkuat sektor produktif, termasuk industri kreatif berbasis budaya.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa inisiatif BNI ini, meski tampak mulia, masih menyimpan sejumlah celah kritis. Pertama, klaim keberlanjutan eco‑batik yang mengandalkan minyak sawit harus dipertanyakan mengingat dampak lingkungan dari perkebunan kelapa sawit yang masih menjadi sorotan global. Apakah BNI melakukan audit independen terhadap rantai pasokan atau sekadar mengandalkan sertifikasi RSPO yang kadang‑kala dipertanyakan integritasnya?
Kedua, keberadaan tiga mitra dalam sebuah pameran berskala nasional tampak simbolik dibandingkan dengan ribuan UMKM batik yang berjuang untuk bertahan. Tanpa mekanisme pendampingan jangka panjang—misalnya akses pembiayaan, pelatihan digital, atau jaringan distribusi—partisipasi ini berisiko menjadi “showcase” sesaat yang tidak menghasilkan dampak struktural.
Ketiga, peran BNI sebagai lembaga keuangan harus dievaluasi secara lebih kritis. Apakah bank ini memanfaatkan pameran ini untuk memperluas basis nasabah korporat atau sekadar meningkatkan citra CSR? Transparansi mengenai alokasi dana, target pencapaian, dan metrik keberhasilan sangat penting untuk menilai apakah program ini memang mengutamakan kepentingan UMKM atau sekadar alat pemasaran.
Keempat, dalam konteks persaingan global, produk batik Indonesia harus mampu bersaing tidak hanya lewat estetika, tetapi juga standar kualitas, inovasi bahan, dan rantai pasokan yang berkelanjutan. BNI dapat berperan lebih proaktif dengan menghubungkan UMKM ke platform e‑commerce internasional, menyediakan fasilitas kredit mikro berbasis teknologi, serta mengadvokasi regulasi yang melindungi hak kekayaan intelektual perajin.
Kesimpulannya, Puspa Nuswantara 2026 menjadi panggung penting bagi BNI untuk menampilkan komitmen sosialnya. Namun, tanpa langkah konkret yang melampaui sekadar pameran, inisiatif ini berpotensi menjadi “green‑washing” yang menutupi kebutuhan mendesak UMKM batik. Pemerintah, lembaga keuangan, dan stakeholder industri kreatif harus bersinergi secara transparan untuk memastikan bahwa dukungan yang diberikan benar‑benar mengubah paradigma pasar, bukan sekadar menambah satu halaman dalam laporan CSR tahunan.
BERITA TERKAIT

Meninggalnya Rachmat Gobel: Dari Dedikasi Politik Hingga Warisan Keluarga yang Kontroversial
Siti Rahmawati
Madiun Distribusikan BLT DBHCHT ke 1.909 Pekerja Rokok dan Tembakau: Transparansi dan Dampak Kesehatan Dipertanyakan
Siti Rahmawati
Teater Koma Revitalisasi ‘Rumah Sakit Jiwa’ Setelah 35 Tahun: Kritik Sosial di Era Digital dan AI
Rio Dewanto