Berapa Sebenarnya Biaya Energi Changan Deepal S05 BEV di Jalan Jakarta‑Sukabumi? Angka Ini Bikin Geger!
Ahmad Hidayat
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

Jakarta (ANTARA) – Pada uji coba media test‑drive yang digelar Selasa (7/7), mobil listrik Changan Deepal S05 BEV menempuh rute Jakarta‑Sukabumi sejauh 172,9 km dengan rata‑rata konsumsi energi 11,7 kWh per 100 km. Data ini diambil langsung dari tampilan head‑unit kendaraan, yang mencatat total penggunaan energi sebesar 20,23 kWh untuk perjalanan tersebut.
Dengan tarif pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang ditetapkan Rp2.466 per kWh, biaya listrik yang diperlukan untuk menaklukkan rute itu hanya sekitar Rp49.900. Angka ini jauh di bawah biaya bahan bakar konvensional untuk jarak yang sama, menimbulkan pertanyaan serius tentang daya saing mobil listrik di pasar Indonesia.
Selama perjalanan, level baterai Deepal S05 turun dari 96 % di Jakarta menjadi 48 % saat tiba di Sukabumi – artinya hampir setengah kapasitas baterai terpakai. Mobil ini dilengkapi baterai berkapasitas 56,12 kWh dengan klaim jarak tempuh teoritis hingga 470 km per pengisian penuh. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa konsumsi energi dapat berfluktuasi tergantung pada kondisi jalan, gaya mengemudi, dan beban penumpang.
Rute Jakarta‑Sukabumi dipilih secara sengaja karena mencakup beragam kondisi jalan yang tipikal di Indonesia: kemacetan perkotaan, jalan tol, serta jalur pegunungan dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam. Pengujian ini bertujuan menilai konsistensi performa, efisiensi energi, serta kenyamanan berkendara dalam skenario yang paling menantang.
Jika dilanjutkan ke rute Jakarta‑Sukabumi‑Bandung, Deepal S05 mencatat konsumsi energi rata‑rata 11,2 kWh per 100 km. Angka ini menempatkan SUV listrik tersebut di antara yang paling hemat di segmen yang sama, sekaligus menegaskan potensi pengurangan biaya operasional bila dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil.
Namun, penting untuk diingat bahwa angka-angka ini bukanlah patokan mutlak. Faktor‑faktor seperti cara mengemudi, kepadatan lalu lintas, kondisi cuaca, serta beban penumpang dapat mengubah konsumsi energi secara signifikan. Oleh karena itu, konsumen harus menilai klaim pabrikan dengan skeptisisme yang sehat.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat dua hal utama yang perlu digali lebih dalam. Pertama, kebijakan tarif listrik yang saat ini masih relatif rendah dibandingkan dengan harga bahan bakar minyak. Jika pemerintah memutuskan untuk menyesuaikan tarif SPKLU ke level yang lebih tinggi, daya tarik biaya operasional mobil listrik seperti Deepal S05 dapat berkurang drastis. Ini menuntut transparansi dan konsistensi regulasi agar industri EV tidak terjebak dalam fluktuasi harga yang tidak terduga.
Kedua, infrastruktur pengisian daya masih terbilang terbatas di luar kota besar. Meskipun SPKLU ada di Jakarta, rute‑rute seperti Sukabumi‑Bandung masih minim stasiun pengisian cepat, yang dapat memaksa pengguna mengandalkan pengisian di rumah atau fasilitas swasta dengan tarif yang belum tentu lebih murah. Pemerintah harus mempercepat pembangunan jaringan pengisian yang merata, termasuk di daerah pegunungan, agar klaim jarak tempuh 470 km tidak menjadi sekadar angka promosi.
Selanjutnya, strategi pemasaran Changan yang menonjolkan efisiensi energi harus diimbangi dengan data independen yang dapat diverifikasi. Saat ini, sebagian besar data yang tersedia berasal dari uji coba internal atau media test‑drive yang belum melibatkan lembaga pengujian pihak ketiga. Tanpa verifikasi eksternal, konsumen berisiko membeli kendaraan dengan ekspektasi yang belum terbukti di kondisi nyata.
Terakhir, persaingan di segmen SUV listrik Indonesia semakin ketat. Produsen lain seperti Hyundai, Nissan, dan Tesla sudah menawarkan model dengan performa serupa atau lebih baik, serta jaringan layanan purna jual yang lebih mapan. Changan harus tidak hanya mengandalkan angka konsumsi energi yang mengesankan, tetapi juga membangun ekosistem layanan, garansi baterai, dan program insentif yang dapat menahan konsumen dari beralih ke merek lain.
Kesimpulannya, Deepal S05 BEV menunjukkan potensi efisiensi yang patut diacungi jempol, namun keberhasilan jangka panjangnya sangat bergantung pada kebijakan energi nasional, pengembangan infrastruktur, dan transparansi data performa. Tanpa dukungan yang memadai, angka-angka menarik ini dapat berubah menjadi sekadar gimmick pemasaran yang mudah dibantah oleh kompetitor.
BERITA TERKAIT

Tragedi Bocah 12 Tahun Tewas Diserang Harimau Sumatra: Kegagalan Pengawasan BBKSDA dan Risiko Kebijakan Hutan Industri
Budi Santoso
Kemnaker Gandeng Bank bjb: Janji Peningkatan SDM atau Sekadar PR Politik?
Dian Kusuma
59 Persen Pilah Sampah dari Sumber? Jangan Terjebak Angka Manis di Tengah Krisis Logistik dan Komitmen di Kepulauan Seribu
Budi Santoso